Jul 22, 2012

Am I Selo Enough?

Sebenarnya saya tak ingin berbagi kisah selo seperti beberapa orang kawan melakukannya. Menurut saya, kisah-kisah seperti itu cukup disimpan dan untuk ditertawakan diri sendiri. Lagipula, saya tak benar-benar mengetahui definisi selo dengan utuh. Akan tetapi, merujuk kepada definisi seorang pengamat bahasa, Ardyan M. Erlangga pernah sebutkan, selo adalah:
-->
/adj/ berada dalam situasi lapang; tidak terhimpit; bukan hipster; tak kuliah di sekolah tinggi
Maka dengan kehati-hatian yang amat sangat agar tulisan ini tidak merusak definisi di atas, saya mencoba melakukan kritik: bahwa mahasiswa Sekolah Tinggi pun—meskipun kuliahnya paketan dan harus lulus tepat waktu—bisa selo, meski tak mutlak.

Lalu apakah saya yang konon disebut-sebut calon birokrat punggawa keuangan ini hanya serius belajar dan menghitung pajak? Tidak juga. Semua orang, saya pikir, akan selo pada saatnya. Jadi, untuk mengakhiri polemik tidak berkesudahan apakah mahasiswa yang ke kampus harus memakai kemeja polos dan celana bahan bisa selo, biarlah saya mencoba memaparkan beberapa peristiwa penting keseloan saya versi on the spot.

4. Gerakan Mahasiswa Pencari Takjil (Gempita)

Saya pikir, cerita tentang kekayaan pegawai kementerian keuangan yang selalu melambung sedikit tak masuk akal mengingat masih banyak kawan saya tahu hidup dalam keadaan pas-pasan. Apalagi, menurut survey Lembaga Selo Indonesia, lebih dari 75% mahasiswa STAN berasal dari keluarga yang tidak mampu mau rugi.

Biasanya, setiap bulan Ramadan tiba, puluhan mahasiswa—yang mukanya tak dapat dibedakan dengan kambing-kambing Sarmili, termasuk saya, terlihat berangkat bergerombol mencari Masjid untuk Shalat Maghrib berjamaah. Padahal, niat aslinya sih untuk mencari bekal berbuka barang sebungkus nasi padang atau apapun lauk yang sedang dihidangkan oleh salah satu Masjid dekat kampus. Jika beruntung, dua bungkus. Dan jika sedang apes sekali….puff: dia hanya memperoleh satu gelas air mineral beserta tiga biji kurma. Sudah kelaparan, mendapat malu, ditertawai teman pula. Selo tenan!

3. Mencari Tiket Gratisan

Ini merupakan hobi sekaligus usaha sampingan beberapa orang kawan. Mencari tiket konser gratisan. Entah melalui undian di twitter atau mengikuti kuis yang diadakan beberapa event organizer. Jika berhasil, tiket kemudian mereka jual dan akhirnya memperoleh untung. Selo toh?

Saya tidak pernah ikut kuis. Saya hanya sekali ikut mencari tiket gratisan. Itu pun hanya untuk dikonsumsi sendiri. Waktu itu Langit Musik mengadakan konser yang diikuti beberapa band indie di Epicentrum Walk. Karena suka dengan band pengisinya, saya mencoba mendaftar di website apa lah itu saya lupa. Dan gagal. Akhirnya, dengan menebalkan muka saya minta invitation kepada kawan dan berangkat ke Epicentrum Walk. Kredo saya: orang kere seluruh dunia, bersatulah!

2. (Nyaris) Drop Out!

Harus saya akui bahwa saya bukanlah tipe mahasiswa yang rajin. Saya pemalas. Bahkan seringkali saya terlambat berangkat kuliah pukul 8 pagi karena saya bangun jam 8 lewat 10…dan masih ngetwit sebelum mandi.

Lalu, selain kemalasan-kemalasan yang akan menjadi daftar panjang bila dijabarkan, saya memiliki sifat fatalis lain: mbeling. Merokok di tempat yang terlarang, bermain kartu di plasma sampai diusir satpam, juga senang moshing hingga nyaris berkelahi ketika kampus mengadakan pergelaran musik.

