Jul 29, 2012

Kepada Marli

*tentang orang tua dan gaji pertama

Izinkan saya mulai cerita yang akan saya tulis ini dari Slavoj Zizek. Seorang filsuf yang jalan pikirnya tak bisa ditebak oleh orang banyak. Suatu kali, wawancaranya dimuat di majalah Guardian. Saat, itu ia ditanya apakah utang terbesarnya pada orang tua yang telah melahirkannya dan merawatnya dari kecil. Jawabnya singkat:

“Tidak ada, saya harap. Tak semenit pun saya habiskan buat menangisi kematian mereka.”

Melihat perilaku dan pola pikir yang telah ia tunjukkan selama ini. Jawaban seperti itu tak begitu mengherankan. Mungkin, dari kacamata awam saya, Zizek merasa bahwa apa yang orang-orang tua berikan pada anak-anak mereka bukanlah suatu jasa yang harus dianggap sebagai sebuah utang untuk kemudian kita lunasi. Semua orang (dalam kasus ini biarlah saya melakukan generalisasi) pada akhirnya menikah, dan mempunyai anak, dan berkewajiban menjaga anak tersebut. Siklus yang kemudian akan berulang ketika si anak dewasa dan mendapat gilirannya menjadi orang tua.

Tapi apakah memang seperti itu hakikat keberadaan manusia di dunia ini? Lahir, menjalani masa kanak-kanak, menjadi dewasa, berkembang biak, lalu mati. Bila boleh dilakukan simplifikasi, manusia tak berbeda dengan semua makhluk hidup lain. Benarkah begitu?

Kita tentu ingin menjawab tidak atas pertanyaan di atas. Banyak alasan yang dapat kita pakai sebagai sanggahan. Tetapi saya tak ingin menambahkan daftar alasan yang akhirnya membuat tulisan ini bertambah panjang dengan isi yang semakin tak masuk akal. Toh, dalam lanjutan wawancaranya, Zizek sempat meminta maaf kepada anak-anaknya karena tidak bisa menjadi ayah yang baik.

Memang. Kita akan selalu luput dengan hal-hal kecil ketika kita merasa dapat melihat banyak hal yang jauh lebih besar. Saat orang tua memberi uang sekadarnya untuk jajan, misalnya, kita senang sekali. Kita mengucapkan terima kasih, lalu segera berlari ke tukang siomay yang tak sabar menunggu di depan gang. Saat itu kita anggap orang tua sebagai penjelmaan Tuhan di dunia. Lalu kita tahu dunia bergerak. Kita tahu semua berubah. Termasuk penafsiran terhadap apa yang telah kita terima.

Saya termasuk dalam golongan orang yang pernah berada dalam kesalahpahaman itu. Saya kira, dengan masuk dunia kerja, maka tugas orang tua selesai. Saat itulah giliran kita, sebagai anak,  tiba untuk meyakinkan orang tua bahwa kita telah sukses menjelma menjadi seseorang yang mereka inginkan. Mereka hanya tinggal diam tersenyum melihat anaknya sedang mengepakkan sayap dan terbang. Dan, sesekali, mereka bisa menikmati sedikit uang gaji anaknya untuk membeli apapun yang mereka inginkan. Namun, kita harus tahu bahwa apa yang nampak tak betul-betul mewakili apa yang terjadi. Setidaknya, demikianlah yang terasa pada saya yang melankolis. Buat saya, orang tua selalu memendam kepedihan yang mendalam ketika menyadari anak-anaknya berlalu dan segera pergi meninggalkan mereka. Uang sebanyak apapun yang akan kita beri kelak—entah itu kita anggap sebagai balas jasa atau apapun—pada orang tua, takkan cukup membayar kesepian yang mereka rasakan akibat ditinggalkan.

Ngomong-ngomong, apakah kau tahu seberapa besar arti delapan ratus lima puluh ribu rupiah?

Bagi banyak orang, nominal itu terlihat sangat sedikit. Bagi banyak yang lain, 850.000 adalah jumlah yang harus ditukar dengan darah. Dan bagi saya, uang sejumlah itu tak terhingga banyaknya, apalagi ketika saya sisihkan untuk sekedar memberikan orang tua saya pulsa. Ketika melaporkan pada orang tua bahwa saya telah memperoleh honor pertama, saya melihat ibu sedikit meneteskan air mata. Ayah saya di sampingnya, hanya tersenyum. Jika pun beliau tidak menangis, tapi lengan-lengannya yang mulai berkeriput berbicara bahwa beliau bersyukur telah bisa menyelesaikan kewajibannya. Ada kelegaan aneh yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Semacam rasa lelah setelah sekian lama berlari tanpa kenal waktu. Kini anaknya mulai mengepakkan sayap dan ia bisa beristirahat. Terkadang, sebuah kasih sayang tak berbentuk, namun selalu terasa dalam sebuah keajaiban yang tidak bisa kita deskripsikan.

Saya selalu percaya bahwa setiap orang tua adalah ubermensch bagi anak-anaknya. Tak ada orang tua yang akan menyerah begitu mudah hanya karena anaknya belum mendapat gaji pertama. Mereka, saya kira, selalu memperoleh energi tak terbatas untuk ikut membantu anaknya yang masih terjatuh dalam proses belajar terbang. Mereka akan selalu mengulurkan lengan agar kita kembali berdiri dan berusaha lagi meskipun untuk itu mereka harus mengeluarkan energi tambahan. Akan tetapi, percayalah bahwa apa yang mereka lakukan tak pernah ditujukan untuk mendapat balas budi. Tidak. Saya kira para orang tua pun telah lupa dengan jasa-jasa yang tak terhitung banyaknya itu. Mereka, saya yakin, telah berjuang jauh lebih keras dari apapun yang bisa kita bayangkan.

Tabik.

***
post scriptum:
Kau harus tahu. Terkadang Tuhan menyisipkan lelucon-lelucon segar di saat tak terduga demi menampar kita dari rasa kantuk dan jenuh yang melanda. Seperti jam kerja yang di tambah di bulan Ramadan, honor yang baru turun di bulan keempat kita bekerja, ataupun SK yang tidak pernah kita tahu keberadaannya. Ini harus kauingat. Meskipun kita pikir bahwa kesialan tak pernah berhenti meneror, sesungguhnya itu candaan Tuhan agar kita tidak terlena dengan kepastian semu yang seakan-akan telah kita peroleh.

1 comment: