Feb 19, 2012

Tembok

Berlin, 10 November 1989

Ada yang runtuh, tetapi ada pula yang tumbuh. Yang runtuh: sebuah tembok, yang tebal, yang memisahkan negeri sang F├╝hrer menjadi dua bagian, Jerman Barat dan Jerman Timur, selama perang berlangsung. Yang tumbuh: sebuah harapan. Sebuah asa untuk melihat langit luas sambil bergandengan tangan tanpa melihat pandangan politik seseorang.

Feb 6, 2012

(lagi-lagi) Pramoedya

*sebuah surat imajiner untuk Pramoedya Ananta Toer


Sejujurnya, bung Pram, saya tak tahu pasti mengapa saya berani menulis sesuatu tentang anda. Saya bukan siapa-siapa, pasti. Pun dari sumber-sumber yang saya baca mengenai anda, sepertinya bung Pram bukanlah tipe orang yang mudah menghargai seseorang. Tambah lagi saya adalah tipe orang yang mudah sekali anda benci. Iya, bung Pram, saya orang Jawa, dan lagi mungkin di masa depan saya akan jadi PNS. Sudah cukup alasan untuk melarang saya menulis untuk anda, bukan? Iya, bung Pram, saya mengerti. Akan tetapi sekali ini saja mari kita hilangkan kebencian dan singkirkan dulu sejenak ego macam itu. Sekarang izinkanlah saya menulis –anggap saja surat— untuk anda karena sekarang, 6 Februari, adalah hari bersejarah bagi anda, Pramoedya Ananta Mastoer.