Aug 30, 2013

Als Ik Eens....

*kalau saya penempatan Jakarta


Dalam berbagai media sosial semacam facebook, twitter, instagram, ataupun juga path, banyak sekali dipropagandakan iklan atau promo-promo dari maskapai penerbangan ataupun juga godaan paket wisata dari banyak pihak. Terutama dari Jakarta ke berbagai tempat di seluruh Indonesia. Pegawai instansi yang pernah mengikuti diklat bela negara, atau katakanlah bahwa mereka adalah pelayan masyarakat, tidak boleh lengah. Bahwa ajakan piknik ini tidak lain adalah jerat kapitalisme yang teramat berbahaya, sekalipun ia menawarkan kegembiraan melepas penat setelah lima hari bekerja keras.

Ditinjau dari segi keuangan, bepergian ke manapun tentulah tidak memiliki satu pun kesalahan. Terlebih apabila orang-orang itu bekerja di tempat basah yang menjanjikan gaji per bulan lebih dari cukup kalau hanya untuk makan saja. Oleh karena itu sudah sepantasnya mereka berlibur, terutama ke tempat-tempat wisata di sekeliling nusantara. Bukankah itu menandakan kecintaan terhadap tanah airnya, tanda rasa ingin tahu terhadap keindahan alam yang telah diperjuangkan nenek moyangnya dengan mengorbankan harta, darah dan air mata? Perjalanan keliling nusantara tentulah akan menimbulkan rasa bangga, bahwa negeri ini adalah tempat terbaik di dunia untuk ditinggali.

Aug 26, 2013

Finis

Seorang pujangga besar Indonesia, pada suatu hari menuliskan potongan-potongan sajak yang begitu pesimistis--bahkan cenderung fatalis. Kata dia, hidup hanya menunda kekalahan. Lantas, buat apa kita bersusah payah meneruskan perjuangan?

***
Saya rasa setiap orang berhak menjadi fatalis pada beberapa kesempatan. Dengan begitu ia bisa sedikit berjarak dengan rasa kecewa dan sakit hati. Perasaan yang menurut Shakespeare berawal dari harapan yang terlalu berlebihan.

Memposisikan diri seperti itu, bukan berarti pasrah total dan hanya berbaring malas di ranjang empuk di rumah. Ia lebih seperti seorang difabel yang nekat bergabung dengan para atlet profesional mengikuti lomba lari. Ia percaya bahwa kalah adalah sebuah keniscayaan, namun tak ada satu halangan pun yang berhasil memaksanya untuk berhenti.

Ia tahu bahwa setiap langkahnya bukan satu perlawanan menuju kemenangan. Sekali lagi, ia tahu: di ujung garis finis sana, ia akan berakhir sebagai pecundang. Mengulang apa yang telah ditanyakan di atas, mengapa ia bersusah payah menyiksa dirinya?

Mungkin ia hanya sedikit merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan apa yang ia mulai.

Ketika nanti ia menjejakkan kaki rapuhnya di garis finis, mungkin ia akan sebentar menangis getir. Menyesali kebodohannya sendiri. Selebihnya, ia berhak berpesta. Ia pantas membuka botol bir dan bersulang. Merayakan kesia-siaan dengan penuh rasa bangga. Tak ada yang pantas mencela dan menghinanya. Tidak seorang pun.

***

Karena hanya dengan menjadi fatalis, kau takkan pernah berani jumawa sebelum benar-benar mencapai garis finis.[]