Feb 19, 2012

Tembok

Berlin, 10 November 1989

Ada yang runtuh, tetapi ada pula yang tumbuh. Yang runtuh: sebuah tembok, yang tebal, yang memisahkan negeri sang F├╝hrer menjadi dua bagian, Jerman Barat dan Jerman Timur, selama perang berlangsung. Yang tumbuh: sebuah harapan. Sebuah asa untuk melihat langit luas sambil bergandengan tangan tanpa melihat pandangan politik seseorang.

Saya bayangkan pada sore hari setelah tembok Berlin runtuh, orang-orang—tua dan muda, pria dan wanita—dari kedua bagian negeri yang telah lama bertikai itu pergi berkumpul di sekitar tembok tersebut. Mereka bersorak-sorai, meneriaki dan menginjak-injak reruntuhan tembok Berlin, sebuah ikon kekuasaan yang kemudian telah menjadi usang. Mereka membeli bir dan cemilan di supermarket, berfoto-foto, dan bermain sepakbola menanti senja usai. Di malam harinya, mereka berdendang bersama diiringi alunan gitar. Saat itu semua sadar bahwa perbedaan itu mutlak ada, tetapi tidak perlu dilabeli dan dibungkus secara terpisah hanya untuk menunjukkan eksistensi sebuah beda.

Tembok, hari-hari ini, memang menjadi ajang pamer mereka yang memiliki kuasa. Tembok dikukuhkan untuk menjadi batas—dalam arti konotatif dan denotatif sekaligus—antara dua hal yang sama sekali lain; kanan dengan kiri, hitam dengan putih, juga kaya dengan miskin. Sebuah bangunan yang diciptakan sebagai pertunjukan adanya sesuatu yang dianggap megah lagi kokoh, yang secara otomatis menciptakan bagian sisi dalam dan sisi luar wilayah melalui pemisah: tembok pembatas. Sebuah batas, seringkali kita tak paham artinya, yang berdiri di atas perbedaan kasta atau tingkatan kemuliaan.

Di dusun dekat rumah saya pernah terjadi pula proses yang kurang lebih hampir sama—meskipun dalam skala yang jauh berbeda—dengan penghancuran tembok Berlin. Pada saat itu seorang kaya di daerah tersebut berniat membangun tembok besar di sekeliling rumah mewahnya. Namun di sinilah masalah tersebut bermula. Rumah si kaya berada di pengkolan, di tikungan sebuah jalan kecil yang hanya cukup dilewati sepeda motor. Adanya tembok mengakibatkan pandangan pengendara terganggu sehingga seringkali terjadi tabrakan ringan dengan pengendara yang datang dari arah berlawanan. Kemudian saat itu tiba. Saat di mana warga sekitar gerah dengan tingkah si kaya yang mereka anggap keterlaluan karena tidak memperhitungkan tindakannya. Belum tuntas tembok dibangun, datanglah para warga ke rumah si kaya. Mereka merengsek masuk, beramai-ramai menendangi tembok keliling itu sampai akhirnya tembok tersebut roboh. Hingga kini, reruntuhan tembok masih tersisa karena sang pemilik tak berani lagi meneruskan pembangunan tembok yang menjadi masalah itu.

Tentu saja saya di sini bukan dalam posisi membenarkan tindak destruktif warga yang saya ceritakan di atas. Namun kita, selayaknya makhluk hidup yang diberi berkah untuk berpikir dan merasa, seharusnya dapat dengan cepat memilih nilai-nilai yang harus diambil dan harus dibuang, mana yang perlu ditinggal dan perlu dilakukan. Ketika kita mempunyai kemampuan dan kemauan untuk menunjukkan kebebasan berekspresi, maka kita berhak untuk itu. Namun, tak berarti kita  merampas hak dengan membuat batasan-batasan, mendikte orang lain tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Tentang ini, almarhum kakek saya, seorang Jawa tulen, pernah bercerita—atau lebih tepat menasehati saya. Beliau ngendika bahwa dahulu rumah-rumah dibuat dengan kayu saja karena tujuan sebuah rumah  dibangun hanyalah untuk menahan angin, dan terkadang hujan, yang dapat menyebabkan penghuninya sakit. Berbeda dengan sekarang, waktu itu tak ada  sedikitpun tujuan untuk menghalangi seseorang masuk. Bahkan pintu rumah biasa dibiarkan terbuka tanpa takut pada pencuri. Setiap tetangga boleh masuk, walaupun tetap dengan mematuhi norma yang berlaku. Pada posisi tersebut, memang masih ada tembok, sebuah batas, namun setiap orang dapat dengan bebas menembus batas tersebut karena selalu terdapat celah yang memang sengaja dibuat. Tembok kayu, yang tipis, yang mudah untuk dirobohkan dan diganti kapanpun ketika batas itu telah rapuh. Tak ada simbol keangkuhan berwujud tembok kokoh yang tinggi menjulang. Yang ada hanya batas yang sengaja dikaburkan, yang justru memancarkan sebuah keintimannya sendiri.

Maka tak heran, kini, ketika gedung-gedung pencakar langit dibangun, rumah-rumah megah dipamerkan, tembok-tembok besar didirikan, ada sewujud sepi yang timbul di dalam kemewahan yang dimunculkan itu. Mereka, penghuni bagian dalam bangunan tersebut, lupa: manusia tak pernah dapat dikategorikan ke dalam kotak-kotak yang berbeda menggunakan suatu pengukur batas, apalagi sebuah tembok.

0 comments:

Post a Comment