Nov 21, 2012

Semeru, Sebuah Catatan Perjalanan

Awalnya adalah Murdani. Manusia pliket dari planet Namec ini pada suatu hari yang membosankan di kantor tiba-tiba melontarkan ajakan mendaki gunung tertinggi di Jawa: gunung Semeru. Iya, diajak. Entah dengan Sholeh. Saya yakin ia tidak diajak, tetapi merengek ikut trip kali ini walaupun sudah jelas ada larangan membawa binatang peliharaan oleh TNBTS. Tapi tak apa. Saya bisa memasukkan Sholeh ke dalam trash bag atau entah apa nantinya. Yang penting berangkat saja dulu lah. Toh sudah lama sekali sejak kali terakhir saya tidur berdesak-desakan di dalam tenda.

Setelah anggukan kepala tadi, segera saya mulai melakukan persiapan-persiapan. Termasuk memesan tiket kereta sejak jauh-jauh hari dan mengumpulkan terlebih dulu peralatan yang akan dibawa. Karena beberapa peralatan outdoor saya tak pernah terpakai sejak SMA, jadilah itu barang-barang hilang entah ke mana. Selanjutnya, dengan sedikit usaha dan banyak utangnya, saya berhasil membeli separuh nyawa yang harus dibawa dalam perjalanan, seperti matras dan sleeping bag. Sungguh total yang saya lakukan karena terlalu semangat dengan rencana ini hingga tak terpikir bahwa akhirnya kedua barang tadi sama sekali tak terpakai di lapangan.

Namun, menjelang hari keberangkatan, tiba-tiba ada kabar bahwa satu pihak yang tak ingin saya sebut namanya mengadakan acara jambore dan bersih gunung massal. Sudah terbayangkan banyaknya pendaki yang akan ikut hingga berita penutupan jalur pendakian karena daftar tamu TNBTS telah melebihi kapasitas. Awalnya kami sempat ragu. Tetapi berkat arahan dan doa dari koordinator perjalanan kami yang sangat manjur, simbah Rico, kami tetap membulatkan tekad untuk berangkat ke Malang. Rombongan Purwokerto, Jogja, dan Semarang segera berangkat menuju Surabaya sebagai meeting point yang telah dijanjikan.

14 November 2012
Rombongan Purwokerto, sepulang kantor segera bergegas mencapai stasiun untuk menaiki Gaya Baru Malam yang berangkat dari Stasiun Purwokerto pukul 18.27. Seonggok Sholeh, menyusul masuke ke kereta yang sama dari Jogja. Sedangkan seseorang bernama Ipeh start dari Semarang entah memakai apa.

15 November 2012
Kami (rombongan Purwokerto+Jogja) tiba di Stasiun Gubeng pada tanggal pukul 02.45, saat sebagian besar penghuni stasiun masih kosong. Nah, tiba-tiba Murdani segera kebelet ingin melaksanakan ritual *censored* *censored* *skip* *skip* skip hingga kami tiba di kos simbah dkk dan berangkat bersama menuju Tumpang, Malang.

Tiba di Tumpang sekitar pukul 13.00, tetapi Jip untuk ke Ranu Pani masih belum tiba sehingga kami harus menunggu terlebih dahulu di salah satu masjid di sana. Satu jip datang tak berapa lama kemudian. Tetapi jip kedua mengalami kerusakan dan baru bisa datang sekitar pukul 16.00 sehingga jadwal yang kami susun mengalami keterlambatan parah: kami tiba di Ranu Pani sekitar pukul 18.20 dengan disertai guyuran hujan.

Jadwal yang tersusun pun berantakan. Rencana awal bisa sampai di Ranu Kumbolo pukul 21.00 dan menginap di sana harus kandas. Bahkan sebelum kami memulai tracking dari Ranu Pani, penjaga pos di sana sempat memberi pengumuman bahwa jalur pendakian ditutup pukul 4 sore. Penyebabnya, jalur yang gelap dan hujan telah menyebabkan seorang pendaki pingsan antara pos 1 sampai pos 2. Tim SAR tidak mau mengambil resiko kemungkinan ada lagi pendaki yang seperti itu, bahkan lebih buruk.

