May 6, 2013

Untuk Anakku Kelak

*tentang mimpi dan harapan


Anakku sayang,
Kelak, jika kau telah belajar untuk membaca dan mengetahui apa yang telah kutulis ini, mungkin ayah sedang berada jauh di tempat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Menjalani kehidupan dengan momok yang bernama "mutasi" keliling Indonesia sebagai PNS di sebuah kementerian di negeri kita. Ini sungguh bukan mimpi ayah waktu kecil dulu. Namun harus ayah jalani agar bisa mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membayar cicilan rumah, makanan sehari-hari kita, juga biaya sekolahmu yang kian naik tiap harinya.

Perlu sedikit kuceritakan padamu bahwa tempat pertama ayahmu bekerja bahkan belum pernah ayah kunjungi dan dengar namanya sebelumnya. Sebuah kabupaten kecil di daerah Sumatera. Beruntung, di sini ayah temukan banyak kawan baru yang senasib pun sepenanggungan. Mereka adalah orang-orang tangguh yang turut mewarnai hidup ayah. Orang-orang yang rela hidup terpisah jauh dari keluarga dalam menjalani hidup dan hari-harinya. Mungkin sama juga dengan nasib ayah sewaktu kau membaca surat dari ayah ini.

Kelak, ketika kau beranjak besar nanti, kau akan sering marah pada ayahmu ini. Marah tersebab kelewat rindu karena ayah tak bisa setiap hari melihat dan mengelus rambutmu setiap malam sebelum kau berangkat tidur. Untuk satu dan banyak hal, ayah meminta maaf sebesar-besarnya kepadamu. Karena sebuah perintah yang mereka sebut sebagai tugas negara, ayah harus meninggalkanmu di sebuah kota. Agar kau tak perlu ikut takluk pada jarak seperti yang ayah alami bertahun-tahun lamanya. Agar kau bisa menikmati indahnya hidup tanpa harus sering mengucap perpisahan pada kawan-kawanmu.