Feb 2, 2013

Mesin Pekicau

Hari-hari ini, twitter begitu menyebalkan buat saya. Ia kerap kali membuat saya menerka-nerka. Meski dalam banyak hal twitter juga menguntungkan. Berita yang begitu cepat terbarui, tautan bacaan yang mencerahkan, atau dalam titik yang paling rendah: gosip antar kawan yang tak pernah terlewatkan. Seorang kawan, dengan penuh sindiran pernah mengatakan bahwa lambat laun twitter akan mengalahkan google karena banalitas para penggunanya. Terutama di Indonesia, para pekicau di lebih senang bertanya di twitter daripada mengetik sebentar di google atau mesin pencari lainnya untuk mencari informasi yang ingin ia ketahui. Untuk membuka buku, saya kira lebih parah lagi. Meski tidak melalui riset terlebih dahulu, saya yakin para pengguna twitter yang rajin update melalui gadget dan ponsel pintarnya jauh lebih malas. Nah, kan. Bahkan di dalam blog saya masih berprasangka!

Ada satu lelucon yang menganalogikan para pegiat internet, terutama pemakai media sosial dengan tipikal orang-orang di bar. Para blogger merupakan orang yang lebih senang duduk di depan bartender. Mereka lebih senang di tempat yang agak sepi, sesekali berbincang dengan kawannya dan lebih butuh didengarkan. Pekicau di twitter adalah orang-orang yang membaur di lantai dansa. Senang dengan keramaian dan lebih suka mencari perhatian. Lalu, bagaimana dengan mereka yang suka berkeluh kesah dan memenuhi beranda facebook? Di mana mereka berada? Ah, mereka di kamar mandi....muntah-muntah.

Kembali ke twitter. Ada beberapa alasan kuat yang menjadikan saya akhir-akhir ini membenci, atau paling tidak berpikir sinis pada satu media sosial yang makin menjadi candu itu. Kebanyakan adalah alasan personal. Penuh tendensi. Kenangan yang rapuh dari masa lalu, sarkasme yang berlebihan, juga humor yang makin terasa basi. Semua orang di twitter, seperti saya katakan di awal, membuat saya seringkali berprasangka dan menerka-nerka. Kebencian, meskipun tidak pernah saya inginkan, seringkali hadir tanpa meminta permisi terlebih dahulu.

Di twitter, dunia di mana kita dapat berbincang-bincang dengan banyak orang tanpa bertemu muka, kita lebih suka meninggalkan sopan santun. Beberapa kali kejadian, ada orang mengicaukan sesuatu yang kontroversial, serempak di-bully, dianiaya secara maya. Kekerasan verbal menjadi hal lumrah. Bila kejadian serupa ada di dunia nyata, akankah kita akan melakukan hal yang sama--mengabaikan norma kesopanan dan rikuh pakewuh, lalu seketika memaki orang yang bahkan belum kita kenal sama sekali? Saya kira tidak. Twitter, tanpa disadari, telah berjasa banyak pada degradasi moral generasi kita.

Selain itu, twitter tanpa ampun memaksa kita (mungkin pronomina "kita" lebih tepat diganti dengan "saya") sedikit demi sedikit berhenti membaca (dalam hal ini membaca buku, bukan membaca lini masa atau artikel online) dan lebih aktif menggerakkan serta mengetuk tombol di ponsel hanya untuk mencari info terbaru apa yang mungkin saya lewatkan. Jauh sebelum itu, Prima pernah ngomel pada saya di twitter. Katanya, saya hanya bisa nyocot parsial tanpa bisa menjelaskan secara runut dan terperinci suatu hal. Dia benar. Meskipun di twitter kita belajar untuk menulis dengan efektif (memang, kita mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan 140 karakternya), tetapi tak pernah ada kicauan yang mampu menjabarkan secara jelas sesuatu topik bahasan, kecuali akhirnya disertai tautan ke artikel yang dimaksud.

Beberapa hal di atas sempat membuat saya vakum berkicau untuk beberapa saat lamanya, beberapa kali. Namun selalu gagal. Terakhir, saya akhirnya memutuskan kembali karena saya sendiri memutuskan mengikuti event #7HariMenulis, yang mengharuskan saya ikut mengkampanyekan gerakan tersebut agar menjadi ramai--seperti di lantai dansa.

Saya kira, opsi terakhir tidak buruk-buruk amat. Saya belajar menulis efisien. Juga memperbanyak latihan menulis di blog, meski terkadang hanya berisi racauan. Saya setuju dengan Prima, ada kebahagiaan ketika mendapati statistik blog melonjak, bertambah drastis, pada suatu hari. Ada rasa senang saat mengetahui postingan terbanyak dilihat telah berganti. Walaupun, harus diakui, kali ini saya mengundang orang secara tidak langsung berkunjung ke blog ini.



Tabik.

9 comments:

  1. Ada kebahagiaan ketika mendapati statistik blog melonjak. — Haha. Setuju sekali.

    ReplyDelete
  2. saya juga tidak mau munafik. Meningkatkan statistik blog adalah salah satu alasan saya mengikuti event ini. Setidaknya blog saya sempat 7 hari berturut-turut ada yang baca

    ReplyDelete
  3. Iya sih. Kalau dipikir-pikir, siapa sih yang ga mau statistik blog-nya naik? Dan ya, saya setuju juga sama kata-kata blogger, Pemerkosaan verbal pun kerap sering terjadi via twitter. Orang jadi lebih berani di twitter. Padahal sewaktu di dunia nyata? Belum tentu ia bisa begitu

    (Visit My Tumblr Blog to here: http://danazumario.tumblr.com/ )

    ReplyDelete
  4. yup event ini memancing view, biasanya views blog gw sehari paling 0-5

    agak jleb juga yah , gw juga termasuk orang yang menjadi lebih berani di twitter, walopun ga berani-berani amat gegara di dunia nyata gw kayak manusia tanpa kata.

    ReplyDelete
  5. kalo selebtwit apa kak git? DJ-nya? atau sexy dancer? =D

    ReplyDelete
  6. Okelah dapet ide nulis nonfiksi gara-gara ini.

    ReplyDelete
  7. menurut hemat saya, selama berpuasa ngetwit mas gita memilih memfokuskan diri utk nulis blog. ketika sudah ada beberapa bahan utk dimasak, kemudian mas gita mendirikan @birokreasi.
    apa benar demikian? :>

    ReplyDelete