Aug 23, 2012

Lebaran

Lebaran adalah kerinduan. Dan rumah adalah tempat berpulang segala rindu.

Pada sesuatu yang disebut pekerjaan, manusia seringkali terjebak dalam pusaran kesibukan. Tersesat dalam jam-jam padat, dalam hari-hari brengsek yang dipenuhsesaki oleh penat. Beberapa hilang arah. Tetapi banyak lainnya yang mulai sadar dari mana mereka berasal dan ke mana seharusnya arus hidup mereka bermuara: rumah. Tempat di mana keluarga menanti mereka kembali dengan gelak tawa. Dengan senyum yang tak dipenuhi dengan pura-pura.
Atas alasan itulah, setiap tahunnya, pada momen yang kita sebut lebaran, kita lihat kerumunan manusia. Puluhan. Ratusan. Ribuan. Puluh ribuan. Hingga ratus ribuan kerumunan. Mereka semua berduyun-duyun pulang, menyesaki jalanan yang kian terasa sempit oleh lalu-lalang kendaraan. Semua terlihat lelah dan jenuh. Puluhan jam harus dilalui dalam perjalanan. Namun tak ada satupun yang keberatan memenuhi seluruh tubuh mereka dengan keringat dan bau badan. Mereka paham, tiap bulir keringat yang jatuh adalah satu langkah mereka menuju rumah. Tiap bau badan yang mereka keluarkan adalah bau kerinduan yang makin menyengat. Semua orang nampak siap menghadapi segala riuh kemacetan demi memetik rindu yang telah lama mereka tanam.

“Di rumah inilah papa menjalani waktu kecil dulu, nak.”

Aug 11, 2012

Maaf

Untuk semua luka, selalu tersedia jalan untuk penyembuhan. Pada setiap kealpaan, selalu terbuka pintu untuk sebuah perbaikan.

Manusia pasti pernah berkubang dengan kesalahan, mencoba mentas, kemudian kembali kotor dalam kesalahan yang sama. 

Bahkan seekor keledai sekalipun mempunyai asa kedua untuk bangun sebelum terjatuh pada kesempatan berikutnya.

***

Pernahkah kau rasakan bagaimana sebuah kata dapat mengubah segalanya?

Maaf memang tidak menyembuhkan luka yang mulai usang. Tetapi ia menumbuhkan harapan untuk masa depan yang lebih terang.

Maaf bukanlah kunci atas pintu hati yang terlanjur rusak berantakan. Namun ia dapat membuka jendela kelegaan yang sempat tertahan.

Mengapa kau terus berlari di siang yang memberimu peluang untuk melihat indahnya dunia? Adakah kautemukan kenikmatan dari gelapnya persembunyianmu?

***

Hey, jangan palingkan mukamu, sayang.