Jan 17, 2013

Ah, kamu..

Aku pernah memberimu tiga buah buku. Salah satunya adalah Cinta Tak Pernah Tepat Waktu karangan mas Puthut EA. Meski aku tak pernah tahu apa dan bagaimana kesibukanmu sehari-hari berjalan, semoga kamu sudah membacanya karena aku ingin mengajakmu sedikit berbincang. Tentang cinta. Tentang asa yang tiba-tiba padam saat kita tengah memperjuangkan apa yang ingin kita dapatkan. Tentang berbagai kemungkinan dan bagaimana cara kita menyikapi hal yang tidak pernah ada dalam rencana kita sebelumnya. Mungkin jika kamu mau, juga tentang aku, tentang kamu: tentang kita berdua.

Jika kamu sudah membaca buku tadi, minimal di bagian-bagian awal, kamu akan sadar bahwa kamu bukanlah satu-satunya orang yang merasa sangat dikecewakan oleh cinta. Mungkin pada Sabtu sore kamu sudah berdandan secantik mungkin, memakai pakaian termahal dan berhiaskan gincu impor kesukaanmu. Parfum telah kausemprot ke seluruh tubuh. Kamu tersenyum melihat cermin karena yakin kamu adalah yang tercantik hari itu. Kamu bersiul, sedikit bersenandung. Kamu berjalan ke rumah pacar dan siap untuk berkencan. Kencan yang paling romantis dengan orang yang paling dicintai.

Tetapi hujan datang tanpa permisi. Kamu yang sudah di tengah perjalanan, menyisakan beberapa langkah menuju rumah pacar, kebasahan tanpa ampun. Kamu kaget. Kamu menangis. Kencan gagal dan justru berakhir dengan duka.

Cinta, katamu kemudian, tak pernah tepat waktu. Pengorbanan tak pernah bisa menjadi bahan pertimbangan....

***

Lalu apa yang begitu meresahkan selain harapan yang patah pada saat kita hampir mencapai pucuk tujuan?

Mungkin beberapa tahun lalu kamu berpisah dengan kekasih. Sebelumnya, kalian saling berbisik bahwa masing-masing akan berusaha kembali pada sebuah pertemuan. Lalu kamu mulai menabung. Menyisihkan sedikit uang agar bisa kembali ke tempat kekasih. Namun apa lacur, saat isi tabungan siap dicairkan, kalian (atau hanya salah satu) sepakat untuk menyudahi hubungan dan menjalani hidup masing-masing. Pertanyaannya, bisakah orang menyalahkan keadaan? Bolehkah kita hujat waktu yang telah memelihara cinta sebelum kemudian menyeretnya ke dalam altar persembahan dan mengorbankannya?

Ah. Kamu bisa menimbangnya sendiri. Aku tak pernah punya hak untuk menggurui, apalagi memaksamu untuk setuju denganku. Walau begitu, izinkan aku memberi paling tidak sedikit masukan. Kamu boleh saja berpikir perpisahanmu dengan kekasih datang pada waktu yang tidak tepat. Kamu boleh saja menyesali kenapa kamu tidak pernah mempersiapkan diri sehingga paling tidak kamu tak perlu merasakan kehilangan yang sedemikian. Kamu boleh saja berkata apapun yang ada di pikiranmu. Dalam kesedihan, setiap orang adalah pemain utama di bawah sorot lampu.

Tetapi bagaimana jika kukatakan bahwa memang tidak ada perpisahan yang meminta izin terlebih dahulu sebelum berkunjung? Dan bagaimana jika kutambahkan lagi: begitu juga pertemuan. Tak ada yang benar-benar direncanakan kecuali oleh Tuhan. Karena itu, kita--aku, kamu, semua orang--harus siap dengan perpisahan yang begitu mengejutkan atau pertemuan yang begitu menyenangkan. Mereka terkadang begitu mudah menguasai hatimu. Mereka berada di luar waktu.

***

Mungkin saat kamu kebasahan, kekasihmu tengah tertidur nyenyak di bawah rintik hujan. Mungkin saat kamu akhirnya pulang, di rumah kamu bisa menikmati segelas teh hangat sambil mendengarkan musik yang begitu menenangkan. Terkadang kita memperoleh kekecewaan yang lebih besar saat mencoba memaksakan semua hal yang kita inginkan. Tenangkan dirimu. Toh, tabungan yang telah kamu simpan tak akan menjadi sia-sia begitu saja.

Aku sering menjumpai (meski tak sengaja) orang-orang berlindung di bawah kata motivasi. Bahwa Tuhan telah mempertemukan kita dengan orang-orang yang salah sebelum akhirnya kita berhenti pada garis finish dengan orang yang tepat. Apakah pertemuan dengan orang yang tepat itu harus menunggu waktu yang tepat juga? Aku rasa tidak ada yang tahu.

Oleh sebab itu, jika sampai sekarang kamu masih berharap waktu sudi mengembalikan--atau beralasan masih butuh waktu untuk merelakan--semua yang telah hilang darimu, aku rasa kamu perlu memikirkan ulang semuanya.

Kata temanku, waktu itu omong kosong. Persetan dengan waktu. Apakah kamu setuju?

2 comments: