Oct 17, 2012

Setelah Saujana

Teruntuk kawan-kawan yang sangat antusias bergabung dalam saujana.

Saat mengunggah cerpen-cerpen di blog saujana, saya dipenuhi perasan gembira yang meluap-luap. Perasaan senang yang berbeda dari biasanya. Kesenangan yang dibuat sendiri tanpa harus menunggu pemberian dari orang lain, yang ditemani semangat kebersamaan dari kawan yang telah lama tidak saya jumpai. Kesenangan yang disertai setitik asa bahwa masih ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk membunuh jenuhnya rutinitas.
 
Saya teringat Santiago, si tua dalam novel Hemingway. Buatnya, hidup hanya  sebatas pekerjaannya sebagai nelayan, yaitu melaut. Mencari ikan untuk ia santap setiap hari. Tidak ada kesenangan dalam rutinitas yang ia lakoni. Apalagi sebagai seorang nelayan miskin yang telah melewati masa kejayaannya, ia lebih sering kekurangan tangkapan. Itu sama sekali bukan hidup yang ia inginkan. Meskipun tak pernah mengatakannya, jauh di dalam hati ia masih menyimpan mimpi-mimpi masa mudanya: bertualang. Ia merindukan padang rumput, singa-singa Afrika, juga pertarungan dengan musuh yang menghadang jalannya.

Itulah sebabnya ketika pada suatu hari seekor ikan Marlin raksasa memakan umpannya, ia merasa tertantang. Ia dengan segera menyingkirkan fakta bahwa kemampuannya telah dimakan usia. Kekuatan yang ia miliki sekarang memang tak lagi bisa digunakan untuk sekedar adu panco. Tetapi bayangan tentang petualangannya di masa muda kembali hadir saat itu. Apa yang ia hadapi di depan mata terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja. Pada akhirnya, ia berhasil mengalahkan kegamangannya sendiri. Kekhawatiran yang sempat muncul—apakah ia bisa menangkap Marlin tersebut tanpa Manolin yang telah meninggalkannya—hilang saat ia berhasil mendarat. Meskipun yang ia dapatkan hanya berupa sisa tulang Marlin, buat Santiago hal itu bukanlah masalah. Yang terpenting, ia telah membunuh sepi hari-harinya dan menjawab cemoohan orang-orang yang ditujukan padanya. Ia masih memiliki sesuatu untuk dibanggakan: sebuah tekad.

Terkadang manusia memerlukan tantangan agar ia dapat melampaui batas kemampuannya sendiri.
 
Hal di atas adalah alasan mengapa ada saujana. Sebuah tawaran, tantangan untuk mereka yang berminat dalam bidang tulis-menulis. Sebuah ajakan untuk bersenang-senang bersama, sekaligus ajang untuk memacu kemampuan dalam menulis. Ajakan untuk “bertemu” kawan-kawan yang telah lama tidak berjumpa, untuk "bertemu" kawan-kawan baru yang luar biasa. Karena itulah, ketika beberapa kawan menjawab tantangan ini dengan antusiasme yang tinggi, saya merasa senang sekali. Saya berutang banyak terima kasih kepada mereka.
 
Selain itu, saujana hadir di tengah kita yang berstatus sebagai pegawai kantor untuk melepaskan dahaga. Oase untuk mereka yang  jenuh dengan kegiatan sehari-hari. Berhadapan dengan komputer, membereskan berkas, juga setumpuk pekerjaan membosankan lainnya. Sebuah koma, tanda untuk berhenti sejenak sebelum kita meneruskan “membaca”. Sebuah rest area agar kita kembali segar ketika melanjutkan perjalanan yang melelahkan.
 
Saya mengingat sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Ketika diasingkan ke pulau Buru, ia memiliki kebiasaan unik. Hampir setiap ada waktu luang ia membakar sampah. Ia melakukannya agar ia tak lagi mempunyai waktu untuk melamun dan meratapi nasibnya. Ia membakar sampah untuk menyibukkan dirinya, supaya kewarasannya tetap terjaga. Supaya otaknya tidak kosong hingga menjadi frustasi. Ia menolak takluk kepada penguasa keparat yang membiarkan ia jatuh, penguasa yang menginginkan ia gila.menanti saat pembebasan.
 
Kemudian inilah saujana. Dengan segala keterbatasannya. Sebuah proyek “apa adanya” yang dilakukan beberapa orang anak. Proyek bersama yang dibuat untuk menjaga kewarasan otak kita dalam menanti kepastian di masa depan. Proyek yang saya harap tidak berhenti sampai sini saja. Sebab, hanya Chairil yang pantas berteriak, “sekali berarti, sudah itu mati…”

2 comments:

  1. Tetap dengan gaya bahasa yang lo banget, kayaknya ada yang sedikit berubah dari gaya penceritaan biasanya. Entahlah, ngerasa aja. Terpengaruh siapa, Git?

    Baiklah, gue juga mau mengungkapkan perasaan gue tentang Saujana .

    ReplyDelete