Jan 31, 2013

Surat Terbuka Untuk Anda yang Pernah Menulis Surat Terbuka

Halo, selamat siang!

Mungkin saat saya menulis ini anda tengah tertidur pulas karena di luar panasnya bukan main. Mungkin juga anda sedang meninggalkan rumah untuk sementara, bepergian ke mana pun demi menjaga kewarasan otak yang dipaksa menganggur dalam jangka waktu yang belum ditentukan. Atau bisa saja anda memilih bekerja di sebuah kantor atau membikin usaha sendiri untuk mengisi dompet yang keburu tipis karena anda tak pernah memiliki kesempatan menabung di liburan yang sangat panjang ini. Sedang apapun dan di mana pun anda berada, saya doakan agar kesehatan dan keselamatan selalu dilimpahkan kepada anda, pemuda yang berjiwa besar dan memiliki semangat berapi-api.

Sebelum melanjutkan surat ini, saya ingin membuat sebuah pernyataan demi menjaga hubungan baik. Saya memang tidak mengenal anda. Anda juga tak pernah melihat muka saya sama sekali. Oleh karena itu saya hendak menyampaikan bahwa dengan ditulisnya surat ini, saya sekaligus ingin menjabat tangan melalui dunia maya dan mengajak anda berkenalan demi sebuah silaturahmi. Semoga suatu saat kelak kita bisa benar-benar bertemu tatap muka karena saya terlanjur menyukai keberanian anda. Mungkin anda menganggap ini sebagai sindiran, cibiran, atau bahkan celaan. Akan tetapi, percayalah. Saya benar-benar salut dengan seorang yang memiliki nyali di tengah banyaknya orang yang sekadar membebek pada sistem yang korup, pada orang yang tidak dapat dipercaya. Percayalah, saya pun sempat akan menulis surat terbuka dengan tujuan sama seperti anda sebelum akhirnya diurungkan karena alasan yang tidak dapat saya ceritakan. Percayalah, orang besar lahir karena memberontak. Bukan karena ia rajin mengikuti pelajaran dan pintar mengulang kembali kemudian hari.

Untuk meyakinkan anda, biar saya sedikit bercerita. Sepertinya anda telah mengetahui kisah ini. Namun, semoga anda tidak bosan membaca tulisan dari saya ini.

Che Guevara, seorang revolusioner terbesar pada sejarah Kuba, memulai hidupnya dengan kewajaran yang sangat normal. Dia sekolah, belajar, bermain, sesekali bercinta juga menuliskan kata-kata romantis pada kekasihnya. Che menjalani kehidupannya yang monoton itu hingga ia kuliah dan digadang-gadang menjadi dokter yang meneruskan harapan kemanusiaan: menyembuhkan si sakit dan korban perang. Saya pikir, pada titik ini dia sama pada anda, calon punggawa keuangan. Dan untuk itulah kerja dari pemuda, sebagai penerima tongkat estafet kepemimpinan ketika generasi tua tak lagi sanggup membawa beban berat di pundaknya.

Tapi Che adalah gambaran bahwa hidup tidak selalu linier. Dia tahu bahwa seperti kata seorang penyair Jerman, Friedrich von Schiller, Und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein: hidup yang tidak pernah dipertaruhkan, adalah hidup yang tidak akan dimenangkan. Tepat pada saat berada di tengah zona nyaman, Che memilih membuang jas dokternya dan memilih untuk menyusuri benua Amerika bersama seorang sahabatnya, Granado.

Jika anda pikir saya tengah berpropaganda agar anda rela melepas status dan harapan yang tengah anda sandang saat ini, tentu anda salah. Salah besar. Saya hanya ingin mengajak anda menghilangkan sejenak ketegangan menanti pengumuman SK dari atasan dan berekreasi sejenak dengan kegiatan yang sedang saya gagas. Iya. Tepat sekali. Saya sedang berusaha mengumpulkan kawan-kawan, termasuk anda, dan mengajak untuk menyukai menulis. Saya yakin anda yang seorang blogger dan sempat menulis surat terbuka untuk orang sekaliber menteri telah menggemari kegiatan ini jauh sebelum saya mengajak anda. Maka, dengan datangnya surat ini, saya ingin anda ikut kegiatan #7HariMenulis agar otak anda bisa kembali bekerja. Agar adrenaline anda terpacu lagi. Sama seperti saya, anda pasti merasakan juga bahwa tunduk di dalam rutinitas adalah bunuh diri yang paling konyol.

Pungkas kata, anda tak usah khawatir tertinggal mengikuti event ini. Ini adalah kegiatan buat bersenang-senang. Tinggal bergabung dan ikut menulis. Iya, semudah itu. Silakan buka aturan main dan mari bersenang-senang. Bukankah Pramoedya yang termahsyur itu pernah berkata bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian? Benar. Che tak terkenal hanya dengan melakukan perjalanan bermotor legendarisnya saja. Ia pun gemar menulis. Bahkan tulisannya romantis dan penuh dengan melankoli, tidak segarang predikat revolusionaris yang ia miliki.

Untuk mengakhiri surat ini, biarlah saya kutip surat terakhir dari Che Guevara untuk istri dan anak-anaknya. Ia bahkan sempat menulis sebelum eksekusi mati datang kepadanya.*

“Kepada yang tersayang Hildita, Aleidita, Camilo, Celia, dan Ernesto

Jika kamu membaca surat ini kelak, itu berarti aku sudah meninggal. Kalian akan sukar mengingatku, dan yang paling muda dari kalian jelas sama sekali akan melupakanku.

Ayahmu adalah orang yang berusaha bertindak yang terbaik, dan selalu percaya terhadap keyakinannya. Tumbuh berkembang bersama banyak revolusi, belajarlah yang keras agar bisa mengenal dan menguasai alam semesta. Ingatlah bahwa revolusi adalah hal yang penting dan mengajarkan kita, bahwa hidup terasing adalah harga sangat kecil yang harus dibayar, dan itu tak berarti apa-apa. Di atas semua itu, jadilah orang yang sensitif, terhadap diri kalian sendiri, juga terhadap semua ketidakadilan yang menimpa siapapun di dunia ini.

Aku akan selalu menjadi milik kalian wahai anak-anakku. Aku berharap akan bertemu lagi dengan kalian.

Cium hangat dari ayah”

Ah. Romantis bukan?

------

 *surat Che Guevara ini saya ambil dari blog mas Nuran.

2 comments:

  1. great quotes, bro! "tunduk di dalam rutinitas adalah bunuh diri yang paling konyol" - @gitawiryawan

    ReplyDelete