Di sinilah kesungguhan tekad kami untuk mendaki diuji, apakah berani merambah hutan gunung yang gelap atau menunggu hari beranjak terang dengan konsekuensi kembali merusak jadwal perjalanan yang telah mundur sejak awal. Agus yang terindikasi memiliki hubungan gelap dengan Cecep namun telah teruji klinis memiliki pengalaman mendaki di Stapala menawarkan pilihan tersebut. Pilihan kami sama: menerobos larangan mendaki di malam hari demi melihat matahari terbit di Ranu Kumbolo.

Walaupun siap menanggung resiko, tetapi kami memilih menanti suasana tenang terlebih dulu (baca: menanti penjaga tidur agar kami bisa menerobos tanpa terlihat). Untuk itu kami sempat mendirikan tenda di Ranu Pani untuk beristirahat. Satu tenda saja bagi para perempuan. Sebagian lelaki tidur ayam di pos. Sedangkan saya, Agus, dan Cecep memilih mencari warung kopi untuk menghangatkan badan. Sebentar… Saya salah duga. Di sana Agus dan Cecep ternyata menghangatkan badan dengan saling berpelukan, bukannya memesan kopi. Jadilah saya menyesap kopi sendirian sambil menatap gelapnya langit. Halah!

Oke. Singkat cerita, kami start dari Ranu Pani pukul 22.50 dengan sedikit suasana mencekam. Kecekaman itu terbukti. Di tengah jalan, kami berpapasan dengan seorang pingsan yang tengah ditandu ke bawah oleh tim SAR. Dengan meningkatkan kewaspadaan dan menambah doa, kami melanjutkan pendakian hingga Alhamdulillah kami sampai di Ranu Kumbolo pukul 5 pagi keesokan harinya.
 


16 November 2012
Sesampainya di Ranu Kumbolo, kami segera mendirikan tenda. Meskipun waktu yang tersedia tinggal sedikit, tetapi nampaknya seluruh anggota perjalanan terlihat sangat kelelahan. Kami memerlukan tidur dan makan. Segera saja tenda berdiri dan makanan siap untuk disantap. Beberapa memilih makan dan sisanya memilih tidur terlebih dahulu. Setelah beristirahat sebentar, sangat sebentar, pukul 10.00 kami bergegas untuk packing persiapan pulang.






 
Akhirnya, sekitar pukul 10.50 kami telah siap untuk turun kembali. Well, Ranu Kumbolo pagi itu sedang tidak bersahabat. Puluhan (atau bahkan ratusan) tenda yang menyambut terlihat mengganggu pemandangan. Jadilah kami memilih secepatnya pergi dari tempat tersebut. Niat pergi ke puncak buyar seketika saat melihat banyaknya pendaki berlomba untuk memenuhi areal gunung Semeru.

Tiba-tiba saya teringat Junghuhn. Seorang peneliti lingkungan yang sangat mencintai gunung-gunung di Indonesia. Dalam salah satu tulisannya, beliau berucap begini:
Masih seperti hidup terkesan di dalam benakku,
hutan rimba nundisana yang terhias oleh hijau abadi
beribu ribu bunga, yang harumnya tidak pernah melemah





Ironis. Melihat banyaknya pendaki. Akankah hijau Semeru mengabadi? Entahlah....

Trip Semeru
Waktu        : 14-17 November 2012
Peserta      : Gita, Dani, Arik, Sholeh, Agus, Cecep, Simbah, Azna, Ipeh, Tina, Arif, Guntur,   Fadli, mas Ali

6 comments:

  1. saya suka bagian "dilarang membawa binatang peliharaan" :))

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Yang pertama emang nggak ada niat ke puncak. Ada agenda rafting setelahnya.
      Kedua, udah males lihat parade tenda di Ranu Kumbolo. Sesak, hehehehe

      Delete
  3. beuh, sampe ranu kumbolo jam 5 pagi?
    lama jg ya, tracknya lumanyun berarti iki, haisssh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu santai jalannya. Kalo mau cepet bisa tiga jam kok. Asal udah ahli aja :P

      Delete
  4. semeru milik semua orang, yang penting pandai2 merawat dan menjaganya.....

    ReplyDelete