Sep 26, 2012

Tentang Nikah Muda

*untuk seorang kawan

Adakah yang lebih mencemaskan ketimbang menjaga sebuah komitmen agar tak hanya menggebu di ucapan awal, tapi juga tetap hidup saat kelak kita hendak menghembuskan nafas terakhir?

Mungkin tidak ada.

Komitmen, saya pikir, seperti kita menyalakan lilin di tengah hutan yang gelap. Suatu saat angin akan mengganggu, mencoba untuk mematikan satu-satunya sumber cahaya yang menjadi pegangan kita dalam berjalan. Lantas api mengecil, kita mulai kehabisan harapan dan akal sehat. Kemudian kita akan mencapai titik di mana kita akan berpikir untuk tak peduli dengan nyala lilin dan lebih memilih untuk diam di tempat dalam gelap. Sebagian orang tak pernah benar-benar berani mengambil resiko untuk tersesat dan tujuan awal perjalanan memasuki hutan menjadi terlupakan.

Komitmen adalah pelita kecil yang mudah padam. Dan kesadaran untuk menjaga komitmen seumur hidup sebelum kita memiliki cukup persiapan merupakan bentuk lain bunuh diri.

Sep 8, 2012

Gatotkaca

Mengingat Gatotkaca adalah meraba sebuah epos kesunyian. Dia adalah tokoh yang dipuja oleh banyak orang, tetapi tak sempat memiliki hidupnya sendiri. Dia terlanjur diplot sebagai bidak catur terdepan untuk merusak pertahanan lawan. Dia dijadikan tumbal. Hidupnya dikorbankan, bahkan sejak dia baru lahir ke dunia.

Saat kita coba kembali menengok fragmen-fragmen tentang Gatotkaca, akan nampak kisah heroisme yang begitu gagah berani, tanpa cacat. Semua orang mengagumi kekuatannya. Otot kawat tulang besi, begitu yang seringkali orang bilang. Tetapi saat kita lihat lebih dalam, akan terasa bahwa cerita Gatotkaca lebih merupakan kemurungan yang dipendam. Juga kekalahan yang direncanakan.

Ketika Gatotkaca lahir, tali pusarnya tidak dapat dipotong, bahkan oleh senjata tajam seperti apapun. Tak terbayangkan kesakitan yang dirasakan oleh Gatotkaca dan ibunya pada waktu itu. Tetapi akhirnya setelah tali pusarnya dapat dipotong oleh sarung senjata kunta milik Karna, Gatotkaca tak dibiarkan beristirahat lebih lama. Dia justru langsung dibawa ke kahyangan untuk membasmi raksasa yang mengacau. Dia bahkan tak pernah sempat merasakan air susu ibu karena sepulangnya dari kahyangan, dia telah menjelma menjadi seorang dewasa berbadan tegap, berdada bidang—yang justru akan menakuti ibu yang baru saja melahirkannya—berkat kawah Candradimuka yang melegenda.