Jan 31, 2013

Babon

Babon adalah seekor monyet warga desa terpencil di kerajaan monyet. Dia adalah seekor monyet yang cerdas. Atau, setidaknya, begitulah yang dia rasakan. Dia kerap membaca ensiklopedia monyet sehingga dia bahkan menjadi jauh lebih cerdas dari para tetua yang sering dimintai petunjuk oleh warga desa. Dia belajar banyak dan disebut-sebut sebagai Einstein-nya monyet. Konon, beberapa tetangganya melihat lintang kemukus pada malam dia dilahirkan. Sebuah tanda bahwa mereka telah kedatangan tamu agung yang kelak akan mempunyai pengaruh besar di dunia ini.

Perlu diketahui, kerajaan monyet adalah sebuah kerajaan kecil yang jauh dari pemberitaan. Jika saat ini media sibuk meliput berbagai macam tindak kriminal di dunia manusia, di kerajaan monyet sebenarnya tidak jauh berbeda. Berbagai jenis tindak kelicikan, kecurangan, serta tipu menipu sudah jadi hal yang lumrah di kerajaan monyet dalam memperebutkan jabatan, uang, juga pisang. Bedanya, di kerajaan monyet hampir tidak ditemukan kasus pemerkosaan karena mereka biasa melakukan hubungan seks atas dasar suka sama suka. Selain itu, hampir sama. Degradasi mental dan jiwa yang korup telah menimpa sebagian besar warga, apalagi birokrat monyet yang duduk di kursi pemerintahan. Sampai hari ini, belum ada yang bisa mengatasi kekacauan ini. Beberapa pengamat mengatakan belum masuknya agama di kerajaan monyet lah sebagai penyebab ketimpangan moral yang terjadi di sana. Namun, walaupun begitu, manusia sepertinya harus belajar. Mereka para monyet tak pernah tergoda untuk korupsi pengadaan kitab suci ataupun suap sapi. Bukan apa-apa. Memang tidak pernah ada pengadaan kitab suci kok. Lagian monyet tidak suka daging sapi. Mereka lebih suka pisang.

Kembali ke Babon. Pada bulan kemarin dia telah memasuki usia yang dikategorikan dewasa dalam hukum monyet. Karena itu, beberapa hari ini dia terlihat murung juga uring-uringan. Mau dibilang apa sama tetangga kalau monyet cerdas seperti dia justru tidak memiliki pekerjaan di usia produktif. Akhirnya, setelah berpikir panjang, dia memutuskan merantau ke ibukota seperti pemuda lain di desanya. Dia ingin mewujudkan cita-cita masa kecilnya, yaitu sebagai hulubalang di kerajaan. Toh, dia pikir kecerdasan dan kemampuannya tidak dibutuhkan di desa kecil yang stagnan itu.

"Aku punya mimpi besar, boy!" ucapnya sebelum berangkat.

Tibalah hari keberangkatan Babon ke ibukota. Ironi meluber pada saat dia berpamitan kepada orang tua dan tetangga-tetangganya. Sementara warga desa sedih karena kehilangan pemuda yang diharapkan mampu memperbaiki desa, Babon justru dipenuhi kebanggaan dan optimisme menyambut masa depannya. Dia yakin kota yang megah takkan pernah kehabisan harapan, apalagi untuk monyet yang cerdas sepertinya. Melangkahlah dia dengan dada tegak disertai dengan ambisi yang menggebu.

Sampai di ibukota, Babon kebingungan. Bus yang membawanya berhenti di terminal yang tidak pernah dia tahu. Seumur hidupnya, Babon belum pernah keluar dari desa sama sekali. Sekarang, saat matahari belum lagi datang, dia telah berada di kota terbesar di seluruh penjuru kerajaan. Babon teringat pesan mamak, jangan terlihat ling-lung di kota besar. Hindari tindakan mencolok yang dapat memancing kejahatan. Kemudian ia segera merangkak ke warung kopi yang berada di pojokan. Dia memesan secangkir kopi panas dan lekas mencomot makanan kesukaannya: pisang goreng.

Warung kopi adalah bentuk eksistensi egalitarian paling nyata. Di sana berlangsung komunikasi tanpa adanya kesungkanan atau basa-basi antarkasta, sehingga umpan balik pun mudah didapat. Bahkan di tengah aroma feodalisme paling kental pun warung kopi selalu mendapat panggungnya. Babon datang ke tempat yang tepat. Dengan kecakapannya, dia memperoleh informasi tempat ke mana dia pergi setelah ini. Kantor keuangan. Kata penjual kopi, di situlah tempat paling cocok untuk pemikir yang mau ikut mencarikan duit agar kegiatan pemerintahan di kerajaan dapat berjalan dengan lancar. Setidaknya, begitulah yang disarankan kepada Babon. Maka, setelah pagi tiba, dia segera menuju kantor keuangan untuk mencoba peruntungan bekerja di sana.

