Dec 30, 2013

Quarter Life Crisis: Matinya Masa Muda Seorang Nuran Wibisono dan Nasihat Cinta yang Bijaksana

"Ditolak tepat di depan pintu rumah seseorang itu tidak seberapa mengesalkan ketimbang diminta masuk hanya untuk dihina dan diusir beberapa saat kemudian," tutur mas Nuran mengawali pembicaraan.

Sekira bulan Oktober kemarin saya mengambil cuti dan menyempatkan diri berkunjung ke Jogja. Sesampainya di Jogja saya menghubungi mas Nuran dan berjanji untuk bertemu di sebuah kafe untuk berbincang santai barang sejenak. Tak cukup sampai di situ, mas Nuran lalu meminta saya untuk menginap di kontrakannya dan melanjutkan pembicaraan. Jadilah saya kemudian mengirim pesan singkat kepada seorang kawan, mengabarkan bahwa saya tak jadi menginap di tempatnya.

Lewat tengah malam saya membonceng mas Nuran pulang, membelah dinginnya malam Jogja. Di tengah jalan saya meminta mas Nuran untuk berhenti di salah satu minimarket untuk membeli perlengkapan mandi, air minum, serta sedikit cemilan. Agak lama di minimarket karena mas Nuran usrek di salah satu pojokan seperti mencari sesuatu. Ketika ditanya, dia menjawab, "aku lagi nyari bir lokal (sambil menyebut nama salah satu merk bir), tapi ternyata nggak ada. Yasudahlah."

Dec 26, 2013

Lima (+2) Buku Terbaik 2013 Versi Saya

Tiba-tiba saja saya kepingin membikin daftar “Lima Buku Terbaik 2013 Versi Saya” untuk menutup tahun ini. Terbaik di sini tentu saja bukan dalam konteks keilmuan dengan segala riset dan analisisnya. Bagi saya, buku terbaik berarti buku tersebut meninggalkan kesan dan membuat saya memikirkannya dalam waktu yang cukup lama. Dan patut dicatat, saya tidak gila-gila amat dengan buku dan bacaan. Kuantitas buku yang saya baca  tidak cukup banyak untuk dipamerkan ke khalayak, pun tahun ini saya lebih suka mencomot buku-buku ringan karena saya masih beradaptasi dengan pekerjaan dan tempat baru saya. Karena itulah kau bisa meninggalkan postingan ini begitu saja atau mungkin transit barang sejenak untuk mempertimbangkan buku-buku yang telah saya daftarkan.

Oh iya, di daftar ini saya sengaja memilih hanya buku-buku Indonesia. Selain saya tidak banyak membaca buku luar atau terjemahan, kali ini saya ingin mencoba membuktikan bahwa di tengah himpitan penuhnya buku motivasi, biografi politik menjelang pemilu tahun depan, juga kumpulan kicauan yang sebetulnya tidak perlu-perlu amat dibukukan, masih ada penulis-penulis yang berusaha dengan gigih untuk menerbitkan buku yang bermutu, yang layak dibaca untuk menambah wawasan kita.

Dec 17, 2013

Dumadi

*untuk tanggal 15, untuk hari di mana umur saya resmi berkurang satu menurut perhitungan kalendar masehi
Saya tak pernah menganggap hari ulang tahun merupakan sesuatu yang istimewa dan menyenangkan. Justru, pada tanggal yang sama setiap tahunnya, saya merasa makin malu dan menyedihkan. Malu, karena di bilangan usia yang kian bertambah ini saya tak kunjung membuat sesuatu yang berguna. Menyedihkan, karena faktanya saya semakin dekat dengan mati.

Namun bukan berarti hal itu menjadi penghalang bagi saya untuk bersyukur. Tahun 2013 ini adalah tahun pertama saya resmi lepas dari tanggung jawab orang tua. Pertengahan tahun kemarin saya merantau, jauh dari tanah kelahiran (masa-masa kuliah tidak saya hitung) dan mulai berdiri di atas kaki saya sendiri, mencari uang untuk makan dari hasil kerja sendiri. Mencoba sedikit-sedikit melompat dan bermimpi kecil tentang masa depan.

Selain itu, di tanah perantauan ini saya disadarkan bahwa masih ada orang-orang yang sayang, atau minimal peduli, pada saya. Tahun-tahun sebelumnya, ketika saya masih di rumah, ucapan selamat ulang tahun lebih saya rasakan sebagai rasa sungkan dari orang yang kita kenal. Semacam basa-basi karena orang yang ditemui sedang merayakan hari istimewa. Tetapi kemarin, saya dikirimi oleh adik saya sebuah video ucapan selamat yang bisa ditonton di bawah ini.

Dec 7, 2013

Monumen Ingatan Untuk Seorang Kawan

Adakah sesuatu yang lebih menyebalkan dari seorang jomblo yang kesepian di malam minggu?

Jawabnya ada. Yaitu kesenangan kencan di malam minggu yang lenyap saat menerima kabar duka.

Cerita itu bukanlah pengantar dari sebuah cerpen melodramatis. Tetapi kejadian nyata yang saya alami setahun lampau. Waktu itu saya sedang pergi untuk sebuah makan malam, menikmati malam minggu bersama kawan-kawan. Sialnya, telepon genggam saya berbunyi karena ada panggilan masuk dari ayah. Beliau mengabarkan bahwa seorang tetangga--seorang teman bermain--baru saja meninggal karena kecelakaan ketika mengendarai sepeda motor.

Rizal Riyadi, 24 November 2012

Sehabis menutup telepon, saya minta izin kepada kawan saya, memacu diri untuk pulang ke rumah yang masih berjarak 30-an kilometer dari tempat saya bermain. Sambil was-was karena saat itu jalanan licin akibat hujan yang baru reda. Sampai di rumah, saya langsung menuju rumah Rizal dan di sana sudah ramai orang dengan segala kesedihannya. Jenazah datang tak lama kemudian. Saya ikut memberi penghormatan terakhir dengan shalat jenazah dan mengantarkannya ke kuburan pada keesokan hari.

Nov 3, 2013

Perempuan yang Menunggu

Apa kamu sedang merasa bosan menunggu?

