Mar 8, 2012

Balasan dari Prima!

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Prima membalas surat maya yang saya kirimkan via FB. Dan, silakan menikmati :)

***

Puja Negara


Namanya Gita Wiryawan Puja Negara. Mungkin si pemberi berharap, ia akan menjadi orang yang menghormati negaranya. Syukurlah, nama itu tidak berkhianat. Genap sejak malam ini—setelah kedatangan sms yang memberitahukan kalau ia sudah mulai ngantor—ia sudah menjadi seorang pegawai negeri sipil, PNS.

Gita artinya ‘nyanyian’, memandang wajah Gita, sepertinya nyanyian yang dimaksud genrenya Folk. Wajah Gita ndeso, tapi tidak dengan otaknya. Dan perilakunya. Dia sangat urban.

Aku mengenal Gita ketika kelas 1 SMA. Kami tidak sekelas, namun aku sekelas dengan temannya satu daerah, Mame. Gita berasal dari Wangon. Dibanding dengan Kota Purwokerto, Wangon sangatlah ndesa. Terpencil. Tapi dari daerah itu, otak-otak brilian diproduksi. Selain Gita, teman-temanku asal Wangon lainnya juga jenius-jenius. Si Mame yang nama aslinya Slamet Sabar Riyadi, adalah juara kelas. Alim Ichwan Fauzi, selain tampan, sekarang sudah jadi pegawai negeri sipil juga di Pabean Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Dan Gita sekarang sudah resmi jadi pegawai Kantor Pajak. Dibanding mereka, aku tampak sangat sangat menyedihkan.

Momen pertama aku melihat Gita tidak syahdu. Dia sedang berlari-lari di lorong sekolah depan kelasku. Badannya kecil dan tidak bisa diam. Wajahnya juga kekanak-kanakan saat itu. Aku seperti melihat anak SMP nyasar di SMA. Namun, dia sudah lain sama sekali sekarang.

Tak ada perkenalan dengan Gita sebelumnya. Lagipula, dulu ia dipanggil dengan nama Gecol. Jelek sekali. Suatu ketika, aku pernah tanya pada Andrely, teman sekelasku saat kelas tiga. “Mengapa dia dipanggil Gecol?” Kata Andrely, musababnya adalah nama ayah Gita. Pak Wiji, bahasa Jawa yang artinya ‘biji’. Karena Gita kecil, maka ia dipadankan dengan biji salak, atau bahasa Jawanya “gecol”. Kasihan ya.

Akhirnya, ketika naik kelas tiga, aku sekelas dengan Gita. Dalam hatiku, “Nah, ini dia si anak yang suka lari-lari itu.” Kami bersama di kelas XII IA 3.

Gita bukan tipikal orang yang dicintai. Mungkin dia populer, karena ikut Pramuka, namun banyak anak yang suka kesal dengannya. Gara-garanya, Gita ini terlalu tahu banyak. Kadang dia suka kelepasan untuk mengomentari semua hal. Padahal tidak semua orang tahu banyak dan pintar. Siapa suka menghadapi kenyataan ada orang yang tahu banyak lebih dari kita dan menunjukkan itu? Oleh karenanya, Gita sering dianaktirikan. Kasihan lagi. Haha.

Aku juga bukan anak populer. Betul-betul culun saat SMA dulu. Selain itu, meski bergaya dengan label “Anak IPA”, aku bodoh bukan buatan dalam pelajaran Kimia dan Fisika. Untuk Kimia, Gita jagonya. Momen yang paling aku ingat adalah ketika Gita mengajari aku caranya mengerjakan persamaan reaksi hidrolisis di kelas Kimia yang letaknya di pojok (kelas XII IA 6). Cuma Gita orang yang bisa menjelaskan persamaan reaksi sampai aku paham total.

Walau lumayan akrab, aku dan Gita tidak pernah dekat ketika SMA dulu. Kami tidak pernah smsan, misalnya. Obrolan mulai dan tuntas hanya di kelas. Setelah itu, kehidupan kami masing-masing. Aku anak rumahan yang terkurung di rumah dan berteman dengan kawan-kawan tidak terkenal. Gita sebaliknya. Dia ngekos, banyak teman, nyaris mengenal semua teman seangkatan, dan populer di mata adik kelas. Aku sama sekali tidak. Gita cerdas, bergabung dengan ekstra Olimpieade Matematika (mengerikan sekali, ya, sekolahku ini), dan nilai-nilainya cemerlang. Aku curiga, sepertinya saat lulus, NEM-nya lebih dari lima puluh (dari enam pelajaran). Aku cuma 46 koma sekian. Itu pun berkat bocoran jawaban.

