Sep 19, 2013

Pertanyaan yang Mengganggu

Apa yang membuat seseorang menganggap tulisannya sendiri begitu bagusnya dan disukai banyak orang, sehingga ia memiliki kepercayaan diri untuk menerbitkan buku?

Akhir-akhir ini, pertanyaan tersebut begitu mengganggu pikiran saya. Mengingat di toko buku, tiap kali saya berkunjung selalu saja menemukan buku yang kurang sedap untuk dibaca--malah cenderung mengganggu. Saya penasaran, kenapa orang tersebut begitu berani menerbitkan bukunya itu? Yang pertama, dia sudah mengeluarkan banyak uang terlebih dahulu. Soalnya bukunya terbit di bawah tangan penerbit mayor yang notabene memiliki banyak persyaratan ini dan itu. Selain itu, dia pasti seorang bermuka tebal hingga tanpa malu menerbitkan bukunya yang sangat standar tersebut.

Tidak. Saya takkan menyebut buku mana saja yang saya anggap mengganggu pemandangan di rak buku toko. Menurut saya, ini persoalan yang sangat subjektif.

Iseng saya melemparkan pertanyaan tersebut kepada seorang kawan melalui sebuah pesan singkat. Jawabnya, sepertinya orang tersebut terlampau sering dipuji dan kurang berkawan dengan kritik, sehingga rasa percaya dirinya tumbuh subur. Atau mungkin dogma dari sastrawan Indonesia termahsyur yang pernah dipenjara di tiga rezim berbeda begitu kuat tertanam di benak para (calon) penulis. Karena, kata sastrawan tadi: orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Bisa jadi kawan saya benar. Tetapi penulis macam apa yang punya cita-cita semacam itu, lalu menerbitkan buku banyak-banyak biar ia tidak dilupakan? Saya pikir, jika seseorang menulis buku yang tidak ada artinya buat kehidupan, tak ada pengaruhnya juga. Bahkan, jika buku yang dia bikin cenderung asal-asalan, ia hanya akan mendapat sedikit caci maki, lalu dengan cepat dilupakan.

Bahkan, seorang Franz Kafka memutuskan untuk memusnahkan karya-karyanya sendiri. Lewat testamen kepada sahabatnya, Max Brod, Kafka meminta agar seluruh tulisan yang pernah ia bikin dibakar saja, kecuali satu judul: Betrachtung. Suatu ketika, Kafka berbicara bahwa kita hanya perlu membaca jenis-jenis buku yang sanggup melukai atau menusuk kita. Jika buku yang kita baca tidak membangunkan kita dengan hantaman di kepala, untuk apa kita membaca?

Dalam kasus ini, dunia beruntung karena Brod, alih-alih menuruti permintaan Kafka, justru mempublikasikan karyanya. Kemudian, kita sama-sama mengetahui bahwa Kafka telah membuat karya yang melebihi zamannya. Dia menulis sesuatu yang tidak menarik pada masa itu, tetapi mempunyai manfaat bagi dunia literasi di kemudian hari.

Pertanyaan selanjutnya muncul: apakah buku-buku yang saya nilai dibuat oleh orang-orang dengan tingkat percaya diri yang sangat tinggi itu sama seperti karya Kafka? Bisa jadi banyak orang kini meremehkan buku itu, tetapi beberapa generasi kemudian, anak cucu kita memandangnya dengan takjub sebagai pencapaian monumental yang pernah dihasilkan oleh seorang manusia.

Entahlah. Sepertinya pertanyaan-pertanyaan ini masih akan mengganggu saya untuk beberapa saat lamanya.

Sep 8, 2013

Dadu

God doesn't play dice. He plays poker and always gets straight flush. - a friend of mine

Sejujurnya, saya hampir berhenti menanggapi setelah membaca tulisan Andre (baca: Sepatah Dua Patah Kata yang Tak Terlalu Penting). Karena buat apa melanjutkan hal yang sebenarnya sudah sama-sama kita tahu akan mengarah ke mana. Tetapi kemudian Marli membuat tanggapan lagi (baca: Seteguk Bir dan Susu Kedelai) yang berhasil menggelitik syaraf dan membuat saya gatal untuk kembali membalasnya.

Kali pertama saya ingin menegaskan kembali bahwa apa yang saya keluhkan bukanlah keadaan saya di tempat kerja. Saya sudah menjelaskan hal ini di tulisan kepada Heru (baca: Sedikit Tanggapan Buat Heru Irfanto). Di sana, saya mencoba menampilkan kesombongan yang penuh hiperbola untuk menjelaskan secara tersirat bahwa masalah yang saya deskripsikan (mengenai padamnya listrik setiap hujan dan sinyal susah) bukan berada di tempat saya. Tetapi meskipun itu terjadi di sini, masihkah kita perlu membandingkan siapa lebih banyak kena polusi, siapa lebih jauh dari keluarga, ataupun siapa yang paling pantas mengeluh dan siapa yang boleh tertawa di antara kita semua? Saya kira tidak.

Sep 5, 2013

Sedikit Tanggapan Buat Heru Irfanto


Talk don't change a thing.  - The Temper Trap (Fader, 2009)

Saya merasa senang. Ocehan saya sebelum ini (baca: Als Ik Eens) mendapat tanggapan oleh Heru (baca: Sebuah Erata). Sebabnya, Heru mengerti bahwa saya sedang mengajukan protes. Bahwa di tulisan itu saya sedang menyindir dan dia mencoba untuk "menenangkan" saya. Dia bilang agar saya tak usah lah banyak berandai-andai dan biarkan saja orang-orang yang saya coba sindir berbuat semau dia. Sebab, Heru yang banyak membaca Chairil mungkin mengamini: nasib adalah kesunyian masing-masing.

Saya setuju pada beberapa poin yang dia kemukakan. Tetapi ada poin-poin yang sebaiknya saya jelaskan ulang agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Menurut apa yang saya tangkap, Heru secara tersirat menganggap bahwa isi tulisan saya hanyalah berisi keluh kesah dan rasa iri. Sehingga tidak perlu diteruskan lebih jauh lagi. Benar saya mengeluh, tetapi yang saya keluhkan adalah kelakuan mereka yang kesombongannya melebihi Firaun sehabis menang undian siapa-yang-menjadi-raja di alam sebelumnya. Bukan mengeluh tentang keadaan saya di Bangko yang jauh dari kemacetan ini. Heru salah jika menganggap keluhan saya adalah rasa iri terhadap apa yang dipamerkan oleh kawan-kawan di Jakarta. Untuk Heru ketahui--jika saya mau sombong--saya bisa berkata bahwa tempo hari saya membeli tiket pesawat termahal di akhir pekan hanya untuk menemui seseorang beberapa jam di Jakarta. Setelah itu pulang. Tak ada alasan sama sekali untuk menumbuhkan sifat buruk yang menurut rasulullah laksana "api yang menggerogoti kayu" itu.