May 27, 2012

Hari Ibu

*untuk hari ibu yang tak harus jatuh di bulan Desember


Saya tak pernah suka tiba-tiba diganggu oleh pesan singkat yang sebenarnya tak begitu penting. Apalagi telepon yang nada deringnya kerap memekakkan telinga dan membikin pusing otak yang sedang ingin mengerjakan tugasnya: berpikir.

Sialnya, ibu saya sering melakukan hal itu.

Ibu, saya panggil beliau dengan sebutan “mamah”, terlalu sering melayangkan pesan singkat. Bahkan untuk hal-hal yang begitu remeh. Tentang pentingnya sarapan. Tentang betapa saya tak boleh tidur malam atau menjaga diri di perantauan. Atau tentang Shalat dan pentingnya memilih bergaul dengan orang yang baik-baik agar saya tak terjerumus. Dan sampai sekarang sepertinya ibu masih menganggap saya anak kecil yang harus dipegangi tangannya ketika berjalan agar tak terjatuh.

Saya seringkali kesal dengan sikap ibu yang menganggap saya seperti balita. Untuk peringatan-peringatan yang ibu beri, meski terkadang lalai dan mulai 'berbelok' ke arah yang salah, saya rasa saya telah cukup besar dan dewasa untuk menilai mana yang terbaik buat saya. Saya pernah berkata pada beliau agar tak perlu mengirimi saya pesan jika tak begitu penting. Tapi percuma saja, ibu adalah orang yang mudah khawatir, bahkan oleh hal sekecil apapun.

Namun di beberapa kesempatan lain ibu menganggap saya sebagai orang dewasa yang siap menantang hidup sendirian. Pernah beliau berkata, “nanti cari istri yang baik sama mertua ya. Pokoknya mamah nggak mau kalau setelah kamu menikah lantas melupakan mamah.” Ia pun pernah begitu merasa cemas pada kakak yang baru menikah. Saya melihat benar betapa kesedihan dan ketidakrelaan buah hatinya beranjak besar dan meninggalkannya perlahan. Saya rasa semua orang yang mulai menua dan tengah menghadapi fase demikian akan berbuat hal yang sama. Tak ada yang suka dilupakan, apalagi oleh buah hati yang terlanjur ia didik sejak lahir.

Suatu kali saya iseng melihat wajah ibu yang tertidur pulas setelah beraktivitas seharian.

Saya melihat betapa damainya wajah ibu yang mulai berkeriput dan tubuh yang mulai renta. Saat itu saya tahu pasti bahwa ibu lelah, tapi ia tak mau terlihat lelah dan lemah di depan semua orang.  Memang ada sisi di mana orang yang kita sayangi menjadi begitu menyebalkan, yaitu ketika ia berpura-pura tegar meski kita tahu bahwa ia butuh tempat mengeluh. Seketika terbayang betapa ibu saya adalah seorang “mamah” yang sangat penyayang. Beliau tak pernah lelah menjaga saya dan kedua saudara saya. Beliau tak pernah mengeluh bangun tengah malam hanya untuk membukakan pintu rumah. Beliau tak pernah mengeluh makan dengan lauk seadanya asal anak-anaknya makan enak. Beliau juga tak pernah mengeluh ketika harus membalas pesan singkat dan telepon saya yang dengan terbatuk-batuk menanyakan obat apa yang seharusnya saya minum. Lalu saya merasa berdosa dan malu pada diri sendiri. Saya ingat sunnah nabi, jangankan berkata kasar, menjawab ucapan orang tua dengan “ah” saja tidak boleh. Astaghfirullah….

Hari ini ibu berulang tahun yang ke-53. Kembali saya tengok beliau yang sedang tertidur. Saya masih merasa ibu tak pernah berubah. Saya masih merasa ibu masih berusia 40 tahun, membelikan saya permen di warung sebelah, membuat sarapan sebelum saya berangkat sekolah, atau menyediakan bahu agar saya  bisa menangis di pangkuannya. Kemudian saya teringat ketika seorang lelaki bertanya pada Rasulullah,
” Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak aku hormati dengan baik?',
Beliau bersabda, 'ibumu',
laki-laki itu bertanya lagi: 'kemudian siapa?',
Beliau menjawab, 'ibumu',
laki-laki itu kembali bertanya: 'kemudian siapa?',
Beliau menjawab, 'ibumu',
laki-laki itu bertanya kembali: 'kemudian siapa?',
Beliau menjawab, 'ayahmu'.”

Bu, aku masih boleh menangis kan?

2 comments:

  1. Pengorbanan seorang ibu adalah tanpa pengorbanan pamrih dan tak kenal lelah ^_^b

    ReplyDelete