Kekasih jauh. Beda zona waktu. Dan tak bisa memberimu kabar setiap kali kamu rindu

Aku akan paham jika suatu saat kamu merasa lelah dan jenuh dengan satu kata itu. Tetapi tunggu. Tunggu dulu. Aku ingin memperkenalkanmu dengan seseorang yang mungkin tidak pernah kamu tahu. Namanya adalah Maemunah Thamrin, istri Pramoedya Ananta Toer. Ia, kalau boleh kusebut, adalah perempuan yang menunggu. Sama seperti kamu.

Ketika aku membaca Nyanyi Sunyi Seorang Bisu—salah satu buku yang berisi himpunan catatan dan surat-surat pribadi Pramoedya selama di pulau Buru—aku mendapati satu nama tersebut. Sekali lagi, Maemunah Thamrin. Kuharap kamu mengingat baik-baik nama itu. Karena, Pram sendiri—dalam suratnya kepada salah satu anaknya—menuliskan nama istrinya dengan penuh rasa bangga. Aku pun dapat mengerti jika ia begitu menghormatinya.

Oct 7, 2013

Norwegian Wood

Peringatan: tulisan ini mengandung spoiler cerita Norwegian Wood karya Haruki Murakami.

Informasi Buku

Penerbit        : Norwegian Wood

Pengarang     : Haruki Murakami

Penerbit         : KPG (cetakan keempat, Mei 2013)

Halaman        : iv + 426







Seorang lelaki, usia awal 20-an tahun, mencintai seorang perempuan yang tidak akan pernah bisa mencintainya. Sebab perempuan tadi terlanjur cinta mati kepada lelaki lain. Cinta mati dalam arti sebenarnya karena lelaki yang dicintai si perempuan telah mati bunuh diri. Selanjutnya, mereka berdua menjalani kisah cinta yang aneh hingga si perempuan ikut bunuh diri menyusul kekasih yang terlebih dahulu meninggalkannya.

Oct 5, 2013

Orang Biasa di Dalam Sistem

Seseorang menanyakan kepada saya: masih adakah tempat buat orang biasa di dalam sistem (pemerintahan)?

Saya tak buru-buru menjawab pertanyaan tersebut. Saya tahu dalam setiap periode kehidupan, dalam situasi sesulit apapun, segala hal memang bisa terjadi. Sekecil apapun, selalu ada kata mungkin yang bisa menyalakan harapan. Seperti kata seseorang--yang mengaku biasa--yang seringkali memungut kata bijak: tak perlu merutuk pada kegelapan, nyalakanlah lilin jika kau mengharapkan cahaya.

Di dalam hidup yang keburu penuh oleh kekecewaan, selalu ada peristiwa ajaib yang kerap membikin kita lupa bahwa kita masih menjejakkan kaki di atas tanah. Mungkin kita pernah mendengar ada anak tukang kayu yang menjadi presiden. Atau orang nomor satu di negara nomor satu dunia dulu hanyalah seorang bocah dengan baju penuh lumpur yang doyan makan bakso pinggir jalan. Barangkali  memang nasib beberapa orang ditakdirkan untuk ditulis dalam lembar-lembar buku motivasi lalu segera dilupakan sesaat setelah kita melihat tagihan listrik rumah yang harus dibayar.

Beberapa alasan membuat saya tak segera bisa menjawab pertanyaan di atas. Saya justru ingin menceritakan sedikit dari apa yang saya rasakan di dalam sistem.

Sep 19, 2013

Pertanyaan yang Mengganggu

Apa yang membuat seseorang menganggap tulisannya sendiri begitu bagusnya dan disukai banyak orang, sehingga ia memiliki kepercayaan diri untuk menerbitkan buku?

Akhir-akhir ini, pertanyaan tersebut begitu mengganggu pikiran saya. Mengingat di toko buku, tiap kali saya berkunjung selalu saja menemukan buku yang kurang sedap untuk dibaca--malah cenderung mengganggu. Saya penasaran, kenapa orang tersebut begitu berani menerbitkan bukunya itu? Yang pertama, dia sudah mengeluarkan banyak uang terlebih dahulu. Soalnya bukunya terbit di bawah tangan penerbit mayor yang notabene memiliki banyak persyaratan ini dan itu. Selain itu, dia pasti seorang bermuka tebal hingga tanpa malu menerbitkan bukunya yang sangat standar tersebut.

Tidak. Saya takkan menyebut buku mana saja yang saya anggap mengganggu pemandangan di rak buku toko. Menurut saya, ini persoalan yang sangat subjektif.

Iseng saya melemparkan pertanyaan tersebut kepada seorang kawan melalui sebuah pesan singkat. Jawabnya, sepertinya orang tersebut terlampau sering dipuji dan kurang berkawan dengan kritik, sehingga rasa percaya dirinya tumbuh subur. Atau mungkin dogma dari sastrawan Indonesia termahsyur yang pernah dipenjara di tiga rezim berbeda begitu kuat tertanam di benak para (calon) penulis. Karena, kata sastrawan tadi: orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Bisa jadi kawan saya benar. Tetapi penulis macam apa yang punya cita-cita semacam itu, lalu menerbitkan buku banyak-banyak biar ia tidak dilupakan? Saya pikir, jika seseorang menulis buku yang tidak ada artinya buat kehidupan, tak ada pengaruhnya juga. Bahkan, jika buku yang dia bikin cenderung asal-asalan, ia hanya akan mendapat sedikit caci maki, lalu dengan cepat dilupakan.

Bahkan, seorang Franz Kafka memutuskan untuk memusnahkan karya-karyanya sendiri. Lewat testamen kepada sahabatnya, Max Brod, Kafka meminta agar seluruh tulisan yang pernah ia bikin dibakar saja, kecuali satu judul: Betrachtung. Suatu ketika, Kafka berbicara bahwa kita hanya perlu membaca jenis-jenis buku yang sanggup melukai atau menusuk kita. Jika buku yang kita baca tidak membangunkan kita dengan hantaman di kepala, untuk apa kita membaca?

Dalam kasus ini, dunia beruntung karena Brod, alih-alih menuruti permintaan Kafka, justru mempublikasikan karyanya. Kemudian, kita sama-sama mengetahui bahwa Kafka telah membuat karya yang melebihi zamannya. Dia menulis sesuatu yang tidak menarik pada masa itu, tetapi mempunyai manfaat bagi dunia literasi di kemudian hari.

