Aug 30, 2013

Als Ik Eens....

*kalau saya penempatan Jakarta


Dalam berbagai media sosial semacam facebook, twitter, instagram, ataupun juga path, banyak sekali dipropagandakan iklan atau promo-promo dari maskapai penerbangan ataupun juga godaan paket wisata dari banyak pihak. Terutama dari Jakarta ke berbagai tempat di seluruh Indonesia. Pegawai instansi yang pernah mengikuti diklat bela negara, atau katakanlah bahwa mereka adalah pelayan masyarakat, tidak boleh lengah. Bahwa ajakan piknik ini tidak lain adalah jerat kapitalisme yang teramat berbahaya, sekalipun ia menawarkan kegembiraan melepas penat setelah lima hari bekerja keras.

Ditinjau dari segi keuangan, bepergian ke manapun tentulah tidak memiliki satu pun kesalahan. Terlebih apabila orang-orang itu bekerja di tempat basah yang menjanjikan gaji per bulan lebih dari cukup kalau hanya untuk makan saja. Oleh karena itu sudah sepantasnya mereka berlibur, terutama ke tempat-tempat wisata di sekeliling nusantara. Bukankah itu menandakan kecintaan terhadap tanah airnya, tanda rasa ingin tahu terhadap keindahan alam yang telah diperjuangkan nenek moyangnya dengan mengorbankan harta, darah dan air mata? Perjalanan keliling nusantara tentulah akan menimbulkan rasa bangga, bahwa negeri ini adalah tempat terbaik di dunia untuk ditinggali.

Saya bisa menangkap dengan mudah kegembiraan itu. Keinginan yang keluar dari pegawai yang bertempat tinggal di Jakarta itu. Keseharian yang begitu melelahkan tentu membutuhkan penawar yang sepadan. Macet yang panjang, tumpukan kerjaan yang begitu banyak, juga panasnya kamar kos karena tidak difasilitasi dengan pendingin ruangan. Hal-hal semacam itu meskipun telah diluapkan, dikeluhkan  melalui twitter sekalipun, belum sepenuhnya terobati sebelum keluar dari ibukota yang terlalu padat oleh penduduk. Begitu pula dengan saya, kalau penempatan di Jakarta, tentunya akan merayakan hal yang sama.

Alangkah senangnya seandainya saya benar penempatan di ibukota. Alangkah gembiranya memiliki akses termudah di negeri ini. Biarpun macet panjang dan kerapkali diharuskan sabar melihat antrian kendaraan, tentu saja itu tidak seberapa dibandingkan dengan orang-orang yang penempatan di pedalaman, yang harus menempuh berjam-jam menuju bandara. Jangankan untuk berwisata memakai tiket promo di akhir pekan, sekadar pulang kampung pun tak cukup waktu satu hari untuk sekali jalan. Untuk kembali pulang menuju perantauan, tentulah bisa dihitung berapa lama dan melelahkannya. Maka jika saya diharuskan menerima Surat Keputusan untuk bekerja di kota yang telah berjuta kali disumpahserapahi itu, tentulah saya akan menerima dengan hati lapang. Biar bagaimanapun, di sana saya bisa menampilkan kesombongan-kesombongan khas kelas menengah. Saya bisa update path agar semua orang mengetahui saya tengah belanja menghabiskan duit di midnight sale di salah satu mall terkemuka. Saya bisa posting di instagram foto makanan mewah dan indah agar kawan-kawan paham saya hobi nongkrong di kafe mahal di pusat kota. Saya bisa berbuat banyak hal yang akan membuat iri orang-orang yang terpaksa bekerja di kota kecil yang dipenuhi keterbatasan.

Tetapi tidak, tentu saja tidak! Kalau saya penempatan di Jakarta, saya tidak sanggup untuk jadi seperti itu. Memang saya akan tetap bersenang-senang dan melupakan fakta bahwa kapitalisme yang tak terkendali sangatlah berbahaya. Mungkin saya akan tetap mengambil tawaran promo dari maskapai penerbangan tadi. Tetapi mana mungkin saya tega pamer pada kawan, saya sedang berlibur bersama gebetan tercinta di tempat wisata yang begitu menggairahkan sementara dia sedang gundah memikirkan kondisi keluarga yang ia tinggalkan di rumah yang berjarak ribuan kilometer jauhnya. Mana lah saya berani mengirimkan gambar tiket pesawat murah kepadanya sedangkan bandara terdekat dari kota tempatnya bekerja hanya menyediakan pesawat perintis yang tidak setiap hari menjadwalkan penerbangan. Buat dia, saya tahu, tiket promo tidak lebih dari lelucon dunia maya yang justru menyakiti hatinya.

