Jan 21, 2013

Jatuh

Look not back in anger, nor forward in fear, but around you in awareness. - Ross Hersey


Pada akhirnya, dalam hidup ini, kita harus tetap berjalan ke depan meski kenangan senantiasa membayangi. Apa yang terjadi di masa lalu memang berulang kali menyandung langkah kaki, tetapi tak lantas hal tersebut dapat dijadikan alasan untuk berhenti. Kita boleh beristirahat sejenak, mengobati luka yang terlanjur mengucur keluar. Namun kehidupan adalah kumpulan repetisi. Semua manusia pada dasarnya hanya mengalami hal-hal yang selalu berulang hingga ia mati. Lalu apa yang membuatmu melabeli kejatuhan kali ini sebagai sesuatu yang spesial, hingga kau berhak menjadikannya apologi?

Aku percaya kamu terbiasa jatuh. Dari kecil, saat kamu baru mulai belajar berjalan dan akhirnya bisa berlari, kamu pasti terjatuh berulang kali. Tetapi sekarang, kulihat ada yang berbeda dari dirimu. Mungkin jatuhmu untuk kali terakhir membuat kamu marah. Marah sekali hingga kerap kamu mengutuk seseorang (atau sesuatu) yang membuatmu terjerembab dengan keras. Sembari menangis kamu meraba-raba kutipan revolusioner dari Zeck de la Rocha: anger is a gift! Kamu limbung seperti orang mabuk. Kamu akhirnya marah. Segera setelah itu, kamu kehilangan kepercayaan pada siapapun karena kali ini kamu dijatuhkan saat kamu merasa benar-benar seimbang dan sedang ingin secepatnya berlari sampai tujuan. Aku percaya kamu terbiasa jatuh. Meskipun demikian, aku tak yakin kamu terbiasa malu. Karenanya, ketika kamu dijatuhkan hingga seluruh dunia tahu, kamu merasa amat marah dan sedikit malu. Pada siapapun yang membuat kamu malu--kita tahu, di sanalah sarang amarahmu.

Aku penasaran. Aku lihat di luar sana ada orang yang sudi mengulurkan tangan, hendak menolongmu, tidak kauacuhkan. Apakah begitu besar kemarahan yang tumbuh hingga kamu susah mempercayai lain yang ingin hadir di hidupmu? Adakah kamu curiga di masa depan orang baru itu memiliki niat tidak saja sekadar menjatuhkan, tetapi juga menghancurkanmu? Kupikir, rasa marah itu seperti api yang membakar suluh kayu. Karena itu kuminta redamlah dengan sejuk dinginnya hatimu.

Aku heran. Mengapa kamu tidak segera bangun sesaat setelah jatuh? Aku yakin kamu mampu dengan mudah melakukannya. Tetapi entah mengapa kamu justru terdiam di tempat dan berkata kamu sedang istirahat, berkata masih ingin menikmati kejatuhanmu, masih ingin mengenang orang yang menjatuhkanmu. Tanpa mengurangi rasa hormat, sayangku, kamu punya banyak tempat lebih layak jika butuh waktu untuk beristirahat barang sejenak. Pindahlah dari situ; dari tempat yang melenakanmu.

Ah. Rasa takut juga marah memang sering kali membuat kita bertindak irasional. Kuharap kau segera sembuh, menata langkah dan berjalan kembali. Bukan penuh curiga, tapi dengan kehati-hatian.

0 comments:

Post a Comment