Mar 8, 2012

6 Maret

Jalanan yang lengang. Kios makan di pinggiran. Dan sepotong kue kecoklatan.

Mungkin kau masih ingat. Mungkin juga tidak. Tepat setahun, pada malam gerimis yang lalu, kita mengganti babak hubungan kita. perpisahan yang tak kusukai karena untuk itu kita harus saling berucap benci. Atau barangkali, sebab kata saling tidak pernah tepat digunakan untuk menggambarkan hal yang tak melibatkan aksi dan reaksi sekaligus, lebih tepat jika kubilang bahwa kau tengah mencoba untuk membenciku. Saat itu, kita tahu, kau mulai belajar untuk melupakanku. Aku tidak. Aku takkan mampu.

Hingga sekarang, ratusan malam sejak waktu itu. Atau malah ribuan ke depan.

Aku masih melamunkan hal yang sama. Tentang detik jam dinding yang begitu nyaring didengarkan. Tentang hembusan nafas yang terkadang menjadi berat. Atau tentang lampu-lampu gedung yang terlihat menyilaukan. Mungkin kau juga. Mungkin pula tidak. Nyatanya aku mengetahui bahwa telah ada orang yang mengirimkan pesan singkat dan mengucapkan selamat tidur pada malam-malam keparat yang begitu sepi tanpa hadirnya seorang yang kita cinta.

Aku tak suka.

Bukan padamu. Tetapi pada hal-hal yang menyebabkan kita berpisah. Juga kenyataan bahwa kau telah melupakan kenangan-kenangan ringan yang pernah kita anggap penting. Secangkir coklat hangat, warung nasi goreng langganan, atau sepiring roti bakar cokelat. Kita pernah menikmatinya. Bersama. Sebelum kau memutuskan meninggalkanku dengan seorang lain. Hingar-bingar yang terasa menusuk kulit kala kutahu kau memilih untuk pergi. Tentu saja kau pasti dengan mudah memilih kenangan yang akan kausimpan atau kaubuang. Aku tidak. Aku masih belum sanggup.

Dan kukira kamu tahu hal ini: ingatan bisa dibuang, namun ia tak pernah akan hilang.

Kau bisa mencari bayangan masa lalu kita tercecer di selasar jalan yang biasa kita lewati. Bahkan ketika kau berganti pasangan dengan puluhan lain. Yakinlah bahwa kepingan-kepingan kenangan yang perlahan kaubuang masih berada di tempat yang sama. Meski kenangan itu telah mendingin. Meski bukan suara motorku lagi yang kautahu. Itu sebabnya aku tak pernah bisa pergi. Meski aku ingin. Meski aku mau.

Gilakah aku?

Mungkin iya. Tapi siapa peduli? Kau tak pernah merasakan bangun pagi dengan badan penuh keringat karena memimpikan aku. Aku sebaliknya. Aku selalu penasaran, adakah batas jelas antara rindu dengan benci pada senyummu? Aku tak pernah paham. Yang aku tahu, senyummu selalu hadir sesudah aku memejamkan mata sekalipun. Juga tawa renyahmu. Yang aku tahu, tidak ada yang harus kusesali, bahkan jika kini kaubagi senyum dan tawamu pada orang lain.

Mungkin segalanya telah tuntas di beranda rumahmu. Bagimu. Tidak bagiku. Sampai saat ini, aku masih mencoba memahami mengapa jutaan tetes hujan tak juga menyapu luka yang kita buat bersama. Atau sudah? Atau haruskah aku menanti beberapa musim panas lagi hingga aku tahu mana yang lebih dulu kering, tangisanmu atau egoku?

0 comments:

Post a Comment