Feb 27, 2013

Menjelma Sisifus

Seorang kawan bercerita tentang pengalaman buruknya. Atau, mungkin, buat dia, kata buruk saja tidak cukup. Dia berusaha mengakrabi sesuatu yang ia kenal dengan nama cinta, mencoba bersetia pada orang yang sama. Kurang lebih 4 tahun ia melakukan pendekatan dengan perempuan pujaannya. Sayang, respon yang ia dapat tidak begitu bagus.

Sang perempuan sebenarnya sudah berkali-kali mengirim sinyal negatif. Beberapa kali ia mendapat penolakan. Tetapi kawan saya merupakan tipe pejuang yang kehilangan kata menyerah di tengah hidupnya. Ia terus bersemangat mendekati sang perempuan. Kemarin, untuk kesekian kalinya ia menyatakan cinta. Kesekian kalinya pula ia beroleh penolakan. Ia, tanpa disadari, telah menjelma menjadi perwujudan Sisifus di dunia.

Feb 21, 2013

Kupu - Kupu Cantik

Kupu-kupu cantik yang tahu dan sadar pada kecantikannya itu menyebalkan. 
Setidaknya, demikianlah yang dikatakan oleh adik. Entah kenapa dia tiba-tiba berkata seperti itu. Adik bahkan belum lagi duduk di bangku sekolah dasar dan memperoleh pelajaran IPA. Lagipula, dia tak pernah mengalami kejadian traumatis yang berhubungan dengan kupu-kupu. Ketika kutanya alasannya, dia kemudian menceritakan apa yang akhir-akhir ini ia alami.

***

Beberapa hari lalu, adik melihat seekupu-kupu terbang rendah di halaman rumah. Agak mengherankan sebetulnya. Di kota yang sumpeknya bukan main, ditambah fakta bahwa rumah kami hanya bertempat di sepetak tanah sempit di perumahan, masih ada kupu-kupu yang sudi berkunjung. Charles Darwin mungkin akan terkejut bahwa ada kupu-kupu bersayap cerah hadir di tengah kepulan asap yang tiada kunjung berhenti. Namun itulah faktanya. Seekor kupu-kupu kuning berbintik tiba-tiba datang pada suatu sore. Hinggap pada bunga tapak dara. Sesaat kemudian terbang, kemudian hinggap lagi. Seolah ia sedang menari dengan gaya menggoda siapapun yang sedang melihatnya.

Feb 12, 2013

Selepas Perbincangan

Kemarin, di halte yang apak oleh debu, di bawah gedung-gedung tinggi, perbincanganku denganmu berselisih jalan. Kamu diam. Sementara aku terus mencerocos sederas hujan yang menghentikan langkah kita berdua.

"Aku telah menanti begitu lama. Aku telah kehabisan kata untuk membuatmu sekadar memahami arah perbincangan ini."

"Mantan kekasihku pernah melakukan yang lebih baik darimu. Tapi tetap tak mengubah fakta bahwa dia sudah menebas kepercayaan yang aku tanam bertahun-tahun lampau. Apalagi kamu. Apalagi perbincangan kita baru berjalan sepenggalah. Bagaimana bisa aku kembali percaya pada orang lain semudah itu?"

"Aku telah bertaruh pada ribuan kilometer jarak sebelumnya hanya untuk bisa berdiskusi denganmu. Untuk membuktikan bahwa aku memang mencintaimu."

"Kamu sendiri yang bilang bahwa dalam cinta, seringkali pengorbanan tak berarti. Masing-masing dari kita punya bahan pertimbangan tersendiri, bukan?

"Tapi bolehkah aku berusaha meyakinkanmu? Hingga saat itu tiba, izinkanlah aku menunggu."

"Entahlah. Aku rasa beberapa orang tak pantas menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu. Termasuk kamu..."

Kemarin, kata telah kehabisan suaranya. Perbincanganku denganmu lindap dalam deram lalu-lalang kendaraan. Bus datang. Hujan reda. Aku dan kamu tertinggal dalam lamunan masing-masing. []

Feb 6, 2013

Wawancara dengan Nuran Wibisono

Aunurrahman Wibisono (akrab dipanggil Nuran) adalah mahasiswa S2 salah satu kampus ternama di Yogyakarta. Di samping itu, dia juga menggeluti berbagai bidang keilmuan. Mas Nuran adalah seorang traveler, pengamat musik, komentator sepak bola, penulis, kritikus, tukang parkir terminal Condong Catur, pengutil gorengan di warung burjo, dan berbagai label yang melekat padanya. Oke. Dua yang terakhir berlebihan. Tetapi selain itu, memang benar adalah seorang Nuran. Tak heran bahwa dia bisa terpilih sebagai Putra Terbaik Jember sepanjang masa.

Pada suatu hari, saya melakukan sedikit wawancara di sela kesibukan mas Nuran mengerjakan thesis. Fokus wawancara kali ini adalah soal musik dan dunia kepenulisan. Untuk apa? Bukan untuk apa-apa. Hanya saja saya sedang tidak ada kerjaan. Sebelumnya saya sempat bertanya melalui twitter terlebih dulu apakah mas Nuran ada waktu luang untuk diwawancarai. Jawabannya sungguh membumi.


Feb 5, 2013

Lahmudin dan Lubang Dinding

You live and learn. At any rate, you live.

Saya kembali latah mengutip. Kali ini yang saya kutip di atas adalah omongan seorang Douglas Adams, seorang penulis asal Inggris. Bukan apa-apa, tetapi tulisan kali ini akan sedikit bersangkutan dengan ucapan Douglas Adams tersebut. Karena hidup, di manapun dan bagaimana caranya, sejatinya adalah sebuah proses pembelajaran yang berulang-ulang dan tak pernah berhenti.

