Jun 8, 2012

Perempuan Juni

Hey,
Kau tahu? Bulan Juni adalah saat di mana sajak Sapardi dikutip dengan gemilang oleh orang-orang yang merindu, oleh orang-orang yang berusaha tabah dan bertahan dengan kesetiaannya. Aku harap kau tahu. Dan bahkan jika kau tak tahu sajak mana yang kumaksud, beri aku sedikit kesempatan untuk menukilkannya sedikit, untukmu.
tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

Sapardi Djoko Damono, dalam sajak tersebut, dengan lugas meninggikan derajat “sang hujan” yang selalu tabah dan memiliki kesabaran yang tak pernah habis. Untuk menanti. Untuk menjadi setia meskipun hembusan angin perlahan mengikis dirinya, mengantarkan kita pada musim kemarau yang gersang. Hingga udara mengering dan hujan perlahan menghilang. Hingga akhirnya kita melupakan genangan air sisa hujan yang konsisten meluapkan rasa rindu. 

Namun hujan tetap tabah.
Walau sebuah ketabahan selalu membutuhkan ongkos yang harus ditanggung, tak sedikit yang bertahan atas nama kepercayaan. Tak sedikit yang bahkan mengorbankan dirinya, bagai sang hujan, demi sebuah kesetiaan. Dan untuk ini, izinkan aku menceritakan secuil kisah dari dunia pewayangan.

Hey,
Kau tahu? Kisah Ramayana tak menjadi terkenal karena ketampanan Rama dan keelokan dewi Shinta. Ia juga tak hanya mempertontonkan heroisme dan ketegangan perang antara pasukan Rama melawan bala raksasa milik Rahwana. Ia jauh lebih dari itu. Ramayana adalah sebuah epos pembebasan sekaligus pembuktian bahwa sebuah kesetiaan selalu dibayar mahal. Tetapi juga layak untuk dipertahankan.

Kemudian kita lihat. Bahwa Shinta, yang merupakan putri Raja  Manthili, menghargai kesetiaan tidak hanya dengan ucapan atau janjinya. Bahwa Shinta mengerti, kesetiaan tidak dibangun oleh nubuat-nubuat juru nujum, atau ramalan ahli kitab, atau tebakan semata. Lebih dari itu, kesetiaan dimulai dari kesadaran bahwa penantian hanyalah satu tempo yang tak berarti jika dibandingkan dengan sedikit waktu kebersamaan dengan orang yang lama ditunggu.

Kemudian kita paham. Taman Argasoka di Alengka menjadi saksi penantian Sang Dewi. Di taman yang indah itu, Shinta bisa mendapatkan apapun yang ia mau. Tetapi Shinta menolak. Shinta memilih untuk menukar seluruh waktunya di tempat itu dengan menunggu Rama. Ia membuang seluruh tawaran kemewahan dan memilih untuk menghabiskan hari-harinya untuk termenung menanti Rama.Ia tahu. Ia percaya bahwa Rama tengah melakukan apapun untuk memperjuangkan dirinya. Bahkan ketika kepercayaan itu mulai hilang dan memudar. Shinta memilih setia. Bahkan ketika ancaman kematian dari Rahwana telah sampai di ujung lehernya.

***
Hey,
Kau perempuan Juni. Perempuan yang memilih untuk setia dan menolak untuk tergoda. Perempuan yang mewujud Shinta di dunia. Perempuan yang mungkin lebih tabah dari hujan bulan Juni. Aku sampaikan ini: Selamat ulang tahun. Selamat bertumbuh dewasa bersama dengan sebuah keyakinan, bahwa rerintik hujan yang perlahan menghilang di bulan Juni takkan sia-sia. Meski ia berproses ke dalam lindap, namun di akhir cerita kita tahu ada yang mekar di ujung jalan sana.
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
(Sapardi – Hujan Bulan Juni)

1 comment:

  1. Kesetiaan itu terbukti ketika ada kesempatan, tapi ia tak menggunakannya, seperti ketabahan hujan di bulan Juni yang rela tak merintikkan airnya karena menunggu masanya. O Hujan di Bulan Juni.

    ReplyDelete