Pertanyaan selanjutnya muncul: apakah buku-buku yang saya nilai dibuat oleh orang-orang dengan tingkat percaya diri yang sangat tinggi itu sama seperti karya Kafka? Bisa jadi banyak orang kini meremehkan buku itu, tetapi beberapa generasi kemudian, anak cucu kita memandangnya dengan takjub sebagai pencapaian monumental yang pernah dihasilkan oleh seorang manusia.

Entahlah. Sepertinya pertanyaan-pertanyaan ini masih akan mengganggu saya untuk beberapa saat lamanya.

Sep 8, 2013

Dadu

God doesn't play dice. He plays poker and always gets straight flush. - a friend of mine

Sejujurnya, saya hampir berhenti menanggapi setelah membaca tulisan Andre (baca: Sepatah Dua Patah Kata yang Tak Terlalu Penting). Karena buat apa melanjutkan hal yang sebenarnya sudah sama-sama kita tahu akan mengarah ke mana. Tetapi kemudian Marli membuat tanggapan lagi (baca: Seteguk Bir dan Susu Kedelai) yang berhasil menggelitik syaraf dan membuat saya gatal untuk kembali membalasnya.

Kali pertama saya ingin menegaskan kembali bahwa apa yang saya keluhkan bukanlah keadaan saya di tempat kerja. Saya sudah menjelaskan hal ini di tulisan kepada Heru (baca: Sedikit Tanggapan Buat Heru Irfanto). Di sana, saya mencoba menampilkan kesombongan yang penuh hiperbola untuk menjelaskan secara tersirat bahwa masalah yang saya deskripsikan (mengenai padamnya listrik setiap hujan dan sinyal susah) bukan berada di tempat saya. Tetapi meskipun itu terjadi di sini, masihkah kita perlu membandingkan siapa lebih banyak kena polusi, siapa lebih jauh dari keluarga, ataupun siapa yang paling pantas mengeluh dan siapa yang boleh tertawa di antara kita semua? Saya kira tidak.

Sep 5, 2013

Sedikit Tanggapan Buat Heru Irfanto


Talk don't change a thing.  - The Temper Trap (Fader, 2009)

Saya merasa senang. Ocehan saya sebelum ini (baca: Als Ik Eens) mendapat tanggapan oleh Heru (baca: Sebuah Erata). Sebabnya, Heru mengerti bahwa saya sedang mengajukan protes. Bahwa di tulisan itu saya sedang menyindir dan dia mencoba untuk "menenangkan" saya. Dia bilang agar saya tak usah lah banyak berandai-andai dan biarkan saja orang-orang yang saya coba sindir berbuat semau dia. Sebab, Heru yang banyak membaca Chairil mungkin mengamini: nasib adalah kesunyian masing-masing.

Saya setuju pada beberapa poin yang dia kemukakan. Tetapi ada poin-poin yang sebaiknya saya jelaskan ulang agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Menurut apa yang saya tangkap, Heru secara tersirat menganggap bahwa isi tulisan saya hanyalah berisi keluh kesah dan rasa iri. Sehingga tidak perlu diteruskan lebih jauh lagi. Benar saya mengeluh, tetapi yang saya keluhkan adalah kelakuan mereka yang kesombongannya melebihi Firaun sehabis menang undian siapa-yang-menjadi-raja di alam sebelumnya. Bukan mengeluh tentang keadaan saya di Bangko yang jauh dari kemacetan ini. Heru salah jika menganggap keluhan saya adalah rasa iri terhadap apa yang dipamerkan oleh kawan-kawan di Jakarta. Untuk Heru ketahui--jika saya mau sombong--saya bisa berkata bahwa tempo hari saya membeli tiket pesawat termahal di akhir pekan hanya untuk menemui seseorang beberapa jam di Jakarta. Setelah itu pulang. Tak ada alasan sama sekali untuk menumbuhkan sifat buruk yang menurut rasulullah laksana "api yang menggerogoti kayu" itu.

Aug 30, 2013

Als Ik Eens....

*kalau saya penempatan Jakarta


Dalam berbagai media sosial semacam facebook, twitter, instagram, ataupun juga path, banyak sekali dipropagandakan iklan atau promo-promo dari maskapai penerbangan ataupun juga godaan paket wisata dari banyak pihak. Terutama dari Jakarta ke berbagai tempat di seluruh Indonesia. Pegawai instansi yang pernah mengikuti diklat bela negara, atau katakanlah bahwa mereka adalah pelayan masyarakat, tidak boleh lengah. Bahwa ajakan piknik ini tidak lain adalah jerat kapitalisme yang teramat berbahaya, sekalipun ia menawarkan kegembiraan melepas penat setelah lima hari bekerja keras.

Ditinjau dari segi keuangan, bepergian ke manapun tentulah tidak memiliki satu pun kesalahan. Terlebih apabila orang-orang itu bekerja di tempat basah yang menjanjikan gaji per bulan lebih dari cukup kalau hanya untuk makan saja. Oleh karena itu sudah sepantasnya mereka berlibur, terutama ke tempat-tempat wisata di sekeliling nusantara. Bukankah itu menandakan kecintaan terhadap tanah airnya, tanda rasa ingin tahu terhadap keindahan alam yang telah diperjuangkan nenek moyangnya dengan mengorbankan harta, darah dan air mata? Perjalanan keliling nusantara tentulah akan menimbulkan rasa bangga, bahwa negeri ini adalah tempat terbaik di dunia untuk ditinggali.

Aug 26, 2013

Finis

Seorang pujangga besar Indonesia, pada suatu hari menuliskan potongan-potongan sajak yang begitu pesimistis--bahkan cenderung fatalis. Kata dia, hidup hanya menunda kekalahan. Lantas, buat apa kita bersusah payah meneruskan perjuangan?

***
Saya rasa setiap orang berhak menjadi fatalis pada beberapa kesempatan. Dengan begitu ia bisa sedikit berjarak dengan rasa kecewa dan sakit hati. Perasaan yang menurut Shakespeare berawal dari harapan yang terlalu berlebihan.

