Jul 21, 2012

Jika Kamu Harus Bersedih

Sore tadi, seorang kawan menanyakan apa yang biasa saya lakukan ketika saya sedang sedih. Saya jawab dengan agak malas: membaca. Padahal ketika sedang benar-benar bersedih, membaca adalah pilihan yang terakhir akan saya ambil. Saya lebih menyukai menghabiskan waktu-waktu  berduka dengan kesendirian, kemudian melacurkan otak yang mulai karat oleh luka di tengah keramaian.

Tetapi, adakah sebuah kota banal menyediakan sepotong ruang untuk kita bersedih?

Entah. Saya tak terbiasa menangis dengan keras. Jika yang dimaksud bersedih adalah diam dan menikmati sakit hati, mungkin semua kota merelakan ruang-ruang yang cukup lega. Nyatanya, saya masih memiliki banyak tempat bersedih. Saya suka menyalakan motor, membawanya ke manapun tempat yang biasanya tidak saya kunjungi dalam kondisi biasa. Mungkin berhenti di warung pinggir jalan, membeli rokok dan ngobrol dengan penjualnya. Mampir ke kedai kopi yang belum pernah saya kunjungi. Atau ke manapun tempat di mana saya tidak harus bertemu dengan orang yang saya kenal. Seringkali, orang yang kita kenal menjadi gulma dalam kesedihan. Dan saya lebih memilih untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan klise sok peduli pada kesedihan yang saya alami.

Terakhir, saya pergi ke stasiun kereta api pada dini hari untuk sekedar menikmati lalu-lalang orang yang hendak bepergian. Di sana saya melihat seorang perempuan—sepertinya masih di bawah 20 tahun—sedang terisak. Dengan tangan bergetar ia menekan ponselnya berulang kali. Mungkin ia sedang menghadapi masalah pelik, bertengkar dengan pacar, kena marah orang tua, kabur dari rumah, atau apapun itu. Saya sungkan untuk bertanya dan mengganggu waktu yang ia habiskan untuk bersedih. Lagipula, saya tak ingin sok tahu dan menjadi pahlawan dengan bertanya mengapa ia menangis. Toh, saya cuma ingin membuktikan bahwa kota masih menyediakan, meski hanya secuil, ruang untuk bersedih.

***

Saya tidak akan menggurui, atau menasihati, atau menghibur kamu atau siapapun yang tengah dilanda kesedihan. Semua orang, tanpa kecuali, pasti membutuhkan sela kecil untuk ditempati oleh rasa sedih yang mendalam. Tak ada yang berhak mengganggu dengan kata bijak seperti apapun. Kamu berhak untuk menyepi. Naik gunung, minum anggur, atau berteriak dengan keras di ruang karaoke. Kamu berhak atas apapun yang terjadi pada dirimu.

Tapi apakah kamu sadar masih ada kawan yang akan selalu cemas dengan keadaanmu?

Mungkin kamu hanya mengingat kawanmu itu sekali-dua. Saat ngobrol ditemani musik di sebuah kafe. Saat kamu butuh partner diskusi untuk bacaan barumu. Saat kamu perlu seorang yang mau meluangkan waktu untuk mendengarkan keluhanmu. Atau saat kamu terbangun ketika ulang tahun dan mendapati pesan singkat  yang berisi ucapan selamat darinya…

Tidakkah kamu tahu bahwa terkadang kesedihanmu pun mendatangkan duka yang baru untuk kawanmu yang satu itu?

Maka, ketika kesedihanmu usai, air matamu segera habis dan fajar mulai tiba, pulanglah. Ketuklah pintu rumahmu, masuk ke kamar. Kembalilah putar lagu kesukaanmu atau tidur saja di kasur empukmu. Jangan biarkan kawan-kawan yang  mengkhawatirkan kepulanganmu berlalu dengan penyesalan. Sisakan tangismu untuk mereka yang bersedia merelakan kecemasan menggerogoti waktu istirahat yang mereka miliki. Begitu, mungkin?
Menangislah bila harus menangis karena kita semua manusia. - Dewa 19
***

Post Scriptum:
Ketika beberapa saat lalu saya diajak untuk menuliskan daftar tempat-tempat yang harus dikunjungi untuk mengobati sakit hati, saya menolak. Setiap kota memiliki dukanya sendiri. Kesedihan, takkan hilang hanya karena kita berpindah tempat. Mungkin, di tempat yang kita bilang bagus untuk menghilangkan duka, ada lara lain yang menunggu. Oleh karena itu, saya lebih memilih untuk tetap tinggal di kota saya sendiri. Menghadapi kesedihan hingga akhirnya ia yang memilih pergi.

0 comments:

Post a Comment