Feb 6, 2013

Wawancara dengan Nuran Wibisono

Aunurrahman Wibisono (akrab dipanggil Nuran) adalah mahasiswa S2 salah satu kampus ternama di Yogyakarta. Di samping itu, dia juga menggeluti berbagai bidang keilmuan. Mas Nuran adalah seorang traveler, pengamat musik, komentator sepak bola, penulis, kritikus, tukang parkir terminal Condong Catur, pengutil gorengan di warung burjo, dan berbagai label yang melekat padanya. Oke. Dua yang terakhir berlebihan. Tetapi selain itu, memang benar adalah seorang Nuran. Tak heran bahwa dia bisa terpilih sebagai Putra Terbaik Jember sepanjang masa.

Pada suatu hari, saya melakukan sedikit wawancara di sela kesibukan mas Nuran mengerjakan thesis. Fokus wawancara kali ini adalah soal musik dan dunia kepenulisan. Untuk apa? Bukan untuk apa-apa. Hanya saja saya sedang tidak ada kerjaan. Sebelumnya saya sempat bertanya melalui twitter terlebih dulu apakah mas Nuran ada waktu luang untuk diwawancarai. Jawabannya sungguh membumi.


Luar biasa. Begitu hangat dan akrab jawaban untuk orang sekelas superstar macam mas Nuran. Maka, tanpa rasa sungkan saya mengajukan wawancara. Karena jauh dan susah mencari waktu luang, akhirnya saya putuskan untuk melakukan wawancara melalui email/skype/instant messenger/mIrc secara imajiner. Baiklah, langsung saja kita simak.

Kenapa menyukai genre Hair Metal atau *so called* musik Rock?
Karena sangar dan terlihat macho. Itu aja sih.

Memang kenapa dengan genre musik lain? Yang mendayu-dayu gitu, misalnya?
Nggak papa. Nggak ada masalah apa-apa saya dengan genre musik lain. Hanya saja jadi kelihatan kurang garang kalo saya mendengarkan musik seperti itu. Masalah selera dan kepantasan saja kok sebetulnya. Masa macan melankolis dan cengeng? Yaa.. You know lah. Walaupun di tengah konser dengan crowd yang sibuk mosh pit pun saya sering terisak haru. Tapi tetep harus keliatan sangar dong. Hehehehehe..

Hahaha. Bisa saja. Lantas apa dong lagu favorit mas Nuran?
November Rain-nya GnR.

Alasannya?
Hati siapa yang tak tergerus melihat Axl Rose yang biasanya garang jadi meratapi kehilangan di tengah hujan di depan makam sang istri? Ah. Kan, jadi sentimentil sendiri. Yang jelas, November Rain memiliki lirik yang getir sekaligus menguatkan, solo gitar yang menakjubkan, string section yang mengiris, semua jadi satu, berkelindan menjadi lagu yang lantas menjadi salah satu mahakarya terbaik dari musik rock.[i]

Ada lagu lokalnya? Saya kurang paham berbahasa Inggris. Maklum lah..
Hmm. Lagu Indonesia yang saya suka ya.. *mas Nuran terdiam agak lama*
Saya pilih Dewa 19 - Takkan Ada Cinta yang Lain.[ii]

Sepertinya ada kesan pribadi terhadap lagu itu? Pernah menanyikan lagu itu untuk kekasih, mungkin?
Pass. Pertanyaan selanjutnya....

Oh iya. Dari tadi mas Nuran pengen terlihat garang dan maskulin, tapi kok menulis? Bukankah itu terlihat feminim dan terkesan snob?
Jancuk! Kata siapa menulis itu pekerjaan snobbish? Enggak lah. Enggak sama sekali. Itu kan cuma stereotip saja. Nggak ada hubungan sama sekali antara menulis dengan kedua hal tersebut. Menulis itu soal passion, soal gaya hidup. Saya menulis karena saya ingin mengarsipkan peristiwa agar tidak tertelan oleh waktu. Itu yang utama.

Sejak kapan mulai menulis?
Sejak SD lah. Kan diajarin tuh sama guru di sekolah. Emang kamu enggak?

Nggg.. Maksudnya, kapan awal memasuki dunia tulis menulis? Ngeblog, bikin artikel, dsb..
Oh gitu. Lupa saya kapan pastinya. Tapi mungkin sejak dulu saya sudah tertarik, meski hanya berada di permukaan. Dan makin tenggelam saat saya memutuskan bergabung dengan Tegalboto, sebuah Lembaga Pers Mahasiswa di Universitas Negeri Jember.

Bisa minta diceritakan sedikit tentang pengalaman menulis ini?
Wah banyak. Pengalaman yang mana? Menang kompetisi menulis esai yang berujung jalan-jalan ke makam Jim Morrison? Menjadi pembicara di kelas akademi berbagi jember? Atau yang lain? Bukannya sombong, tapi kamu kan tau siapa saya. Atau mau saya ceritakan semuanya dan catatan wawancara ini akan jadi panjang?

Waduh. Susah juga ya. Kalau begitu tolong ceritakan intinya saja deh...
Saya juga bingung kalau harus menceritakan pengalaman. Saya hanya seorang yang suka menulis, terutama tentang musik. Saya sama seperti penghobi lain, hanya menuliskan tentang musik yang disuka saja. Hanya berkisar antara musik psychedelic, glam rock, dan hair metal. Tapi saya belajar untuk menjadi penulis yang baik. Seorang penulis yang baik bisa menulis tentang apa saja. Jadi saya terus menulis--selain membaca dengan tekun--agar bisa terus memperbaiki kualitas tulisan saya.[iii]

Ada saran buat yang ragu untuk memulai menulis?
Ragu kenapa? Menulis kan hanya proses menceritakan ulang apa yang ada dalam pikiran, apa yang kamu ingat atau kamu imajinasikan. Tulis ya tulis saja. Nggak usah minder. Harap dicatat: suatu saat, ingatan akan berkhianat. Maka menulislah sekarang juga. By the way, omongan saya yang ini tolong jangan dikutip sembarangan ya. Jangan kaya Dhani kamu. Jadi penulis kutipan!

Hehehe. Oke siap bos. Satu pertanyaan Terakhir. Apa harapan mas Nuran dalam waktu dekat ini?
Menikah!


---

Tanbihat:

[i]pernyataan mas Nuran diambil dari sini.
[ii]lagu dipilih dari postingan mas Nuran yang ini. :P
[iii]pernyataan mas Nuran diambil dari sini.

Wawancara tidak dilakukan secara nyata alias wawancara ini hanyalah imajiner. Saya memohon maaf sebelumnya kepada mas Nuran apabila banyak terdapat salah kata atau menyinggung perasaan. Hehehehehe.

3 comments:

  1. nunggu ada orang yg bikin wawancara ginian dengan objek penderita : Gita. wah, pasti epik.

    ReplyDelete