Memposisikan diri seperti itu, bukan berarti pasrah total dan hanya berbaring malas di ranjang empuk di rumah. Ia lebih seperti seorang difabel yang nekat bergabung dengan para atlet profesional mengikuti lomba lari. Ia percaya bahwa kalah adalah sebuah keniscayaan, namun tak ada satu halangan pun yang berhasil memaksanya untuk berhenti.

Ia tahu bahwa setiap langkahnya bukan satu perlawanan menuju kemenangan. Sekali lagi, ia tahu: di ujung garis finis sana, ia akan berakhir sebagai pecundang. Mengulang apa yang telah ditanyakan di atas, mengapa ia bersusah payah menyiksa dirinya?

Mungkin ia hanya sedikit merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan apa yang ia mulai.

Ketika nanti ia menjejakkan kaki rapuhnya di garis finis, mungkin ia akan sebentar menangis getir. Menyesali kebodohannya sendiri. Selebihnya, ia berhak berpesta. Ia pantas membuka botol bir dan bersulang. Merayakan kesia-siaan dengan penuh rasa bangga. Tak ada yang pantas mencela dan menghinanya. Tidak seorang pun.

***

Karena hanya dengan menjadi fatalis, kau takkan pernah berani jumawa sebelum benar-benar mencapai garis finis.[]

Jul 29, 2013

Deretan Lagu Pengingat Mantan

Melihat ke belakang, menyusuri kenangan, terkadang memang seperti berjalan ke arah belakang. Kita akan banyak terantuk dan menabrak karena mata kita melakukan hal yang tidak seharusnya. Menyusuri kenangan memang perlu dilakukan, namun cukuplah sesekali saja. Seperti kita menatap pada kaca spion yang kecil sebagai bentuk kehati-hatian. Agar perjalanan ke depan semakin nyaman. Agar kita tidak terjatuh pada lubang yang sama untuk kesekian kalinya.

Untuk itu, kali ini saya membuat mixtape untuk mbak-mbak di belahan timur pulau jawa sana. Perempuan yang masih terjebak dalam kubang genangan masa lalu. Anggaplah ini sebuah mixtape nostalgia pengingat mantan. Karena mantan tidak untuk dilupakan. Karena masa lalu, sepahit apapun, telah memberikan sesuatu yang berharga untuk kita di masa datang.

Jun 9, 2013

Penantian

*untuk L si Perempuan Juni; untuk 8 Juni dan hal-hal yang belum selesai

Barangkali Perempuan Juni tak pernah mengetahui dulu ada seorang bernama Ricardo Eliecer Neftalí Reyes Basoalto. Ia pun mungkin tak akan paham jika kujelaskan bahwa seorang tersebut kelak terkenal dengan nama Pablo Neruda, seorang penyair dengan cadangan kesedihan yang seakan tak pernah habis. Biar begitu, toh dia mengamini benar petikan sajak tersendu yang pernah keluar dari ujung lidah Neruda: love is so short, forgetting is so long.

Mencintai itu mudah. Tidak dengan melupakan.

Sebab jika mencintai orang baru dapat kita jadikan permohonan yang akan terkabul dalam doa-doa menyambut ulang tahun, tentu Perempuan Juni saat ini sedang meniup lilin di depan lelaki yang ia kenal beberapa saat lalu. Jika melupakan bisa dilakukan semudah menghapus pesan singkat yang tak diinginkan, pastilah Perempuan Juni takkan keras kepala melewatkan hari spesialnya hanya di kamarnya sendirian, membayangkan masa lalu yang ia kasihi mengejutkannya dengan mengetuk pintu kamar tiba-tiba; mengucapkan selamat atas bertambahnya usia sembari menjulurkan bunga tanda cinta.

Tapi adakah cinta yang bisa dipahami sepenuhnya oleh logika?

Setahun lalu aku mengucapkan selamat ulang tahun kepada Perempuan Juni yang sedang sibuk menanti. Pacarnya berada di seberang pulau dan terpaksa hanya menemani ia melewatkan hari tersebut melalui dering telepon. Saat itu aku yakin Perempuan Juni menyelipkan nama sang pacar dalam doa yang khusyuk ia panjatkan. Sambil malu-malu pada Tuhan, ia memohon agar lelaki yang selalu ia cintai itu untuk lekas-lekas menemuinya.

Tahun ini Perempuan Juni berpisah jalan dengan lelakinya. Tak ada lagi status pacar dalam hubungan mereka. Tak ada lagi sapaan mesra nan hangat dalam ucapan selamat ulang tahunnya. Meski begitu, saat aku mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya, aku tahu Perempuan Juni masih sibuk menanti. Ia, dengan diliputi sedikit kecemasan, selalu berharap bisa mengulang kembali kisah cinta dengan lelakinya. Membangun kembali apa yang terlanjur dirobohkan oleh besarnya ego yang mereka pelihara. Di hari ulang tahunnya kali ini pun Perempuan Juni masih menanti seperti tahun yang sudah-sudah.

Lalu apa yang bisa aku katakan kepada Perempuan Juni?

Selamat ulang tahun. Dengan atau tanpa lelaki yang kaukasihi di sampingmu, jangan lupa untuk berbahagia. Tak perlu takut dibilang bodoh karena menanti sesuatu atas nama cinta. Karena seperti kata Orhan Pamuk yang lahir pada Juni pula:

Es el amor el que vuelve estúpidas a las personas o es que sólo los estúpidos se enamoran?

May 6, 2013

Untuk Anakku Kelak

*tentang mimpi dan harapan


Anakku sayang,
Kelak, jika kau telah belajar untuk membaca dan mengetahui apa yang telah kutulis ini, mungkin ayah sedang berada jauh di tempat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Menjalani kehidupan dengan momok yang bernama "mutasi" keliling Indonesia sebagai PNS di sebuah kementerian di negeri kita. Ini sungguh bukan mimpi ayah waktu kecil dulu. Namun harus ayah jalani agar bisa mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membayar cicilan rumah, makanan sehari-hari kita, juga biaya sekolahmu yang kian naik tiap harinya.

Perlu sedikit kuceritakan padamu bahwa tempat pertama ayahmu bekerja bahkan belum pernah ayah kunjungi dan dengar namanya sebelumnya. Sebuah kabupaten kecil di daerah Sumatera. Beruntung, di sini ayah temukan banyak kawan baru yang senasib pun sepenanggungan. Mereka adalah orang-orang tangguh yang turut mewarnai hidup ayah. Orang-orang yang rela hidup terpisah jauh dari keluarga dalam menjalani hidup dan hari-harinya. Mungkin sama juga dengan nasib ayah sewaktu kau membaca surat dari ayah ini.