Kantor keuangan. Kantor megah dengan desain yang bagus. Lalu-lalang pekerja yang sibuk dengan kegiatannya. Mereka terlalu sibuk sehingga tak sempat memperhatikan ada seekor monyet desa di tengah mereka. Tak ambil pusing, Babon menuju resepsionis dan mengutarakan tujuannya datang ke kantor tersebut.

"Permisi bu. Saya hendak melamar pekerjaan di kantor ini. Bisa saya bertemu dengan HRD?"

"Sebentar pak, saya telepon dulu ke dalam. Silakan bapak duduk dahulu di kursi," jawab resepsionis.

Babon duduk. Sekitar setengah jam kemudian dia dipanggil kembali. Lalu setelah beberapa perbincangan yang melelahkan, satu keputusan pun dibuat.

"Saya sudah mempelajari daftar riwayat hidup saudara. Baiklah karena kami percaya, maka saudara Babon diterima bekerja di sini. Mulai minggu depan silakan masuk dengan mengikuti ketentuan yang ada," ujar pak Agus, kepala HRD.

Babon gembira bukan kepalang. Dia yakin bahwa kecerdasannya memang akan selalu berguna dan dapat dipakai untuk masa depannya sendiri. Dia berterima kasih pada mamak dan bapaknya karena di masa kecilnya dulu mereka lah yang selalu menyuruhnya membaca apapun. Teringat pada ucapan si bijak, mungkin dengan menjadi bodoh kita bisa hidup nyaman. Tetapi monyet di dalam tempurung, mereka yang bodoh itu, akan sangat rugi karena tidak akan pernah melihat indahnya dunia yang diciptakan oleh Tuhan. Dengan penuh semangat, Babon segera menandatangani surat perjanjian kontrak kerja yang disodorkan kepala HRD.

Minggu depannya, Babon mulai bekerja. Dia merasa gagah berjalan dari kontrakan barunya menuju kantor dengan seragam barunya. Sehari sebelum masuk di hari pertama, Babon telah memberi kabar pada mamak di rumah. Kabar gembira yang pasti akan segera diketahui seluruh warga desanya yang kecil. Seumur hidup, baru kali ini Babon merasa bahagia meluap-luap di seluruh tubuhnya. Perasaan bahagia karena dia pasti telah membuat mamak dan bapaknya bisa bercerita tentangnya dengan kebanggaan yang membuncah: anak mereka telah sukses di ibukota!

Sayang. Sepertinya penjual kopi lupa mengatakan satu hal. Babon harus hati-hati berurusan dengan raja dan para hulubalang kerajaan. Pemerintah--punggawa kerajaan itu--adalah justru neraka paling panas. Mereka lah biang kerusakan, penanggung jawab lumpuhnya kehidupan masyarakat. Para copet terminal, bencoleng, atau pembunuh bayaran hanya sekadar pion di depan para pembesar kerajaan. Maka ketika ada yang melemparkan kesalahan kepada satu-dua sebagai oknum, sesungguhnya pernyataan itu tidak seutuhnya tepat. Mereka tak merusak sistem. Sistem di bawah raja yang lalim lah virus perusak itu.

Tepat ketika Babon duduk di kursi kerjanya, sebuah borgol mengunci kakinya. Babon terkejut. Belum lagi usai keterkejutannya, sebuah benda besar tidak dikenal menghantam kepalanya. Dia merasa berat. Kesadarannya mulai hilang. Dan sebelum dia benar-benar pingsan, dia melihat tulisan pada benda yang menghantamnya: borgol takkan terlepas dalam sepuluh tahun, kecuali anda punya uang untuk menebusnya.

Monyet!

7 comments:

  1. Ikatan dinas 10 tahun, boleh keluar kalau mau menebus uang dalam jumlah yang cukup besar. Monyet memang

    ReplyDelete
  2. ini baru tulisan gita.. saya suka! monyet!

    ReplyDelete
  3. "Mereka tak merusak sistem. Sistem di bawah raja yang lalim lah virus perusak itu."
    kalimat revolusioner khas bung gita. gud job bung!

    ReplyDelete
  4. ah... kopi hangat dan pisang goreng #salahfokus

    ReplyDelete
  5. tulisan ini memang benar-benar monyet! sekian dan terima SK!

    ReplyDelete
  6. campuran antara fabel, fiksi, non fiksi, dan sedikit curhat. mantap, Bon.

    ReplyDelete
  7. ciamik sekali tulisan ini. suka sama pendefinisian warung kopi-nya

    FYI: kalo di kerajaan yang saya tinggali, Pak Agus itu menteri keuangan.

    ReplyDelete