Malam ini saya teringat pertanyaan seorang kawan beberapa waktu lalu: sejauh ini, buku apakah yang paling berpengaruh dalam hidup saya?

Saya mencoba mengganti istilah paling berpengaruh dengan paling berkesan. Karena bagi saya masing-masing buku meninggalkan pengaruh yang berbeda dalam pemikiran saya. Tetapi, hanya satu yang memiliki kesan mendalam. Buktinya kurang lebih 15 tahun lalu saya baca dan sampai hari ini masih ada ingatan yang sisa. Saya tak tahu pasti mengapa betul-betul terkesan karena buku tersebut bukanlah buku terkenal dengan penulis besar. Saya hanya mendapati buku tersebut di perpustakaan SD saya yang sumpek dan lusuh penuh berdebu: Lahmudin dan Lubang Dinding.

Feb 4, 2013

Sudah

Pernahkah kau bosan pada kata-kata?
Pernahkah kau merasa alinea hanya berisi huruf yang berserakan, seperti kotoran?

Saya pernah.
Lebih tepatnya, saya sedang mengalaminya. Sekarang.
Membaca tulisan saya sendiri ternyata memuakkan. Bahasa yang tak teratur. Ide yang tak tersampaikan. Lompatan pikiran dan cerita yang tak linear. Bah, bisa-bisanya saya berani mengeluarkan tulisan seburuk ini?

Berak!

Kapan saya sudahi menulis busuk dan berhenti meracau yang seringkali hanya menyerupai (maaf) orang berak? Entah.

Pramoedya bilang jangan pernah meremehkan tulisanmu sendiri. Biar bagaimanapun mereka adalah anak-anak rohanimu. Meski cacat. Meski rusak dan tak seperti yang kauharapkan. 

Lantas apa solusi dari muak yang kian hari kian bertambah ini?

Entah.

***

Pada suatu titik aku akan mati
tanpa gaduh
Atau sekadar berhenti
--membunuh jenuh

Feb 3, 2013

Rantau

[i]karena jarak mengajarkan rindu
maka, izinkan aku mengangkat sauh, ibu
Beberapa tahun lalu, saat usiamu masih ranum, dan aku masih tak rela ditinggalkan, apalagi punya pikiran berpisah dengan satu, atau bahkan lebih, orang yang kucinta, untuk jangka waktu yang lama, kau dengan lancang menghadirkan mimpi buruk pada tiap malamku. Kau meminta restu untuk merantau. Aku, ibumu dan suamiku, bapakmu dengan berat hati, dengan muka ikhlas yang dipaksakan, harus membukakan pintu harapan padamu yang belia. Padamu, anakku, yang hendak menjemput mimpi di negeri orang. Padamu, anakku, yang hendak mengabdi pada negara di mana leluhurmu telah berjuang.
[i]“duh, yang bernama keberangkatan
betapa ranum di matamu. hingga kau hapus
segala yang sisa.”

Feb 2, 2013

Mesin Pekicau

Hari-hari ini, twitter begitu menyebalkan buat saya. Ia kerap kali membuat saya menerka-nerka. Meski dalam banyak hal twitter juga menguntungkan. Berita yang begitu cepat terbarui, tautan bacaan yang mencerahkan, atau dalam titik yang paling rendah: gosip antar kawan yang tak pernah terlewatkan. Seorang kawan, dengan penuh sindiran pernah mengatakan bahwa lambat laun twitter akan mengalahkan google karena banalitas para penggunanya. Terutama di Indonesia, para pekicau di lebih senang bertanya di twitter daripada mengetik sebentar di google atau mesin pencari lainnya untuk mencari informasi yang ingin ia ketahui. Untuk membuka buku, saya kira lebih parah lagi. Meski tidak melalui riset terlebih dahulu, saya yakin para pengguna twitter yang rajin update melalui gadget dan ponsel pintarnya jauh lebih malas. Nah, kan. Bahkan di dalam blog saya masih berprasangka!

Ada satu lelucon yang menganalogikan para pegiat internet, terutama pemakai media sosial dengan tipikal orang-orang di bar. Para blogger merupakan orang yang lebih senang duduk di depan bartender. Mereka lebih senang di tempat yang agak sepi, sesekali berbincang dengan kawannya dan lebih butuh didengarkan. Pekicau di twitter adalah orang-orang yang membaur di lantai dansa. Senang dengan keramaian dan lebih suka mencari perhatian. Lalu, bagaimana dengan mereka yang suka berkeluh kesah dan memenuhi beranda facebook? Di mana mereka berada? Ah, mereka di kamar mandi....muntah-muntah.

Feb 1, 2013

Gado - Gado

Pesawat

lepas landas
                  pukul tujuh lima belas
kata langit di atas
kau sibuk bernyanyi
                  tentang cinta yang tak kaubalas

***

Tua

malamku terbuat dari tiga kata
bandara. sofa. kereta.
kereta. bandara. sofa.
entah apa tautan kesemuanya
aku lupa

kepala makin ringan
kutuang lagi anggur bermerk lelaki tua
ah, aku ingat
; ada seorang kakek tertidur di bangku stasiun kota

***

Tentang Menulis

*kepada Raden Fachrur

bacalah!
seru sebuah suara ghaib
Muhammad ibn Abdullah, namanya
terlihat ketakutan

bacalah!
terdengar kedua kalinya
Muhammad makin menggigil

bacalah!
untuk ketiga, lalu sudah
Ia berkalang selimut sesampai di rumah

tulislah!
ujarku kali ini
kepadamu
semoga usia bacamu sepanjang
 angka dalam kue ulang tahunmu