Kelak, ketika kau beranjak besar nanti, kau akan sering marah pada ayahmu ini. Marah tersebab kelewat rindu karena ayah tak bisa setiap hari melihat dan mengelus rambutmu setiap malam sebelum kau berangkat tidur. Untuk satu dan banyak hal, ayah meminta maaf sebesar-besarnya kepadamu. Karena sebuah perintah yang mereka sebut sebagai tugas negara, ayah harus meninggalkanmu di sebuah kota. Agar kau tak perlu ikut takluk pada jarak seperti yang ayah alami bertahun-tahun lamanya. Agar kau bisa menikmati indahnya hidup tanpa harus sering mengucap perpisahan pada kawan-kawanmu.

Apr 24, 2013

Adieu

Ada hal yang menyebalkan dari suatu pertemuan. Sudah tentu karena ia selalu hadir satu paket bersamaan dengan sebuah perpisahan. Perpisahan yang terkadang begitu liris dan tak pernah bisa ditebak kapan ia akan hadir. Dan, meskipun saya telah tahu sedari awal bahwa perpisahan, cepat atau lambat, suatu saat akan hadir, toh mau tidak mau saya merasakan kesedihan saat berhadapan muka dengannya. Apalagi, hati terlanjur berkata bahwa saya telah mendapatkan banyak sekali kenangan yang rasanya akan sukar saya lupakan begitu saja.

Hari Rabu terakhir saya mengenakan seragam di KPP Pratama Purwokerto mungkin menjadi salah satu Rabu tersedih dalam hidup saya setelah kematian nenek pada bulan Juli 2004 yang jatuh pada hari Rabu pula. Saya berdiri sendiri. Menerawang ke sekeliling. Berjalan sepanjang lorong kantor. Naik turun tangga ke ruangan-ruangan. Lalu berpamitan pada seisi kantor. Memang tidak semua pegawai cukup meninggalkan kesan yang berarti selama saya berkantor di tempat itu. Tapi bukankah tak pernah ada bagian yang menyenangkan dari sebuah perpisahan?

Feb 27, 2013

Menjelma Sisifus

Seorang kawan bercerita tentang pengalaman buruknya. Atau, mungkin, buat dia, kata buruk saja tidak cukup. Dia berusaha mengakrabi sesuatu yang ia kenal dengan nama cinta, mencoba bersetia pada orang yang sama. Kurang lebih 4 tahun ia melakukan pendekatan dengan perempuan pujaannya. Sayang, respon yang ia dapat tidak begitu bagus.

Sang perempuan sebenarnya sudah berkali-kali mengirim sinyal negatif. Beberapa kali ia mendapat penolakan. Tetapi kawan saya merupakan tipe pejuang yang kehilangan kata menyerah di tengah hidupnya. Ia terus bersemangat mendekati sang perempuan. Kemarin, untuk kesekian kalinya ia menyatakan cinta. Kesekian kalinya pula ia beroleh penolakan. Ia, tanpa disadari, telah menjelma menjadi perwujudan Sisifus di dunia.

Feb 21, 2013

Kupu - Kupu Cantik

Kupu-kupu cantik yang tahu dan sadar pada kecantikannya itu menyebalkan. 
Setidaknya, demikianlah yang dikatakan oleh adik. Entah kenapa dia tiba-tiba berkata seperti itu. Adik bahkan belum lagi duduk di bangku sekolah dasar dan memperoleh pelajaran IPA. Lagipula, dia tak pernah mengalami kejadian traumatis yang berhubungan dengan kupu-kupu. Ketika kutanya alasannya, dia kemudian menceritakan apa yang akhir-akhir ini ia alami.

***

Beberapa hari lalu, adik melihat seekupu-kupu terbang rendah di halaman rumah. Agak mengherankan sebetulnya. Di kota yang sumpeknya bukan main, ditambah fakta bahwa rumah kami hanya bertempat di sepetak tanah sempit di perumahan, masih ada kupu-kupu yang sudi berkunjung. Charles Darwin mungkin akan terkejut bahwa ada kupu-kupu bersayap cerah hadir di tengah kepulan asap yang tiada kunjung berhenti. Namun itulah faktanya. Seekor kupu-kupu kuning berbintik tiba-tiba datang pada suatu sore. Hinggap pada bunga tapak dara. Sesaat kemudian terbang, kemudian hinggap lagi. Seolah ia sedang menari dengan gaya menggoda siapapun yang sedang melihatnya.

Feb 12, 2013

Selepas Perbincangan

Kemarin, di halte yang apak oleh debu, di bawah gedung-gedung tinggi, perbincanganku denganmu berselisih jalan. Kamu diam. Sementara aku terus mencerocos sederas hujan yang menghentikan langkah kita berdua.

"Aku telah menanti begitu lama. Aku telah kehabisan kata untuk membuatmu sekadar memahami arah perbincangan ini."

"Mantan kekasihku pernah melakukan yang lebih baik darimu. Tapi tetap tak mengubah fakta bahwa dia sudah menebas kepercayaan yang aku tanam bertahun-tahun lampau. Apalagi kamu. Apalagi perbincangan kita baru berjalan sepenggalah. Bagaimana bisa aku kembali percaya pada orang lain semudah itu?"

"Aku telah bertaruh pada ribuan kilometer jarak sebelumnya hanya untuk bisa berdiskusi denganmu. Untuk membuktikan bahwa aku memang mencintaimu."

"Kamu sendiri yang bilang bahwa dalam cinta, seringkali pengorbanan tak berarti. Masing-masing dari kita punya bahan pertimbangan tersendiri, bukan?

"Tapi bolehkah aku berusaha meyakinkanmu? Hingga saat itu tiba, izinkanlah aku menunggu."

"Entahlah. Aku rasa beberapa orang tak pantas menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu. Termasuk kamu..."

