Aug 23, 2012

Lebaran

Lebaran adalah kerinduan. Dan rumah adalah tempat berpulang segala rindu.

Pada sesuatu yang disebut pekerjaan, manusia seringkali terjebak dalam pusaran kesibukan. Tersesat dalam jam-jam padat, dalam hari-hari brengsek yang dipenuhsesaki oleh penat. Beberapa hilang arah. Tetapi banyak lainnya yang mulai sadar dari mana mereka berasal dan ke mana seharusnya arus hidup mereka bermuara: rumah. Tempat di mana keluarga menanti mereka kembali dengan gelak tawa. Dengan senyum yang tak dipenuhi dengan pura-pura.
Atas alasan itulah, setiap tahunnya, pada momen yang kita sebut lebaran, kita lihat kerumunan manusia. Puluhan. Ratusan. Ribuan. Puluh ribuan. Hingga ratus ribuan kerumunan. Mereka semua berduyun-duyun pulang, menyesaki jalanan yang kian terasa sempit oleh lalu-lalang kendaraan. Semua terlihat lelah dan jenuh. Puluhan jam harus dilalui dalam perjalanan. Namun tak ada satupun yang keberatan memenuhi seluruh tubuh mereka dengan keringat dan bau badan. Mereka paham, tiap bulir keringat yang jatuh adalah satu langkah mereka menuju rumah. Tiap bau badan yang mereka keluarkan adalah bau kerinduan yang makin menyengat. Semua orang nampak siap menghadapi segala riuh kemacetan demi memetik rindu yang telah lama mereka tanam.

“Di rumah inilah papa menjalani waktu kecil dulu, nak.”

Setelah melepas lelah beberapa saat, mereka yang mudik dengan membawa anaknya kerap bercerita tentang kejayaan mereka. Tentang lumpur sawah dan sungai yang meluap. Tentang ayam dan burung merpati peliharaan. Tentang tetangga-tetangga ramah di sekitar rumah. Juga tentang potongan-potongan masa lalu yang kian terasa nyata dalam tiap petak rumah. Mereka—juga kita semua—tahu, bahkan rumah yang paling bobrok sekalipun menyimpan berjuta cerita yang takkan habis untuk dikenang.
Dan pada setiap kenangan, sebuah kesederhanaan lebih membanggakan dari kemewahan seperti apapun juga. Itu sebabnya setiap ayah akan selalu bangga menceritakan masa kecilnya yang penuh dengan kesederhanaan. Pada momen seperti lebaranlah sang ayah bisa memperkenalkan wujud rindu yang terasa abstrak di perkotaan, tetapi sangat nyata di pedesaan. Beliau tahu, anaknya belum dan mungkin takkan pernah bisa merasakan pengalaman yang sama sepertinya. Anak yang dibesarkan oleh asap kendaraan, gedung-gedung tinggi, dan mainan artifisial tidak akan mengerti mengapa anak-anak desa bisa riang oleh hal-hal sederhana. Wangi pepohonan, langit luas, juga batu dan ranting. Semua takkan tergantikan oleh apapun.
Atas dasar itulah, setiap tahunnya, orang-orang kembali pulang ke tanah kelahiran. Karena lebaran adalah kerinduan. Dan desa seisinya adalah tempat berpulang segala rindu.
***
Kata seorang saudara:
“Ah, kamu mengingatkanku pada nenekmu. Dulu kamu yang paling beliau manja karena cuma kamu yang memiliki hobi membaca. Hobi sekali. Bahkan nenekmu sering menyisihkan uang untuk membelikanmu majalah biar kamu tetap membaca,”

Dan di sinilah saya setelah lebaran. Berziarah ke makam kakek-nenek. Mendoakan mereka yang telah "pulang" terlebih dahulu. Mengubur semua hal yang bernama rindu.

p.s:
Teruntuk almarhum kakek dan nenek, salam rindu dari rumah. Selamat berlebaran ya :)

0 comments:

Post a Comment