Feb 6, 2012

(lagi-lagi) Pramoedya

*sebuah surat imajiner untuk Pramoedya Ananta Toer


Sejujurnya, bung Pram, saya tak tahu pasti mengapa saya berani menulis sesuatu tentang anda. Saya bukan siapa-siapa, pasti. Pun dari sumber-sumber yang saya baca mengenai anda, sepertinya bung Pram bukanlah tipe orang yang mudah menghargai seseorang. Tambah lagi saya adalah tipe orang yang mudah sekali anda benci. Iya, bung Pram, saya orang Jawa, dan lagi mungkin di masa depan saya akan jadi PNS. Sudah cukup alasan untuk melarang saya menulis untuk anda, bukan? Iya, bung Pram, saya mengerti. Akan tetapi sekali ini saja mari kita hilangkan kebencian dan singkirkan dulu sejenak ego macam itu. Sekarang izinkanlah saya menulis –anggap saja surat— untuk anda karena sekarang, 6 Februari, adalah hari bersejarah bagi anda, Pramoedya Ananta Mastoer.

Tahun 1925 lalu, ibu bung Pram tentu sedang bersuka cita karena kedatangan buah hati yang menggemaskan. Pun hari ini, para pengikut anda tengah merayakan hari lahir pujaannya. Walaupun sebetulnya saya juga tak yakin benar berapa banyak yang mengingat tanggal lahir, bahkan mungkin sosok anda. Iya memang, bung Pram, penyakit lupa tengah mewabah di negeri kita. Satu masalah hadir dan segera disusul masalah lain, tetapi pemerintah seolah membiarkan, bahkan justru mengajak publik beramai-ramai melupakannya. Sesekali pemerintah tampil di depan televisi dan membikin drama seolah-olah mereka berusaha menyelesaikan permasalahan bangsa ini, tetapi di belakang layar mereka masih mengadakan arisan di hotel-hotel mewah dengan sanggul-sanggul dan kebaya impor, dengan jas mahal dan perut yang membuncit. Apakah kita boleh percaya bahwa mereka memang membela rakyat yang tertindas? Mungkin tidak. Mungkin benar apa yang dibilang oleh anda bahwa pemerintah terlalu sibuk berbasa-basi. Dan untuk soal ini saya bersyukur anda telah tiada. Mungkin jika anda masih hidup, segar, dan bergairah di jaman media sosial macam sekarang, bung Pram, anda akan membikin akun twitter dan sibuk memprotes pemimpin kita yang (tetap) brengsek.

Sebelum saya menyapa anda lebih lanjut, sekali lagi izinkanlah saya mengucapkan ini: selamat ulang tahun bung Pram! Tak ada doa juga harapan. Perjalanan anda telah habis, kisah anda pun telah tuntas sehingga rasa-rasanya kini tak ada yang berharap apapun kecuali orang-orang yang menikmati keuntungan dari menjual nama besar anda. Iya, bung Pram, kabarnya tetralogi Buru akan segera difilmkan, dimulai dari Bumi Manusia tahun ini. Mungkin anda takkan protes karena sama seperti bung, mereka pun butuh uang untuk makan. Tetapi, menurut saya, harus tetap ada rasa miris yang muncul. Sekarang orang-orang demikian suka menonton film, tetapi minat baca mereka semakin rendah. Saya beberapa kali ke perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah, dan ke toko buku, tetapi saya lihat pengunjung tak sepadat antrean bioskop di mall-mall sana, bahkan cenderung sepi. Iya, bung Pram, saya juga mulai kekurangan energi untuk membaca. Saya malu pada anda yang saat berada di penjara pun masih sempat membaca buku-buku bermutu. Saya juga malu pada nama-nama macam Coki Naipospos, Isti Nugroho, dan Bambang Subono yang tabah dihukum penjara 8 tahun karena ketahuan membaca karya anda, padahal keadaan sekarang sudah tak seperti itu. Iya, bung Pram, Indonesia telah berubah. Sekarang tak ada yang ditahan karena membaca tetralogi Buru, bahkan anak-anak ruhani anda bebas berkeliaran di toko buku, di pameran, dan di jalan-jalan.

Sebetulnya, bung Pram, saya ingin mengirimkan surat ini disertai sebotol wine dan sebungkus rokok kretek kesukaan anda. Saya penasaran, apakah di sana anda masih bisa menikmati hal-hal remeh yang menyenangkan tersebut? Bahkan di sini, di negara kita ini, rokok kretek tengah mendapat cobaan berat, bung Pram. Kampanye besar-besaran mengenai bahaya merokok terus muncul. Rokok digambarkan hanya merusak kesehatan, menghancurkan masa depan generasi muda, dan sejuta kejelekan lain. Padahal semua tahu bahwa industri ini memiliki peran besar dalam menghidupi buruh-buruh miskin di banyak daerah. Belum lagi corporate social responsibility (CSR) yang mereka jalankan. Tetapi sekali lagi, bung Pram, inilah negeri kita. Entah kenapa kampanye negatif tadi hanya menyudutkan industri kretek yang berabad-abad dikuasai oleh Indonesia. Perusahaan rokok kretek kecil telah banyak yang gulung tikar. Namun rokok impor yang notabene dikuasai oleh borjuis-borjuis asing yang kita tidak pernah tahu siapa tetap bebas melenggang masuk.

Tentu saja anda tak usah cemas, bung Pram. Seorang mati tak perlu dan tak boleh merasa khawatir dengan apa yang terjadi di dunia ini. Mengenai masalah tadi, biarlah menjadi urusan mereka-mereka yang masih hidup. Omong-omong soal orang mati, bung Pram, apakah anda telah berkenalan dengan Ernesto "Che" Guevara? Anda bisa mendapat cerutu kuba yang terkenal itu darinya barang sebatang dua. Kalau tidak suka cerutu, anda dapat meminta ganja pada Bob Marley. Kebetulan ia juga tengah merayakan ulang tahunnya hari ini. Barangkali anda mau menggelar pesta bersamanya dengan saling berbagi cerita dan bernyanyi bersama. Mereka itu –Che Guevara dan Bob Marley— masuk ke dalam daftar orang yang saya kagumi, bung Pram. Orang-orang yang tak pernah lelah melawan, sama seperti anda. Ya, melawan. Che melawan presiden Kuba yang terkenal korup, Batista. Sedangkan Marley melawan para bangsat kolonialis yang menginjak-injak saudaranya. Mereka sama seperti anda, bung Pram, melawan penindasan dan menolak kemapanan. Mereka telah membikin dunia takjub dengan hal-hal yang mereka lakukan. Selain itu, mereka –juga anda, bung Pram— telah sempat membuat karya-karya yang takkan pernah dunia ini lupakan begitu saja.

Dan seperti kata anda, bung Pram, bukankah sebaik-baik manusia adalah mereka yang melawan ketidakadilan? Tidak sekadar menentang, tetapi melawan. Dan karena saya tidak (atau lebih tepatnya belum) mampu melawan, maka saya mencoba menulis ini, meski tak mahir. Saya hanya berusaha melaksanakan perintah anda. Iya, bung Pram, orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.


2 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Mas, emang bener Tetralogi Buru mau difilm-in? Kok ga ada gaungnya ya. Atau aku yg ga gaul?

    ReplyDelete