Kemarin, kata telah kehabisan suaranya. Perbincanganku denganmu lindap dalam deram lalu-lalang kendaraan. Bus datang. Hujan reda. Aku dan kamu tertinggal dalam lamunan masing-masing. []

Feb 6, 2013

Wawancara dengan Nuran Wibisono

Aunurrahman Wibisono (akrab dipanggil Nuran) adalah mahasiswa S2 salah satu kampus ternama di Yogyakarta. Di samping itu, dia juga menggeluti berbagai bidang keilmuan. Mas Nuran adalah seorang traveler, pengamat musik, komentator sepak bola, penulis, kritikus, tukang parkir terminal Condong Catur, pengutil gorengan di warung burjo, dan berbagai label yang melekat padanya. Oke. Dua yang terakhir berlebihan. Tetapi selain itu, memang benar adalah seorang Nuran. Tak heran bahwa dia bisa terpilih sebagai Putra Terbaik Jember sepanjang masa.

Pada suatu hari, saya melakukan sedikit wawancara di sela kesibukan mas Nuran mengerjakan thesis. Fokus wawancara kali ini adalah soal musik dan dunia kepenulisan. Untuk apa? Bukan untuk apa-apa. Hanya saja saya sedang tidak ada kerjaan. Sebelumnya saya sempat bertanya melalui twitter terlebih dulu apakah mas Nuran ada waktu luang untuk diwawancarai. Jawabannya sungguh membumi.


Feb 5, 2013

Lahmudin dan Lubang Dinding

You live and learn. At any rate, you live.

Saya kembali latah mengutip. Kali ini yang saya kutip di atas adalah omongan seorang Douglas Adams, seorang penulis asal Inggris. Bukan apa-apa, tetapi tulisan kali ini akan sedikit bersangkutan dengan ucapan Douglas Adams tersebut. Karena hidup, di manapun dan bagaimana caranya, sejatinya adalah sebuah proses pembelajaran yang berulang-ulang dan tak pernah berhenti.

Malam ini saya teringat pertanyaan seorang kawan beberapa waktu lalu: sejauh ini, buku apakah yang paling berpengaruh dalam hidup saya?

Saya mencoba mengganti istilah paling berpengaruh dengan paling berkesan. Karena bagi saya masing-masing buku meninggalkan pengaruh yang berbeda dalam pemikiran saya. Tetapi, hanya satu yang memiliki kesan mendalam. Buktinya kurang lebih 15 tahun lalu saya baca dan sampai hari ini masih ada ingatan yang sisa. Saya tak tahu pasti mengapa betul-betul terkesan karena buku tersebut bukanlah buku terkenal dengan penulis besar. Saya hanya mendapati buku tersebut di perpustakaan SD saya yang sumpek dan lusuh penuh berdebu: Lahmudin dan Lubang Dinding.

Feb 4, 2013

Sudah

Pernahkah kau bosan pada kata-kata?
Pernahkah kau merasa alinea hanya berisi huruf yang berserakan, seperti kotoran?

Saya pernah.
Lebih tepatnya, saya sedang mengalaminya. Sekarang.
Membaca tulisan saya sendiri ternyata memuakkan. Bahasa yang tak teratur. Ide yang tak tersampaikan. Lompatan pikiran dan cerita yang tak linear. Bah, bisa-bisanya saya berani mengeluarkan tulisan seburuk ini?

Berak!

Kapan saya sudahi menulis busuk dan berhenti meracau yang seringkali hanya menyerupai (maaf) orang berak? Entah.

Pramoedya bilang jangan pernah meremehkan tulisanmu sendiri. Biar bagaimanapun mereka adalah anak-anak rohanimu. Meski cacat. Meski rusak dan tak seperti yang kauharapkan. 

Lantas apa solusi dari muak yang kian hari kian bertambah ini?

Entah.

***

Pada suatu titik aku akan mati
tanpa gaduh
Atau sekadar berhenti
--membunuh jenuh

Feb 3, 2013

Rantau

[i]karena jarak mengajarkan rindu
maka, izinkan aku mengangkat sauh, ibu
Beberapa tahun lalu, saat usiamu masih ranum, dan aku masih tak rela ditinggalkan, apalagi punya pikiran berpisah dengan satu, atau bahkan lebih, orang yang kucinta, untuk jangka waktu yang lama, kau dengan lancang menghadirkan mimpi buruk pada tiap malamku. Kau meminta restu untuk merantau. Aku, ibumu dan suamiku, bapakmu dengan berat hati, dengan muka ikhlas yang dipaksakan, harus membukakan pintu harapan padamu yang belia. Padamu, anakku, yang hendak menjemput mimpi di negeri orang. Padamu, anakku, yang hendak mengabdi pada negara di mana leluhurmu telah berjuang.
[i]“duh, yang bernama keberangkatan
betapa ranum di matamu. hingga kau hapus
segala yang sisa.”

Feb 2, 2013

Mesin Pekicau

Hari-hari ini, twitter begitu menyebalkan buat saya. Ia kerap kali membuat saya menerka-nerka. Meski dalam banyak hal twitter juga menguntungkan. Berita yang begitu cepat terbarui, tautan bacaan yang mencerahkan, atau dalam titik yang paling rendah: gosip antar kawan yang tak pernah terlewatkan. Seorang kawan, dengan penuh sindiran pernah mengatakan bahwa lambat laun twitter akan mengalahkan google karena banalitas para penggunanya. Terutama di Indonesia, para pekicau di lebih senang bertanya di twitter daripada mengetik sebentar di google atau mesin pencari lainnya untuk mencari informasi yang ingin ia ketahui. Untuk membuka buku, saya kira lebih parah lagi. Meski tidak melalui riset terlebih dahulu, saya yakin para pengguna twitter yang rajin update melalui gadget dan ponsel pintarnya jauh lebih malas. Nah, kan. Bahkan di dalam blog saya masih berprasangka!

Ada satu lelucon yang menganalogikan para pegiat internet, terutama pemakai media sosial dengan tipikal orang-orang di bar. Para blogger merupakan orang yang lebih senang duduk di depan bartender. Mereka lebih senang di tempat yang agak sepi, sesekali berbincang dengan kawannya dan lebih butuh didengarkan. Pekicau di twitter adalah orang-orang yang membaur di lantai dansa. Senang dengan keramaian dan lebih suka mencari perhatian. Lalu, bagaimana dengan mereka yang suka berkeluh kesah dan memenuhi beranda facebook? Di mana mereka berada? Ah, mereka di kamar mandi....muntah-muntah.

Feb 1, 2013

Gado - Gado

Pesawat

lepas landas
                  pukul tujuh lima belas
kata langit di atas
kau sibuk bernyanyi
                  tentang cinta yang tak kaubalas

***

Tua

malamku terbuat dari tiga kata
bandara. sofa. kereta.
kereta. bandara. sofa.
entah apa tautan kesemuanya
aku lupa

kepala makin ringan
kutuang lagi anggur bermerk lelaki tua
ah, aku ingat
; ada seorang kakek tertidur di bangku stasiun kota

***

Tentang Menulis

*kepada Raden Fachrur

bacalah!
seru sebuah suara ghaib
Muhammad ibn Abdullah, namanya
terlihat ketakutan

bacalah!
terdengar kedua kalinya
Muhammad makin menggigil

bacalah!
untuk ketiga, lalu sudah
Ia berkalang selimut sesampai di rumah

tulislah!
ujarku kali ini
kepadamu
semoga usia bacamu sepanjang
 angka dalam kue ulang tahunmu

Jan 31, 2013

Babon

Babon adalah seekor monyet warga desa terpencil di kerajaan monyet. Dia adalah seekor monyet yang cerdas. Atau, setidaknya, begitulah yang dia rasakan. Dia kerap membaca ensiklopedia monyet sehingga dia bahkan menjadi jauh lebih cerdas dari para tetua yang sering dimintai petunjuk oleh warga desa. Dia belajar banyak dan disebut-sebut sebagai Einstein-nya monyet. Konon, beberapa tetangganya melihat lintang kemukus pada malam dia dilahirkan. Sebuah tanda bahwa mereka telah kedatangan tamu agung yang kelak akan mempunyai pengaruh besar di dunia ini.

Perlu diketahui, kerajaan monyet adalah sebuah kerajaan kecil yang jauh dari pemberitaan. Jika saat ini media sibuk meliput berbagai macam tindak kriminal di dunia manusia, di kerajaan monyet sebenarnya tidak jauh berbeda. Berbagai jenis tindak kelicikan, kecurangan, serta tipu menipu sudah jadi hal yang lumrah di kerajaan monyet dalam memperebutkan jabatan, uang, juga pisang. Bedanya, di kerajaan monyet hampir tidak ditemukan kasus pemerkosaan karena mereka biasa melakukan hubungan seks atas dasar suka sama suka. Selain itu, hampir sama. Degradasi mental dan jiwa yang korup telah menimpa sebagian besar warga, apalagi birokrat monyet yang duduk di kursi pemerintahan. Sampai hari ini, belum ada yang bisa mengatasi kekacauan ini. Beberapa pengamat mengatakan belum masuknya agama di kerajaan monyet lah sebagai penyebab ketimpangan moral yang terjadi di sana. Namun, walaupun begitu, manusia sepertinya harus belajar. Mereka para monyet tak pernah tergoda untuk korupsi pengadaan kitab suci ataupun suap sapi. Bukan apa-apa. Memang tidak pernah ada pengadaan kitab suci kok. Lagian monyet tidak suka daging sapi. Mereka lebih suka pisang.

Surat Terbuka Untuk Anda yang Pernah Menulis Surat Terbuka

Halo, selamat siang!

Mungkin saat saya menulis ini anda tengah tertidur pulas karena di luar panasnya bukan main. Mungkin juga anda sedang meninggalkan rumah untuk sementara, bepergian ke mana pun demi menjaga kewarasan otak yang dipaksa menganggur dalam jangka waktu yang belum ditentukan. Atau bisa saja anda memilih bekerja di sebuah kantor atau membikin usaha sendiri untuk mengisi dompet yang keburu tipis karena anda tak pernah memiliki kesempatan menabung di liburan yang sangat panjang ini. Sedang apapun dan di mana pun anda berada, saya doakan agar kesehatan dan keselamatan selalu dilimpahkan kepada anda, pemuda yang berjiwa besar dan memiliki semangat berapi-api.

Sebelum melanjutkan surat ini, saya ingin membuat sebuah pernyataan demi menjaga hubungan baik. Saya memang tidak mengenal anda. Anda juga tak pernah melihat muka saya sama sekali. Oleh karena itu saya hendak menyampaikan bahwa dengan ditulisnya surat ini, saya sekaligus ingin menjabat tangan melalui dunia maya dan mengajak anda berkenalan demi sebuah silaturahmi. Semoga suatu saat kelak kita bisa benar-benar bertemu tatap muka karena saya terlanjur menyukai keberanian anda. Mungkin anda menganggap ini sebagai sindiran, cibiran, atau bahkan celaan. Akan tetapi, percayalah. Saya benar-benar salut dengan seorang yang memiliki nyali di tengah banyaknya orang yang sekadar membebek pada sistem yang korup, pada orang yang tidak dapat dipercaya. Percayalah, saya pun sempat akan menulis surat terbuka dengan tujuan sama seperti anda sebelum akhirnya diurungkan karena alasan yang tidak dapat saya ceritakan. Percayalah, orang besar lahir karena memberontak. Bukan karena ia rajin mengikuti pelajaran dan pintar mengulang kembali kemudian hari.

Jan 21, 2013

Jatuh

Look not back in anger, nor forward in fear, but around you in awareness. - Ross Hersey


Pada akhirnya, dalam hidup ini, kita harus tetap berjalan ke depan meski kenangan senantiasa membayangi. Apa yang terjadi di masa lalu memang berulang kali menyandung langkah kaki, tetapi tak lantas hal tersebut dapat dijadikan alasan untuk berhenti. Kita boleh beristirahat sejenak, mengobati luka yang terlanjur mengucur keluar. Namun kehidupan adalah kumpulan repetisi. Semua manusia pada dasarnya hanya mengalami hal-hal yang selalu berulang hingga ia mati. Lalu apa yang membuatmu melabeli kejatuhan kali ini sebagai sesuatu yang spesial, hingga kau berhak menjadikannya apologi?

