Feb 5, 2013

Lahmudin dan Lubang Dinding

You live and learn. At any rate, you live.

Saya kembali latah mengutip. Kali ini yang saya kutip di atas adalah omongan seorang Douglas Adams, seorang penulis asal Inggris. Bukan apa-apa, tetapi tulisan kali ini akan sedikit bersangkutan dengan ucapan Douglas Adams tersebut. Karena hidup, di manapun dan bagaimana caranya, sejatinya adalah sebuah proses pembelajaran yang berulang-ulang dan tak pernah berhenti.

Malam ini saya teringat pertanyaan seorang kawan beberapa waktu lalu: sejauh ini, buku apakah yang paling berpengaruh dalam hidup saya?

Saya mencoba mengganti istilah paling berpengaruh dengan paling berkesan. Karena bagi saya masing-masing buku meninggalkan pengaruh yang berbeda dalam pemikiran saya. Tetapi, hanya satu yang memiliki kesan mendalam. Buktinya kurang lebih 15 tahun lalu saya baca dan sampai hari ini masih ada ingatan yang sisa. Saya tak tahu pasti mengapa betul-betul terkesan karena buku tersebut bukanlah buku terkenal dengan penulis besar. Saya hanya mendapati buku tersebut di perpustakaan SD saya yang sumpek dan lusuh penuh berdebu: Lahmudin dan Lubang Dinding.

Buku zaman SD. Tentu saja bukan muluk-muluk dengan ideologi besar. Buku tersebut hanya bercerita tentang realita yang begitu akrab di telinga, yakni kemiskinan. Ihwal rincian dalam buku, tentu saja saya lupa. Tetapi mari saya ceritakan garis besar buku dan kenapa cerita tersebut begitu berkesan buat saya yang pada masa itu masih berada di sekolah dasar.

Alkisah, Lahmudin kecil adalah anak seorang petani miskin yang berada di sebuah desa kecil. Hidupnya dihabiskan untuk membantu kedua orang tuanya menggembala kambing mereka yang jumlahnya tidak seberapa. Pada waktu itu, desa yang terpencil di mana Lahmudin tinggal belum ada sekolah. Maka, ketika pada suatu hari ada bangunan baru didirikan--yang ternyata adalah sebuah sekolah dasar, anak-anak seusianya dengan penuh antusias mendaftarkan diri. Karena ilmu adalah pelita, kata seorang cendekia.

Lahmudin, seorang kurus dengan muka kusut, tak ketinggalan. Ia ikut mencoba peruntungannya untuk mendaftar sekolah. Naas baginya. Meskipun sejumlah syarat terpenuhi (salah satunya adalah dengan menjulurkan tangan ke atas kepala hingga menyentuh telinga), Lahmudin gagal menjadi murid. Ketika guru menanyakan apa pekerjaan orang tuanya, ia langsung ditolak untuk masuk. Sekolah, pada saat itu, hanya untuk kaum priyayi dan bangsawan yang punya duit.

Terang saja Lahmudin kecewa. Asa yang sempat menyala langsung padam begitu mendengar calon gurunya berkata demikian. Ia pun kembali menjalani hari-harinya seperti biasa dengan menggembala. Namun pada suatu hari, Tuhan menunjukkan jalan kepada Lahmudin. Ia yang sering menggembala di dekat sekolah menemukan sebuah lubang yang tidak seberapa besar di dindingnya. Ia coba mengintip dari lubang tersebut dan ternyata ia bisa melihat seorang guru sedang berdiri di depan kelas dan anak-anak yang duduk manis mendengarkan pelajaran.

Hari demi hari Lahmudin mengikuti pelajaran demi pelajaran yang diberi guru melalui lubang dinding. Kambing ia biarkan mencari makan di rerumputan dekat sekolah. Walaupun berkekurangan, ia tak pernah kekurangan akal. Misalnya, pada saat pelajaran berhitung dan murid-murid diharuskan membawa alat bantu hitung, Lahmudin mengambil beberapa buah lidi dan menjadikannya alat bantu darurat. Di saat kawan-kawannya menggunakan alat bantu hitung yang termasuk mewah, ia tidak minder dengan temuannya. Begitulah seterusnya. Hingga suatu hari, ujian akhir untuk menentukan kelulusan tiba.

Ujian akhir dilaksanakan dengan cara mencongak. Begitu bunyi pengumuman yang dipasang di depan kelas. Anak-anak belajar. Lahmudin, meskipun tidak terdaftar secara resmi di sekolah, juga belajar. Pada saat ujian tiba, ternyata tak ada satu pun anak yang mampu menjawab pertanyaan dari guru. Lahmudin yang mengintip dari lubang dinding merasa bisa dan gemas tanpa ragu-ragu langsung masuk ke dalam kelas dan meminta izin kepada semua orang untuk ikut menjawab pertanyaan tadi. Serempak seisi kelas hening dan guru penguji pun terhenyak. Dengan pandangan mata meremehkan, guru tadi menyuruh Lahmudin segera pulang. Murid yang paling pintar di kelas pun tak mampu menjawab, apalagi seorang penggembala yang bahkan tidak pernah mengikuti pelajaran.

Guru tersebut tidak tahu bahwa Lahmudin selalu mengintip ketika ia mengajar. Dan ketidakpercayaan dari guru berbuah rasa malu karena Lahmudin bisa dengan mudah menjawab semua pertanyaan.

"Saya memang ditolak dan dianggap tidak berhak ikut duduk bersama kawan-kawan di bangku sana. Tetapi bukan berarti saya tidak berhak untuk belajar."

Begitu kira-kira yang diucapkan Lahmudin pada guru penguji. Karena selalu ada jalan untuk belajar bagi mereka yang memiliki niat untuk itu. Seketika runtuhlah ego sang guru dan Lahmudin pun lulus ujian walaupun tak pernah sehari pun ia masuk sekolah. Bahkan, ia diberi beasiswa untuk meneruskan pendidikannya di kota karena desa tersebut belum memiliki sekolah lanjutan.

Cerita selanjutnya pun berisi perjuangan Lahmudin di kota dengan induk semang. Saya takkan meneruskan karena di sini saya hanya ingin menceritakan inti cerita, yaitu tentang perjuangan yang takkan pernah mati. Seperti kata orang bijak, tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat. Halangan hanyalah motivasi. Dan ilmu tidak hanya berada di bangku sekolah. Ia ada di mana pun. Di dalam hidup. Mungkin karena pesan sederhana yang dibawakan itulah saya terkesan dengan buku buluk tersebut.

Ah.. Sampai sekarang saya masih malu pada Lahmudin.

8 comments:

  1. Saya juga jadi malu dengan Lahmudin.

    ReplyDelete
  2. beralih dari apakah buku berjudul seperti diatas itu beneran ada tapi dengan gaya bertuturmu bung meyakinkan yang baca. Orang2 pasti berpikir tentang "buku"nya masing2..

    dan tulisan ini menginspirasi gw..

    ReplyDelete
  3. Jenis pemberontak terbaik ya memang orang yang berbuat sesuatu untuk melanggar keterbatasan yang dimiliki agar jadi orang lebih baik.

    ReplyDelete
  4. entah kenapa gw bacanya malah Muhiddin, haji dua kali :|

    ReplyDelete
  5. Terimakasih untuk inspirasinya...

    ReplyDelete
  6. Saya mulu pernah punya bukunya. Hampir setiap hari saya khatamkan bacaan buku tersebut. Tapi sekarang gk tau ada dimana buku itu.

    ReplyDelete
  7. Buku jaman SD nih. Sdh 38 tahun tp ceritanya masih melekat he3xx

    ReplyDelete