Sep 26, 2012

Tentang Nikah Muda

*untuk seorang kawan

Adakah yang lebih mencemaskan ketimbang menjaga sebuah komitmen agar tak hanya menggebu di ucapan awal, tapi juga tetap hidup saat kelak kita hendak menghembuskan nafas terakhir?

Mungkin tidak ada.

Komitmen, saya pikir, seperti kita menyalakan lilin di tengah hutan yang gelap. Suatu saat angin akan mengganggu, mencoba untuk mematikan satu-satunya sumber cahaya yang menjadi pegangan kita dalam berjalan. Lantas api mengecil, kita mulai kehabisan harapan dan akal sehat. Kemudian kita akan mencapai titik di mana kita akan berpikir untuk tak peduli dengan nyala lilin dan lebih memilih untuk diam di tempat dalam gelap. Sebagian orang tak pernah benar-benar berani mengambil resiko untuk tersesat dan tujuan awal perjalanan memasuki hutan menjadi terlupakan.

Komitmen adalah pelita kecil yang mudah padam. Dan kesadaran untuk menjaga komitmen seumur hidup sebelum kita memiliki cukup persiapan merupakan bentuk lain bunuh diri.

Seorang yang menikah muda dan berkomitmen akan selalu setia hingga akhir hayat sebetulnya tengah melakukan perjudian terbesar dalam hidup. Saat menikah, kita menyerahkan hidup pada seseorang yang belum  kita kenal betul. Saya kira, selama apapun kita berpacaran, tidak benar-benar membuat kita mengenal kepribadian pasangan yang banyak disembunyikan. Kita tak pernah tahu apa yang terjadi ketika perut kita membuncit, wajah kita berkeriput, dan rambut mulai rontok dan memutih. Apakah saat itu kita masih mesra bersama pasangan atau justru ditinggalkan dalam kesunyian. Dalam sebuah perjudian, kita bisa menang, memperoleh banyak kesenangan-kesenangan. Atau kalah, tejebak di dalam neraka dunia yang kita buat sendiri.

Namun kenyataan bahwa dunia tak pernah kehabisan orang-orang nekat yang berani berjudi dan mengambil resiko selalu membuat saya tersenyum simpul. Beberapa saat lalu, saya memperoleh kabar dari Malino bahwa seorang kawan menelan mentah-mentah teori di atas. Sang kawan tersebut telah menikah di usianya yang masih muda. Perempuan Bugis yang saya kenal semasa kuliah ini mendahului kawan-kawannya untuk melepas masa lajang. Ia telah memasang taruhan. Mengembangkan layar untuk kemudian pergi mengarungi lautan kehidupan.

Sebelumnya, saya tak pernah  berkunjung ke Malino. Yang saya tahu tentang kota ini hanyalah orang-orang yang sering bercerita tentang keindahan alamnya. Juga potongan ingatan tentang beberapa budaya Makassar-Bugis yang sempat saya peroleh selama berkuliah. Dan berdasar ingatan yang masih tersisa, setahu saya mereka adalah pejuang pemberani dengan kemampuan bertahan hidup yang luar biasa. Tanpa itu semua, saya takkan mengenal Pinisi dan La Galigo yang melegenda. Selain itu, menurut Anhar Gonggong, orang Bugis bersama dengan Aceh, Banjar, dan lain-lain dicap sebagai orang Nusantara yang paling kuat identitas keislamannya. Mungkin gabungan dari keberanian dan identitas Islam yang kuat inilah yang mendasari pertimbangan kawan saya ini menikah.

Semua tahu, dalam pernikahan, kita tak hanya memerlukan keberanian atau berpegangan pada komitmen yang rapuh. Banyak faktor yang kerap menjadi penghambat dan membuat orang ragu untuk segera melangkah. Akan tetapi teori-teori dan perhitungan tingkat probabilitas mengenai sukses atau gagalnya pernikahan itu telah berhasil dilenyapkan oleh kawan saya tersebut. Terkadang, sebagus apapun teori menjadi tak berarti ketika tidak ada keberanian untuk bertindak.

Oleh karena itu, tiap kali saya mendengar kawan-kawan seangkatan menikah, mempertaruhkan sisa hidupnya di meja KUA, selalu ada rasa kagum yang muncul. Manusia tak menikah hanya untuk meneruskan keturunan. Atau karena ditanya kapan nikah. Atau karena takut pada peraturan dan hukum Negara. Ada tujuan yang jauh lebih mulia ketika sepasang manusia berjanji untuk saling menjaga. Untuk saling berbagi dan menyayangi. Untuk saling menguatkan ketika lelah. Kata orang, menyempurnakan separuh agama tidak mudah. Mereka yang sukses menaklukkan ketakutan tentang imaji masa depan pernikahan di usia yang masih muda, saya kira, telah berhasil memenangkan sebagian perjudian.

1 comment:

  1. Menikah, semakin dipikirkan, orang akan semakin takut untuk melakukannya.
    Bekal orang menikah bukan hanya cinta,tapi ada juga komitmen
    Cinta bisa saja hilang dalam waktu yang tidak lama, tapi selalu akan ada komitmen yang menyatukan dan mengikat pasangan.
    Komitmen memang bagaikan sebuah lilin yang kita bawa untuk mengarungi kehidupan setelah menikah,dan angin bukanlah perusak kelangsungan nyala lilin, melainkan sebagai penuntun bagi pembawa lilin.
    Ketika angin berhembus dari utara, berarti kita harus berjalan ke selatan dan melindungi lilin dengan tubuh kita

    ReplyDelete