Ketika menjelang kelulusan, kami semua heboh soal “kuliah di mana besok?”. Setengah dari siswa sekolah terobsesi dengan sekolah ikatan dinas macam STAN. Ramai sekali yang ikut try out-nya dulu di GOR. Tapi kami juga tahu, STAN hanya untuk orang jenius. Pada akhirnya, hanya sembilan orang di angkatanku yang masuk STAN di tahun 2008. Baru kali ini SMA 2 mengirimkan orang sebanyak itu pada satu angkatan. Ada Gita, Nindita, dan Alim juga semua temanku, semua jenius. Untunglah aku, di detik-detik terakhir, mengurungkan niat mendaftar. Jadi tidak malu-malu amat dengan Gita karena merasa kalah. Aku bahagia jadi jurnalis kapiran cum mahasiswa bahasa tanpa masa depan jelas. Haha. Ini jelas menghibur diri.

Ketika mulai kuliah, hubungan kami masih dangkal. Lalu aku masuk EKSPRESI dan jadi gemar menulis. Aku membuat tulisan apapun yang kuunggah ke Facebook. Gita membaca dan kami jadi bicara banyak. Rupa-rupanya Gita sudah jadi cendekiawan sekarang. Baca ini itu dan tidak naif dengan ideologi “pakaian distro, sepatu Converse”-nya lagi kini. Kausnya sekarang bergambar Tan Malaka. Ia tak asing dengan Marxisme dan Komunisme. Tasnya berisi catatan Goenawan Mohamad. Kami dipersatukan oleh satu hal: punya bahan bacaan dan bincangan yang sama.

Hubungan ini menjadi semakin dekat. Aku memperkenalkan teman-temanku pada Gita. Bahkan sampai berniat menjodohkannya dengan seorang gadis. Sayang, si gadis anti-PNS. Haha. Aku juga dikenalkan Gita pada teman-temannya. Oh, ada yang tampan. Kalau boleh beri aku nomor ponselnya :-D.

Dari sana, kami cerita macam-macam. Intensitas bicara meningkat. Obrolan soal pekerjaan, diskusi soal apa yang jadi trending topic di Twitter, dan tak lupa, bicara cinta. Sms mulai sering melayang dari ponselnya ke ponselku. Barangkali, inilah yang namanya teman sesungguhnya.

Bacaan mungkin sama, tapi nasib jelas beda. Akhir tahun lalu Gita wisuda. Dia sudah sarjana bergelar Amd sekarang. Aku masih mahasiwa dengan kiriman 600 ribu per bulan. Jarak ini sudah sedemikian lebar. Malam ini, jarak ini menjelma jurang. Gita sudah pegawai negeri sipil yang masuk kantor di pagi hari. Aku masih setia dengan bangun siangku dan luntang-lantung di warung kopi ketika malam. Persamaan kami hanya dua sekarang: tanpa pacar. Haha.

Tulisan ini aku buat untuk memeringati ke-PNS-an Gita yang bermula sejak malam aku mengetahuinya ini. Ini mungkin ucapan selamat, memoar, sekaligus obituari. Kawan-kawan datang dan pergi. Pertemuan dan perpisahan silih berganti. Semoga kita tidak.

Apa yang aku bisa ucapkan sekarang? Tentu hanya kata “Selamat”. Gita, jadilah seorang Pujanegara yang baik. Jangan korupsi uang rakyat. Atau persahabatan kita putus. Haha. Tulisan ini selesai, tapi jangan persahabatan kita. Adieu!


Yogyakarta, 5 Maret 2012, 01.24




4 comments:

  1. baru baca, waw keren sekali... wordgasm :D

    ReplyDelete
  2. Ini aku udah baca di FBnya dan blognya Mima. Kereeen... Pengen melihat foto kalian berdua tahun 2012.. >.<*

    ReplyDelete
  3. Friendzoned.
    Tulisan sederhana dan jujur memang selalu menyentuh.

    Komentar pake akun gmail kok ribet ya sekarang.
    Marli.

    ReplyDelete
  4. iiaa ampun t'nta klian bner' sukses SEMANGAT SPENZA WANGON

    ReplyDelete