Apr 24, 2013

Adieu

Ada hal yang menyebalkan dari suatu pertemuan. Sudah tentu karena ia selalu hadir satu paket bersamaan dengan sebuah perpisahan. Perpisahan yang terkadang begitu liris dan tak pernah bisa ditebak kapan ia akan hadir. Dan, meskipun saya telah tahu sedari awal bahwa perpisahan, cepat atau lambat, suatu saat akan hadir, toh mau tidak mau saya merasakan kesedihan saat berhadapan muka dengannya. Apalagi, hati terlanjur berkata bahwa saya telah mendapatkan banyak sekali kenangan yang rasanya akan sukar saya lupakan begitu saja.

Hari Rabu terakhir saya mengenakan seragam di KPP Pratama Purwokerto mungkin menjadi salah satu Rabu tersedih dalam hidup saya setelah kematian nenek pada bulan Juli 2004 yang jatuh pada hari Rabu pula. Saya berdiri sendiri. Menerawang ke sekeliling. Berjalan sepanjang lorong kantor. Naik turun tangga ke ruangan-ruangan. Lalu berpamitan pada seisi kantor. Memang tidak semua pegawai cukup meninggalkan kesan yang berarti selama saya berkantor di tempat itu. Tapi bukankah tak pernah ada bagian yang menyenangkan dari sebuah perpisahan?

***

Adalah salah satu kantor instansi pemerintahan di Purwokerto yang mempunyai nomor kode 521, yaitu Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Purwokerto. Kurang lebih setahun saya bertempat di sana, meninggalkan jejak sidik jari pada mesin presensi tiap pagi dan sore, meski hanya magang dengan status pegawai diperbantukan. Meskipun, saya akui seringkali saya tidak bisa banyak berkontribusi karena saya terlalu malas serta egois hingga tak mau bekerja dengan sepenuh hati dan membantu semaksimal mungkin.

Saya ingat betul pertama kali saya bersama 7 orang kawan duduk di ruang tunggu kantor, menanti apa yang harus kita kerjakan di hari pertama magang. Saling bersalaman dan berkenalan (karena ada beberapa yang baru pernah ditemui kala itu), mendengarkan instruksi dari pimpinan, kemudian bergerombol selama seharian. Hari itu adalah Senin, 5 Maret 2012. Awal perjalanan kami berdelapan magang di KPP 521. Selanjutnya, suka-duka kerap hadir mewarnai hari-hari kami. Makan bersama, bekerja bersama, hingga jalan-jalan dan saling merayakan ulang tahun dengan cara sederhana.

Macam itulah pertemanan yang tak perlu didefinisikan. Seperti kata pencipta kartun Winnie the Pooh, A.A. Milne, tak diperlukan kata-kata sulit atau obrolan panjang untuk mengidentifikasi seseorang bisa jadi teman yang menyenangkan. Ia akan dengan senyum tulus mengajakmu makan siang ketika kamu sedang bosan dengan monotonnya kegiatan sehari-hari, seperti rutinitas pekerjaan kantor misalnya.

Di KPP 521 saya temukan teman-teman macam itu. Tidak hanya teman magang, tetapi juga dari kawan kantor lain yang lebih senior. Teman makan yang selalu ditunggu-tunggu ajakannya. Bukan karena ajakan tersebut bakal berujung dengan traktiran seorang kakak kepada adik-adiknya yang masih memperoleh penghasilan di bawah UMR. Tetapi lebih karena saya bisa memperoleh sesuatu yang baru di tengah kejenuhan. Sesuatu hal menggembirakan di bawah langit kota Purwokerto yang amat kecil. Di sini saya menemukan saudara-saudara baru yang selalu siap saling membantu.

Karena itulah, melalui tulisan ini saya menyampaikan ucapan selamat. Selamat tinggal--sekaligus selamat jalan--pada semua, terutama para teman magang, karena setelah ini kita akan berpisah dan menyebar dari Sumatra hingga pulau Papua. Sejujurnya, ketika saya berdiri sendiri hari Rabu kemarin, ada sedikit rasa sesak yang datang karena saya tak bisa mengucapkan perpisahan secara langsung, berbagi kesedihan dan menangis bersama dengan kalian, kawan-kawan seperjuangan yang sedang menjalani diklat di kota lain.

Kepada Nindita, kepada Supri. kepada Surio, kepada Wisnu, kepada Ari, kepada Agung juga Rinata: rasanya beribu ucapan terima kasih pun tak akan cukup. Kalian semua telah membantu terlalu banyak mulai dari hari pertama kita menjadi satu kesatuan hingga terpisah sekarang, bahkan mungkin kemudian hari. Pada kesempatan ini pula saya hendak meminta maaf atas perilaku-perilaku saya selama kalian mengenal saya. Saya yakin, ucapan dan perbuatan saya telah sering menyakiti hati kalian semua. Kalian mau memaafkan kan?

Setelah percabangan ini, kita harus meneruskan mimpi kita masing-masing, melanjutkan jalan kita sendiri-sendiri tanpa bisa meminta bantuan lagi. Namun suatu saat kita pasti akan bertemu dan kembali berbagi canda.

Kali ini, saya hanya dapat berucap: adieu!

***

post scriptum:
 
Merunut peribahasa, utang harta dapat dibayar, utang budi dibawa mati. Maka, akan ada begitu banyak beban utang yang akan saya bawa hingga mati karena terlalu banyak kebaikan yang saya terima dari teman-teman di KPP 521.

Terima kasih pada mbak Ratna dan mbak Ela, telah menjadi kakak sekaligus tante yang baik. Yang selalu ngemong dan bisa mendinginkan suasana dengan cerita-ceritanya. Terima kasih pada mas Ahmad, dan mas Rasimun atas traktiran-traktiran makan siang dan waktu berbagi pengalamannya. Terima kasih kasih pada mas Kajol untuk candaan-candaannya. Maaf jika mungkin candaan saya terkadang keterlaluan serta selalu mengganggu dengan ikut duduk merokok di ruang server. Terima kasih pada pak Cuncun untuk semuanya. Mungkin beliau takkan membaca catatan ini. Tapi saya hampir menangis justru ketika berpamitan dengan beliau dan memperoleh nasehat yang begitu detil seperti seorang ayah.

Tentu saja tidak lupa saya ucapkan terima kasih pada Simbog Dani dan Arik. Kalian adalah rekan, kakak, sekaligus teman bermain yang sangat menyenangkan. Dari Dani saya yang tak tahu aturan ini bisa belajar sedikit-sedikit ilmu agama dan hal-hal lain. Dari Arik saya bisa menemukan teman ngobrol soal buku dan bacaan. Yang paling penting adalah, pada mereka berdua saya bisa berbagi pengalaman bertualang entah ke mana. Terima kasih buat semuanya. Ah.... suatu saat saya ingin kembali bepergian jauh bersama kalian. :)

0 comments:

Post a Comment