Di situlah terletak, menurut saya, suatu hal yang tidak pantas, satu perbuatan yang tidak tahu malu, tidak senonoh, apabila kita—saya penempatan di Jakarta umpamanya–mengeluhkan hal-hal yang tidak seberapa dan memamerkan sesuatu yang bisa membuat kawan-kawan di perbatasan gelisah. Kita, pertama, akan melukai perasaan dan harga diri mereka. Buat kita, kemacetan di pintu tol, ruangan kerja yang panas akibat tegangan turun sehingga AC tidak bekerja maksimal selalu bisa menjadi apologi kita menyalahkan keadaan. Padahal di sana, kawan-kawan (jika kita masih menganggapnya demikian) kita tidak sempat mengenal macet karena kendaraan pun masih sangat jarang. Menyebabkan dia lebih memilih jalan kaki jauh untuk mencapai tujuannya. Di sana, kawan-kawan kita tidak sempat menyalahkan matinya AC karena listrik pun hampir setiap hari padam sehingga panas dan gerah adalah keniscayaan. Apakah setelah mengetahui fakta itu kita masih berani berkoar-koar bahwa kitalah yang berkorban paling banyak? Apakah masih patut diperbandingkan siapa bekerja lebih baik dari siapa?

Kedua, kesombongan yang sengaja ditampakkan atas fasilitas yang tidak semua orang bisa dapatkan adalah bukti egosentrisme manusia. Karena baik dalam skala kecil maupun besar, sifat itu telah diniscayakan dalam diri setiap dari kita. Namun begitu, tidak sepatutnya keberuntungan (saya tahu banyak yang akan menyangkal bagian ini dengan alasan mereka memperolehnya dengan kerja keras) yang kita peroleh diadu dengan perolehan kawan yang tidak memiliki nasib sama baiknya. Terlebih, dulu kita pernah berjuang dan menderita bersama (baiklah, saya ingin tertawa di bagian ini) menunggu kepastian yang saat ini telah kita dapatkan.

Sejalan dengan pemikiran ini, bukan saja tidak pantas, tetapi sungguh keterlaluan sekali apabila mereka yang di daerah-daerah disuruh ikut menelan informasi sampah dari kaum urban ibukota. Sudahlah mereka memperoleh bagiannya, kesialannya. Dan saat mereka ingin rehat sejenak dengan berselancar di media sosial, tidak perlu lagi dipameri hal-hal tidak penting macam tiket murah yang akan membuat mereka iri. Itu merupakan suatu penghinaan dan pelecehan!

Dan kalau masa-masa promo dan liburan ini telah lewat, masihkah kita akan memamerkan dan mengeluhkan hal yang lain lagi? Itu sungguh terserah. Tak ada seorang pun yang mampu melarang. Toh uang itu kita sendiri, hasil dari keringat kita sendiri. Yang saya tulis di sini hanya soal pantas dan tidak pantas. Sedangkan hak masing-masing orang untuk melakukan yang dimau, selama mereka mampu.

Kalau saya penempatan di Jakarta, sekarang pada saat ini, saya akan menghentikan semua omong kosong ini. Siapa memperoleh apa. Siapa telah bepergian ke mana saja. Saya akan berhenti bertindak takabur terhadap kawan-kawan satu angkatan. Saya akan menasihati sesama dari kita yang berada di Jakarta agar tetap rendah hati dan tidak jumawa. Sungguh kita semua di instansi ini adalah satu rumah satu darah. Tidaklah baik memutuskan tali silaturahmi hanya karena kita telah jauh berpisah.

Kalau saya penempatan di Jakarta, dan terlanjur melakukan hal-hal tadi baik disengaja maupun tidak, saya akan merasa sangat malu. Malu karena pernah berkicau dan menenangkan kawan-kawan angkatan bahwa kita semua adalah satu keluarga, berjuang bersama. Satu nasib satu rasa. Malu karena faktanya setelah penempatan semua terpisah dan menjemput takdirnya masing-masing, saya hanya bisa tertawa ketika banyak kawan belum berhenti meneruskan perjuangannya.

Untunglah saya tidak penempatan di Jakarta. Sehingga saya terbebas dari kewajiban-kewajiban tersebut. Saya tidak perlu menjaga perasaan mereka yang di daerah karena saya pun ada di daerah. Saya tidak perlu malu ngetwit tentang apapun juga. Apalagi karena sesungguhnya sejak awal kita tidak pernah ditakdirkan untuk menjadi keluarga. Masing-masing kita semua tahu: persetan dengan jiwa korsa.


***

tanbihat:  tulisan banyak menyadur dari Als Ik Eens Nederlander Was karya Soewardi Soerjaningrat

5 comments: