Jul 29, 2012

Kepada Marli

*tentang orang tua dan gaji pertama

Izinkan saya mulai cerita yang akan saya tulis ini dari Slavoj Zizek. Seorang filsuf yang jalan pikirnya tak bisa ditebak oleh orang banyak. Suatu kali, wawancaranya dimuat di majalah Guardian. Saat, itu ia ditanya apakah utang terbesarnya pada orang tua yang telah melahirkannya dan merawatnya dari kecil. Jawabnya singkat:

“Tidak ada, saya harap. Tak semenit pun saya habiskan buat menangisi kematian mereka.”

Melihat perilaku dan pola pikir yang telah ia tunjukkan selama ini. Jawaban seperti itu tak begitu mengherankan. Mungkin, dari kacamata awam saya, Zizek merasa bahwa apa yang orang-orang tua berikan pada anak-anak mereka bukanlah suatu jasa yang harus dianggap sebagai sebuah utang untuk kemudian kita lunasi. Semua orang (dalam kasus ini biarlah saya melakukan generalisasi) pada akhirnya menikah, dan mempunyai anak, dan berkewajiban menjaga anak tersebut. Siklus yang kemudian akan berulang ketika si anak dewasa dan mendapat gilirannya menjadi orang tua.

Tapi apakah memang seperti itu hakikat keberadaan manusia di dunia ini? Lahir, menjalani masa kanak-kanak, menjadi dewasa, berkembang biak, lalu mati. Bila boleh dilakukan simplifikasi, manusia tak berbeda dengan semua makhluk hidup lain. Benarkah begitu?

Jul 22, 2012

Am I Selo Enough?

Sebenarnya saya tak ingin berbagi kisah selo seperti beberapa orang kawan melakukannya. Menurut saya, kisah-kisah seperti itu cukup disimpan dan untuk ditertawakan diri sendiri. Lagipula, saya tak benar-benar mengetahui definisi selo dengan utuh. Akan tetapi, merujuk kepada definisi seorang pengamat bahasa, Ardyan M. Erlangga pernah sebutkan, selo adalah:
-->
/adj/ berada dalam situasi lapang; tidak terhimpit; bukan hipster; tak kuliah di sekolah tinggi
Maka dengan kehati-hatian yang amat sangat agar tulisan ini tidak merusak definisi di atas, saya mencoba melakukan kritik: bahwa mahasiswa Sekolah Tinggi pun—meskipun kuliahnya paketan dan harus lulus tepat waktu—bisa selo, meski tak mutlak.

Lalu apakah saya yang konon disebut-sebut calon birokrat punggawa keuangan ini hanya serius belajar dan menghitung pajak? Tidak juga. Semua orang, saya pikir, akan selo pada saatnya. Jadi, untuk mengakhiri polemik tidak berkesudahan apakah mahasiswa yang ke kampus harus memakai kemeja polos dan celana bahan bisa selo, biarlah saya mencoba memaparkan beberapa peristiwa penting keseloan saya versi on the spot.

Jul 21, 2012

Jika Kamu Harus Bersedih

Sore tadi, seorang kawan menanyakan apa yang biasa saya lakukan ketika saya sedang sedih. Saya jawab dengan agak malas: membaca. Padahal ketika sedang benar-benar bersedih, membaca adalah pilihan yang terakhir akan saya ambil. Saya lebih menyukai menghabiskan waktu-waktu  berduka dengan kesendirian, kemudian melacurkan otak yang mulai karat oleh luka di tengah keramaian.

Tetapi, adakah sebuah kota banal menyediakan sepotong ruang untuk kita bersedih?

Entah. Saya tak terbiasa menangis dengan keras. Jika yang dimaksud bersedih adalah diam dan menikmati sakit hati, mungkin semua kota merelakan ruang-ruang yang cukup lega. Nyatanya, saya masih memiliki banyak tempat bersedih. Saya suka menyalakan motor, membawanya ke manapun tempat yang biasanya tidak saya kunjungi dalam kondisi biasa. Mungkin berhenti di warung pinggir jalan, membeli rokok dan ngobrol dengan penjualnya. Mampir ke kedai kopi yang belum pernah saya kunjungi. Atau ke manapun tempat di mana saya tidak harus bertemu dengan orang yang saya kenal. Seringkali, orang yang kita kenal menjadi gulma dalam kesedihan. Dan saya lebih memilih untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan klise sok peduli pada kesedihan yang saya alami.

Terakhir, saya pergi ke stasiun kereta api pada dini hari untuk sekedar menikmati lalu-lalang orang yang hendak bepergian. Di sana saya melihat seorang perempuan—sepertinya masih di bawah 20 tahun—sedang terisak. Dengan tangan bergetar ia menekan ponselnya berulang kali. Mungkin ia sedang menghadapi masalah pelik, bertengkar dengan pacar, kena marah orang tua, kabur dari rumah, atau apapun itu. Saya sungkan untuk bertanya dan mengganggu waktu yang ia habiskan untuk bersedih. Lagipula, saya tak ingin sok tahu dan menjadi pahlawan dengan bertanya mengapa ia menangis. Toh, saya cuma ingin membuktikan bahwa kota masih menyediakan, meski hanya secuil, ruang untuk bersedih.

Jul 20, 2012

Jika kata
adalah senjata
para penyair yang gemar merapal bahasa
telah berjihad dengan sebaik-baiknya
sehormat-hormatnya

Jul 8, 2012

Platonis

Amour Platonique.
Aku tak pernah benar-benar percaya cinta platonis itu memang ada. Bahkan, ketika aku sendiri bimbang dan meragu apakah perasaan yang menelanjangiku tiap malam—setiap aku hendak berangkat tidur—ini bisa dikategorikan ke dalam jenis yang Plato sebutkan itu. Aku tetap tak percaya. Aku lebih memilih untuk bungkam dan menolak untuk patuh. Telah lama kuhapus definisi-definisi filsafat tai kucing yang mencoba mengatur apa yang harus dan tidak boleh dilakukan dari kamus hidupku. Mungkin, tepatnya, sejak aku bertemu dan mulai dekat dengan sosokmu.

Aku lupa mengapa aku pernah begitu menyukai senja yang kaotik, menganggap duduk berdua di ujung dermaga menyambut temaram jingga di ufuk barat sebagai hal paling romantis yang dapat kukenang hingga rambutku memutih dan syaraf-syaraf otak perlahan berhenti melakukan pekerjaannya. Aku lupa. Nyatanya, perkenalan dengan wanita sepertimu mengajarkan hal yang sama sekali lain: bahwa hidup dapat dimaknai dengan sebebas-bebasnya, tanpa harus percaya pada kutipan-kutipan dan kearifan bijak bestari yang bahkan telah diucapkan sebelum kakek dan nenek kita mengenal huruf dan kata.

Berkat kamu, aku mengenal cara hidup yang jauh lebih intim dari itu. Setelah ucapanmu, aku—daripada hanya sekedar menanti senja rubuh—lebih memilih untuk terjaga sepanjang malam denganmu, berdua saja, hingga dini hari tiba. Dengan kaleng-kaleng bir yang hampir kosong. Dengan abu rokok yang tak kalah banyak dibanding abu jenazah. Dalam kesadaran yang mulai lindap, kita sering bercakap-cakap. Atau hanya saling diam. Atau tertidur tanpa kita ingat siapa yang mendahului.

“Jika kita bisa menaiki perahu hingga ke tengah laut, kenapa kita hanya berdiam saja di dermaga?” ujarmu di satu kesempatan.

Aku tersenyum. Analogimu lucu.

“Ayolah. Kau takkan cukup puas jika hanya memperoleh satu kalau kau bisa mendapatkan dua, tiga, atau lebih. Ambil sedikit resiko. Horatius tak pernah takut kalah bertaruh dan mati muda. Ia justru menyebut mereka yang memiliki usia panjang adalah orang-orang sial.”

Aku pun tertawa terbahak begitu kencangnya demi mendengar ucapanmu tanpa tahu di kemudian hari pun aku menangis tak tertanggungkan karena hal yang sama. Rupanya, aku tak bisa memperkirakan akibat yang dihasilkan oleh keberanian yang bodoh, pertaruhan yang tolol.