Aug 26, 2013

Finis

Seorang pujangga besar Indonesia, pada suatu hari menuliskan potongan-potongan sajak yang begitu pesimistis--bahkan cenderung fatalis. Kata dia, hidup hanya menunda kekalahan. Lantas, buat apa kita bersusah payah meneruskan perjuangan?

***
Saya rasa setiap orang berhak menjadi fatalis pada beberapa kesempatan. Dengan begitu ia bisa sedikit berjarak dengan rasa kecewa dan sakit hati. Perasaan yang menurut Shakespeare berawal dari harapan yang terlalu berlebihan.

Memposisikan diri seperti itu, bukan berarti pasrah total dan hanya berbaring malas di ranjang empuk di rumah. Ia lebih seperti seorang difabel yang nekat bergabung dengan para atlet profesional mengikuti lomba lari. Ia percaya bahwa kalah adalah sebuah keniscayaan, namun tak ada satu halangan pun yang berhasil memaksanya untuk berhenti.

Ia tahu bahwa setiap langkahnya bukan satu perlawanan menuju kemenangan. Sekali lagi, ia tahu: di ujung garis finis sana, ia akan berakhir sebagai pecundang. Mengulang apa yang telah ditanyakan di atas, mengapa ia bersusah payah menyiksa dirinya?

Mungkin ia hanya sedikit merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan apa yang ia mulai.

Ketika nanti ia menjejakkan kaki rapuhnya di garis finis, mungkin ia akan sebentar menangis getir. Menyesali kebodohannya sendiri. Selebihnya, ia berhak berpesta. Ia pantas membuka botol bir dan bersulang. Merayakan kesia-siaan dengan penuh rasa bangga. Tak ada yang pantas mencela dan menghinanya. Tidak seorang pun.

***

Karena hanya dengan menjadi fatalis, kau takkan pernah berani jumawa sebelum benar-benar mencapai garis finis.[]

1 comment: