Nov 28, 2012

Smadha Purwokerto, Siapa Peduli?

tulisan ini dipersembahkan untuk kawan-kawan penggerak program Smadha Peduli. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang program tersebut, silakan menuju ke sini.

***

Hari Rabu pekan kemarin, tepatnya tanggal 22 Nopember 2012, saya bersama kedua kawan saya yaitu Prima Harsha dan Surio Nugroho berkunjung ke sekolah tempat kami menghabiskan 3 tahun masa SMA: SMA Negeri 2 Purwokerto (selanjutnya akan saya sebut dengan Smadha saja). Sejak kami lulus tahun 2008 lalu banyak sekali perubahan, terutama perubahan fisik gedung sekolah. Bahkan perubahan tersebut cenderung mencolok apabila mengingat konon bangunan-bangunan di Smadha adalah cagar budaya sehingga tidak boleh dipugar dengan mengubah bentuk bangunan pada mulanya. Entahlah. Yang pasti, Smadha jauh lebih bagus dan terkesan modern dengan tampilannya yang sekarang.

Memasuki lapangan, kemegahan Smadha kian terasa. Lapangan sepakbola yang dulu asal hadir sebagai tempat berolahraga kini lebih terlihat cantik. Di sekeliling lapangan telah tersedia running track sehingga lapangan sepakbola Smadha sekarang seperti gelanggang olahraga meskipun dalam konsep mini. Apalagi kini sedang dibangun monumen terima kasih guru yang diinisiasi oleh para alumni sekolah dengan tujuan sebagai wujud persembahan mereka terhadap dedikasi para guru. Luar biasa.

Itu saja?

Penampilan depan tersebut belum seberapa. Tempat pertama yang kami kunjungi, yakni ruangan BK, lebih mengejutkan lagi. Lokasi ruangan BK masih sama seperti waktu saya bersekolah dulu. Hanya saja, bangunan yang benar-benar baru tetap saja membikin orang yang lama tak berkunjung akan terkaget-kaget. Ruangan tempat para siswa berkeluh kesah yang dulu seperti gudang gelap yang tak terpakai kini menjadi sangat bagus. Lantai keramik, pendingin ruangan yang menghiasi, juga ruang tamu yang benar-benar nyaman membuat saya lebih merasa sedang berada di ruang tunggu eksekutif daripada di dalam sekolahan.

Perubahan yang dilakukan Smadha tentu lebih dari itu. Perlu kalian kunjungi sendiri sekolah tercinta ini untuk melihat seberapa besar perbedaannya. Sayang saya tidak sempat mendokumentasikan karena kunjungan kemarin memang memiliki tujuan tersendiri. Tetapi satu yang jelas, hanya dalam tempo sekitar 3 tahun, nyaris total perbaikan yang dilakukan pihak sekolah. Itu baru fisik yang tampak oleh pandangan mata. Dari segi sarana dan sarana lain saya yakin akan jauh lebih banyak lagi. Terutama karena predikat bergengsi sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang oleh banyak orang dijadikan jaminan kemudahan mencapai cita-cita para siswanya.

Tiba-tiba saya penasaran. Apakah program @SmadhaPeduli yang direncanakan oleh kawan-kawan akan tepat sasaran atau justru menjadi program menggarami lautan yang akan sia-sia saja. Di dalam sekolah dengan fasilitas wi-fi yang selalu dapat digunakan kapan saja, masihkah ada siswa yang susah menerima rapor karena telat membayar SPP? Di dalam sekolah yang parkiran sepeda motornya selalu penuh dan bahkan meluber hingga ke luar wilayah tempat parkir, masihkah ada siswa yang bahkan membeli buku pun masih kesulitan? Jika kalian memiliki jawaban, "tentu saja tidak, sekolah sekarang, apalagi dengan predikat menjulang RSBI, kan butuh duit banyak. Paling banter cuma anak-anak kelas menengah manja yang bisa memenuhi ruang kelas," berarti kalian belum sampai pada bagian terpenting tulisan ini.

"Ibu senang sekali walaupun sudah kerja, sudah punya kesibukan sendiri, kalian masih ingat dengan sekolah ini. Ibu harap kalau kalian sudah sukses, sudah mapan, kalian menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu adik-adik di sini," tutur bu Yuni, salah seorang guru BK.

Sambil sesekali berbincang santai dan menikmati hidangan, kami--saya, Prima, dan Surio--terus mendengarkan guru-guru BK yang sedang memberi kabar tentang kondisi para siswa. Ternyata di Smadha masih banyak siswa yang memiliki semangat belajar tinggi, tetapi berkekurangan secara ekonomi. Bahkan, mengikuti penjelasan bu Yuni kemudian membuat saya sedih sekaligus terharu.