Dengan sifat-sifat seperti itu saya lalui tiga tahun masa perkuliahan. Hanya begitu? Tidak juga. Menuju semester akhir, saya nyaris dikeluarkan dari kampus yang katanya menempatkan kedisiplinan dan integritas sebagai saka guru perkuliahan.

Jika saya tak salah ingat, kejadian saya nyaris DO adalah ketika UTS semester 5. Karena satu kenekatan yang saya lakukan (bukan, ini bukan mencontek), saya ditegur oleh pengawas, dimintai KTM, hingga disuruh melapor ke sekretariat keesokan harinya. Di sana, pak X (censored)  mengultimatum saya karena saya sudah memasuki tahun terakhir, tetapi tetap bandel. Beliau mengancam akan mengeluarkan saya dari kampus. Namun, melalui proses yang panjang dan dengan memelas-melas akhirnya saya HANYA memperoleh kartu kuning
-->—semacam SP 1, disuruh membuat Surat Pernyataan tidak akan mengulangi lagi, dan diskors selama 30 menit sebelum diperbolehkan mengikuti ujian. Wasyu!

1. Jalan-jalan

Ini bukan cerita menyenangkan, jika boleh jujur. Tapi lebih kepada cerita naas yang dengan terpaksa harus saya jalani. Ini bukan cerita wisata, tapi lebih kepada kebodohan beberapa orang yang memilih untuk berjalan kaki tanpa manfaat berarti ketika sebagian manusia masih tertidur nyenyak di kasurnya.

Cerita ini sendiri berawal ketika saya, Eran, Nukong, dan Karu nongkrong di warkop Pondok Jaya, Bintaro. Rutinitas yang wajib dijalani oleh mahasiswa selo seluruh dunia. Kami nongkrong sebelum hari berganti dan mulai kehabisan obrolan ketika ayam berkokok sekitar pukul 03.30. Pada saat itu, tanpa seorang ingat siapa yang memulai, tiba-tiba kami memutuskan untuk jalan-jalan menunggu pagi. Tak dinyana, seseorang dari kamu mempunyai ide untuk berjalan ke Senayan. Tahu jarak Bintaro-Senayan dan waktu tempuhnya? Ya, kita berjalan sejauh itu. Siapa yang menyerah di tengah jalan harus rela membayari taksi pulang. Berhubung saya telah sebutkan bahwa sebagian besar mahasiswa STAN adalah makhluk yang tak mau rugi, tak ada seorangpun dari kami mengalah. Konsekuensinya, sampai di Senayan kami tepar. Saat yang lain jogging dengan wajah bugar, kami malah terduduk dengan nafas yang ngos-ngosan. Selo banget, cuk!

Dan begitulah. Sebenarnya masih banyak cerita selo yang saya lalui. Tetapi saya tak mau mengumbar aib yang lebih memalukan lagi. Cukuplah beberapa cerita di atas menjadi bukti, bahwa mahasiswa sekolah tinggi pun masih punya cukup waktu untuk selo. Tentu. Tentu kita manusia biasa. Masih bisa mabuk ketika di ruang kuliah, masih punya kesempatan untuk dugem di kemang pada malam sebelum ujian, dan masih melakukan keseloan-keseloan lain.

Maka, dengan tanpa mengurangi rasa hormat, saya meminta dengan sangat agar saudara Yandri mengubah definisi yang beliau lontarkan.

Tabik.

2 comments:

  1. kuliah di STAN itu kebanyakan selo-nya daripada enggaknya. jadi kangen juga, pengen punya banyak waktu selo kalo udah lulus gini :|

    ReplyDelete
  2. hah, gw baru baca..
    setuju sama galih mah, pengen punya banyak waktu selo

    waktu selo gw di stan keisi buat ngenet + ngunduh doang, sekarang kaga bisa nyelo, wuassyu.. :v

    ReplyDelete