Aku percaya kamu terbiasa jatuh. Dari kecil, saat kamu baru mulai belajar berjalan dan akhirnya bisa berlari, kamu pasti terjatuh berulang kali. Tetapi sekarang, kulihat ada yang berbeda dari dirimu. Mungkin jatuhmu untuk kali terakhir membuat kamu marah. Marah sekali hingga kerap kamu mengutuk seseorang (atau sesuatu) yang membuatmu terjerembab dengan keras. Sembari menangis kamu meraba-raba kutipan revolusioner dari Zeck de la Rocha: anger is a gift! Kamu limbung seperti orang mabuk. Kamu akhirnya marah. Segera setelah itu, kamu kehilangan kepercayaan pada siapapun karena kali ini kamu dijatuhkan saat kamu merasa benar-benar seimbang dan sedang ingin secepatnya berlari sampai tujuan. Aku percaya kamu terbiasa jatuh. Meskipun demikian, aku tak yakin kamu terbiasa malu. Karenanya, ketika kamu dijatuhkan hingga seluruh dunia tahu, kamu merasa amat marah dan sedikit malu. Pada siapapun yang membuat kamu malu--kita tahu, di sanalah sarang amarahmu.

Aku penasaran. Aku lihat di luar sana ada orang yang sudi mengulurkan tangan, hendak menolongmu, tidak kauacuhkan. Apakah begitu besar kemarahan yang tumbuh hingga kamu susah mempercayai lain yang ingin hadir di hidupmu? Adakah kamu curiga di masa depan orang baru itu memiliki niat tidak saja sekadar menjatuhkan, tetapi juga menghancurkanmu? Kupikir, rasa marah itu seperti api yang membakar suluh kayu. Karena itu kuminta redamlah dengan sejuk dinginnya hatimu.

Aku heran. Mengapa kamu tidak segera bangun sesaat setelah jatuh? Aku yakin kamu mampu dengan mudah melakukannya. Tetapi entah mengapa kamu justru terdiam di tempat dan berkata kamu sedang istirahat, berkata masih ingin menikmati kejatuhanmu, masih ingin mengenang orang yang menjatuhkanmu. Tanpa mengurangi rasa hormat, sayangku, kamu punya banyak tempat lebih layak jika butuh waktu untuk beristirahat barang sejenak. Pindahlah dari situ; dari tempat yang melenakanmu.

Ah. Rasa takut juga marah memang sering kali membuat kita bertindak irasional. Kuharap kau segera sembuh, menata langkah dan berjalan kembali. Bukan penuh curiga, tapi dengan kehati-hatian.

Jan 17, 2013

Ah, kamu..

Aku pernah memberimu tiga buah buku. Salah satunya adalah Cinta Tak Pernah Tepat Waktu karangan mas Puthut EA. Meski aku tak pernah tahu apa dan bagaimana kesibukanmu sehari-hari berjalan, semoga kamu sudah membacanya karena aku ingin mengajakmu sedikit berbincang. Tentang cinta. Tentang asa yang tiba-tiba padam saat kita tengah memperjuangkan apa yang ingin kita dapatkan. Tentang berbagai kemungkinan dan bagaimana cara kita menyikapi hal yang tidak pernah ada dalam rencana kita sebelumnya. Mungkin jika kamu mau, juga tentang aku, tentang kamu: tentang kita berdua.

Jika kamu sudah membaca buku tadi, minimal di bagian-bagian awal, kamu akan sadar bahwa kamu bukanlah satu-satunya orang yang merasa sangat dikecewakan oleh cinta. Mungkin pada Sabtu sore kamu sudah berdandan secantik mungkin, memakai pakaian termahal dan berhiaskan gincu impor kesukaanmu. Parfum telah kausemprot ke seluruh tubuh. Kamu tersenyum melihat cermin karena yakin kamu adalah yang tercantik hari itu. Kamu bersiul, sedikit bersenandung. Kamu berjalan ke rumah pacar dan siap untuk berkencan. Kencan yang paling romantis dengan orang yang paling dicintai.

Tetapi hujan datang tanpa permisi. Kamu yang sudah di tengah perjalanan, menyisakan beberapa langkah menuju rumah pacar, kebasahan tanpa ampun. Kamu kaget. Kamu menangis. Kencan gagal dan justru berakhir dengan duka.

Cinta, katamu kemudian, tak pernah tepat waktu. Pengorbanan tak pernah bisa menjadi bahan pertimbangan....

Jan 3, 2013

Andreas Rossi

Ndre,
Kudengar kau mulai terkenal karena beberapa saat lalu seorang seleb yang setiap titahnya diikuti banyak orang menyanjungmu dengan penuh seluruh. Ia, dalam salah satu ucapannya, memuji tulisan-tulisanmu yang begitu kritis di blog, begitu cerdas membelokkan rumus-rumus yang dengan susah payah ditemukan oleh para ilmuwan, begitu mudah menggabungkan logika mereka dengan perasaan yang susah dijabarkan bahkan oleh kata. Maka, apabila sekarang kau menjadi mahsyur, mulai naik ke pucuk daun seperti ulat--yang dalam iklan pun mencapainya dengan kepayahan--dengan begitu mudah, itu adalah keniscayaan. Menyitir ucapan salah seorang filsuf kenamaan: you think, therefore you are. Kau berpikir. Kau menulis pikiranmu di blog, maka jadilah kau yang ada sekarang. Ini hanyalah sebuah proses sebab-akibat yang sungguh tidak perlu kita perdebatkan lagi.

Ndre,
Kudengar banyak orang mulai menyapamu, mengajakmu berkenalan sebagai bagian dari tindak lanjut peristiwa di atas. Kudengar kau sedang sibuk membalasi sapaan-sapaan mereka sehingga mulai kekurangan waktu untuk beraktivas. Kudengar kau mulai kehilangan waktu-waktu untuk coffee break atau sekadar menghabiskan sebatang rokok demi menjadi ramah di hadapan para penggemarmu. Wajar. Tetapi dengan tanpa mengurangi rasa hormat, semoga kau tetap memiliki, meski hanya sedikit, waktu untuk beristirahat. Semua demi tubuh dan pikiranmu. Kau yang membaca dan mengingat semua hal pasti ingat sebuah slogan latin klasik: mens sana in corpore sano yang artinya.. Ah tidak usah lah. Aku tidak perlu memberitahu karena itu seperti menggarami lautan. Yang pasti, curilah sedikit waktu buat beristirahat agar kau tetap sehat.