"Di SMA 2 bahkan ada yang terpaksa makan nasi plus kecap atau kerupuk karena saking tidak mampunya mas. Dia di Purwokerto ngekos dan hanya memperoleh uang saku sekitar 5 ribu rupiah per hari. Jadi ya mau tidak mau harus prihatin,"

Bu Yuni ngendika dengan roman serius. Rasanya tidak mungkin jika beliau berbohong atau melebih-lebihkan informasi di saat seperti ini. Lanjut beliau, siswa yang kesulitan seperti itu tidak hanya satu, tetapi lumayan banyak.

Hingga sedemikiankah ironi yang terjadi di almamater saya ini? Katanya semua aspek diperbaiki? Katanya RSBI? Harusnya ada sistem yang baik untuk mengatasinya kan? Entah dengan cara subsidi silang, beasiswa-beasiswa, atau semacamnya. Berbagai pertanyaan kemudian muncul menghinggapi benak saya. Tetapi guru BK lainnya buru-buru melanjutkan penjelasan mereka.

"Kita sudah tolong semaksimal mungkin. Ada BOS, ada beasiswa prestasi, juga bantuan-bantuan alumni. Semua sudah kita kasihkan kepada mereka yang berhak. Pokoknya semua yang kami bisa sudah kami lakukan. Tetapi tetap saja itu belum bisa membantu biaya yang semakin hari semakin mahal dengan tuntas. Susah mas," ucap bu Restu.

"Bahkan di SMA 2 kita adakan program makan bersama. Jadi tiap beberapa waktu sekali kita kumpulkan anak-anak, kita ajak makan bareng di ruangan BK yang sudah direhab ini. Selain buat kebersamaan kan lumayan membantu juga walaupun hanya sekali-dua kali," kata guru BK lainnya.

Ternyata di balik tembok-tembok gedung yang kelar direhab, masih ada persoalan-persoalan yang belum selesai. Perubahan dan niat baik yang digagas oleh pihak sekolah pun masih dan akan terus tetap berujung pada kendala selama tidak ada timbal balik (untuk hal ini maksudnya adalah bantuan) dari masyarakat. Dalam hal ini, minimal dari alumni yang bangga pada sekolahnya. Timbal balik itu, saya kira, harus segera datang dan selalu dilaksanakan secara kontinu agar kendala yang dihadapi oleh guru dan siswa ini bisa teratasi, atau minimal dapat dikurangi. Untuk sekarang, saya tidak takut pada tulisan Meina yang khawatir seandainya akan ada sekolah-sekolah roboh karena kurang dana. Justru di Smadha ini saya khawatir sekolah bagus namun susah dimasuki oleh siswa-siswa berprestasi yang kekurangan di bidang ekonomi.

Memang pendidikan itu mahal. Saya merasa sedih mengingat banyaknya orang tua, termasuk orang tua saya dulu, mati-matian menyekolahkan anaknya. Demi bisa melihat putra-putri kesayangan tidak mengalami kesusahan dan penderitaan seperti mereka dahulu. Tetapi, di sela-sela kesedihan, saya merasa bangga. Di tengah keterbatasan, ternyata banyak anak yang tidak mudah putus asa. Saya bangga pada mereka yang tidak minder berjalan kaki jauh walaupun teman-teman mereka dilengkapi fasilitas sepeda motor atau mobil sekalipun oleh orang tuanya. Saya bangga pada mereka yang rela ngekos dan tidur di Mushola sekolah demi menghemat ongkos transportasi karena rumah mereka yang begitu jauh dan sukar dijangkau oleh kendaraan umum. Saya salut pada api semangat bocah-bocah penerus bangsa yang seakan takkan kunjung redup.

Sepulang dari kunjungan ke Smadha, saya bertekad untuk membantu mereka-mereka yang kurang mampu tadi. Saya janji akan menyisihkan sebagian rejeki yang saya dapat. Meskipun tak seberapa, tetapi setidaknya bisa meringankan beban orang tua mereka. Tak ada satupun anak sekolah yang berhak putus sekolah karena kekurangan dana. Tak ada satupun anak sekolah yang pantas dipinggirkan dalam penerimaan rapor karena belum membayar SPP. Saya tahu itu menyakitkan.

Saya yakin Prima, Surio, dan kawan-kawan lain pun demikian. Mengutip sebuah iklan, kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?
 

1 comment:

  1. Terima kasih, semoga makin banyak yang peduli dengan anak-anak dan pendidikan. Semoga berkah.

    ReplyDelete