Feb 27, 2013

Menjelma Sisifus

Seorang kawan bercerita tentang pengalaman buruknya. Atau, mungkin, buat dia, kata buruk saja tidak cukup. Dia berusaha mengakrabi sesuatu yang ia kenal dengan nama cinta, mencoba bersetia pada orang yang sama. Kurang lebih 4 tahun ia melakukan pendekatan dengan perempuan pujaannya. Sayang, respon yang ia dapat tidak begitu bagus.

Sang perempuan sebenarnya sudah berkali-kali mengirim sinyal negatif. Beberapa kali ia mendapat penolakan. Tetapi kawan saya merupakan tipe pejuang yang kehilangan kata menyerah di tengah hidupnya. Ia terus bersemangat mendekati sang perempuan. Kemarin, untuk kesekian kalinya ia menyatakan cinta. Kesekian kalinya pula ia beroleh penolakan. Ia, tanpa disadari, telah menjelma menjadi perwujudan Sisifus di dunia.

Sisifus adalah tokoh dalam legenda Yunani yang juga dituliskan oleh Camus dalam Le Mythe de Sisyphe, atau lebih dikenal dengan Mite Sisifus. Dia adalah putra raja Aelos dari Thessaly. Di dalam legenda, digambarkan bahwa Sisifus membikin banyak kekacauan sehingga ia dimusuhi para dewa. Dia bahkan berani membuat murka Dewa Pluto. Sehingga, cerita yang kita dapati selanjutnya adalah, Sisifus akhirnya memperoleh hukuman abadi. Ia dikutuk untuk selalu mendorong batu ke atas gunung. Namun, setiap menjelang puncak, batu itu menggelinding ke bawah jurang dan Sisifus kembali mendorongnya. Begitu seterusnya.

Sisifus merupakan pengingat bahwa hidup sejatinya adalah repetisi atas sebuah kegagalan.

Manusia, dalam hidup, seringkali menghadapi keadaan di mana ia merasa kewalahan dengan masalah yang tengah ia hadapi. Seberapa pun ia berusaha, tak juga ditemukan jalan keluar atas permasalahannya tersebut. Walau begitu, ia tetap nekat menjalani dengan harapan suatu saat apa yang tengah dihadapinya saat itu akan takluk. Gagal. Lalu bangkit. Kemudian gagal lagi. Sisifus adalah refleksi bahwa manusia, dengan berbagai kekurangan dan sifat buruknya, mempunyai tekad yang tak kalah besar dengan akumulasi masalah yang dipunyai. Mungkin ini yang dimaksud Nietzsche dalam konsepnya yang termahsyur: der wille zur macht. Kehendak untuk kuasa.

Oleh sebab itu,  Albert Camus, dalam esai filsafatnya mengajak kita masuk ke dalam absurditas pemikirannya. Kita, oleh Camus, wajib mengasumsikan Sisifus, manusia yang terobsesi pada gelimang keindahan dunia, berbahagia walaupun ia sedang menjalani kutukan untuk melakukan pekerjaan sia-sia itu. Berusaha adalah takdir yang harus dipikul seorang diri oleh masing-masing manusia sebelum bisa memperoleh apa yang ia inginkan. Berhasil atau gagalnya usaha merupakan persoalan lain. Namun, dalam melakoni takdir yang telah dibebankan pada kita--berusaha, kita bisa memilih untuk menyikapi dengan berbahagia atau berduka. Bersedih ataupun tertawa.

Namun, Sisifus mengajarkan hal lain yang kerap dilupakan oleh pembacanya. Mitos kuno tersebut, melalui pesan yang teramat jelas, mendiktekan sebuah nasihat: kita tak harus menghabiskan seluruh usia kita untuk mengusahakan hal yang tak mungkin terwujud. Beberapa masalah telah ditentukan untuk tidak bisa ditaklukkan. Ada persoalan dan impian yang terlalu jauh dan tak tergapai oleh daya manusia yang terbatas. Dalam hal ini, saya kira motivator terbaik pun tak bisa membantu banyak. Sebab, bagaimanapun juga Sisifus berusaha, batu besar itu tak mungkin bisa ia bawa ke puncak tujuannya.

Pada satu titik, manusia akan dipaksa untuk menyerah. Membuang impian yang serupa dengan batu besar Sisifus.

Beruntung, opsi inilah yang dipilih oleh kawan saya. Dengan sebuah tawa kecil ia mengakhiri ceritanya dengan pengakuan kekalahan. Wanita yang telah memasuki tidurnya hampir tiap malam selama 4 tahun terakhirnya adalah batu yang tak mungkin ia bawa hingga garis finish. Melawan takdir Sisifus yang hingga akhir hidupnya dengan berusaha, kawan saya membuat jalan cerita yang berlainan. Ia membuang batu yang memberatkan langkahnya. Ia bertekad untuk berhenti mengejar wanita pujaannya. Ia menyerah. Tetapi, seperti pemikiran absurd Camus, ia menjalani "hukumannya" dengan bahagia.

Setidaknya, ia ingin saya menganggapnya begitu.

2 comments:

  1. Siapapun kalian, kudu nonton film Triangle. Itu terinspirasi dari Sisifus. Entah karena kecerdasanku yang agak kurang bisa mencerna tulisan kalian, tapi saya memahami sisifus karena filmnya. Tidak lupa saya tambahi "hihihihi"

    www.imdb.com/title/tt1187064/

    ReplyDelete