Feb 12, 2013

Selepas Perbincangan

Kemarin, di halte yang apak oleh debu, di bawah gedung-gedung tinggi, perbincanganku denganmu berselisih jalan. Kamu diam. Sementara aku terus mencerocos sederas hujan yang menghentikan langkah kita berdua.

"Aku telah menanti begitu lama. Aku telah kehabisan kata untuk membuatmu sekadar memahami arah perbincangan ini."

"Mantan kekasihku pernah melakukan yang lebih baik darimu. Tapi tetap tak mengubah fakta bahwa dia sudah menebas kepercayaan yang aku tanam bertahun-tahun lampau. Apalagi kamu. Apalagi perbincangan kita baru berjalan sepenggalah. Bagaimana bisa aku kembali percaya pada orang lain semudah itu?"

"Aku telah bertaruh pada ribuan kilometer jarak sebelumnya hanya untuk bisa berdiskusi denganmu. Untuk membuktikan bahwa aku memang mencintaimu."

"Kamu sendiri yang bilang bahwa dalam cinta, seringkali pengorbanan tak berarti. Masing-masing dari kita punya bahan pertimbangan tersendiri, bukan?

"Tapi bolehkah aku berusaha meyakinkanmu? Hingga saat itu tiba, izinkanlah aku menunggu."

"Entahlah. Aku rasa beberapa orang tak pantas menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu. Termasuk kamu..."

Kemarin, kata telah kehabisan suaranya. Perbincanganku denganmu lindap dalam deram lalu-lalang kendaraan. Bus datang. Hujan reda. Aku dan kamu tertinggal dalam lamunan masing-masing. []

6 comments: