Jan 10, 2012

Surat Buat Prima Sulistya

Beberapa pekan kemarin, saya iseng menulis sebuah notes di Facebook untuk kawan saya, Prima Sulistya. Semacam berkirim surat. Kemudian, karena dia berjanji untuk membalas tulisan saya, akhirnya saya pindah notes tersebut ke sini sambil harap-harap cemas pada balasan apa yang akan dia tulis.

*** 

*perihal konsistensi dan menjaga ambisi

Dear Prima,
Sabtu kemarin, tepatnya tanggal 10 Desember 2011, aku melaksanakan ujian psikotes. Katanya sebagai syarat masuk CPNS. Aku sih sebetulnya tak peduli. Dan kalaupun aku menceritakannya padamu, pasti kamu hanya menyimak barang sejenak untuk kemudian mencela dan tertawa sinis. Aku tahu benar sifatmu yang satu itu. You hate being civil servant, don’t you?



Dear Prima,
Semalam aku teringat pesan singkat yang kamu kirim padaku beberapa bulan lalu. Kaubilang kamu pernah takut terhadap masa depanmu. Aku penasaran, apa sekarang rasa takut itu masih suka menjenguk, menjemput malam-malammu dan merusak kesenangan kencan yang kaurencanakan tiap sabtu pagi? Aku harap tidak. Aku harap kaubuang jauh-jauh rasa takutmu. Takut itu hanya pantas dimiliki oleh seorang pecundang, kira-kira begitu ucapan motivator-motivator muka tebal yang kerap kali kutonton di televisi. Kamu yang seorang aktivis mahasiswa, penulis berbakat cum editor handal yang dimiliki oleh LPM kampusmu tak pantas merasa takut. Kamu pasti memiliki masa depan cerah. Lebih penting lagi, kamu bebas untuk menentukan masa depanmu, hal yang justru terkadang aku inginkan.

Aku mengenalmu. Orang sepertimu pasti bisa menjadi apapun yang kauinginkan. Menjadi ustadzah, menjadi politikus, menjadi penerjemah, atau menjadi apapun. Aku tak pernah meragukanmu.

Lantas untuk apa aku menulis ini? Mungkin karena inkosistensi yang kerap kali kaubanggakan. Kita memang tak boleh mencemaskan gelapnya masa depan karena kurangnya kemampuan kita, tapi kita pantas khawatir jika kelak ketidakkonsistenan menampar dan membangunkan kita dari mimpi indah yang tengah kita bangun. Namun dalam kasusmu, aku masih sependapat dengan pernyataanku sebelumnya. Aku tak pernah meragukanmu. Aku yakin kamu hanya berpura-pura inkosisten. Kamu yang mengenal Soe Hok Gie, Marsinah, atau Munir pasti belajar banyak keteladanan dari mereka. Tentang pentingnya memiliki visi. Tentang pentingnya konsistensi.

Dear Prima,
Dalam beberapa hal aku iri padamu. Sepertinya aku pernah berkata ini padamu: aku ingin bebas, tak terikat aturan-aturan dan harus patuh pada atasan. Mana bisa, bukan? Aku adalah sebenar-benar budak. Selama minimal sepuluh tahun ke depan aku akan tertawan oleh jam kerja sialan, menjadi pelayan pemerintah yang bahkan tak peduli ada berapa banyak orang miskin yang tak sanggup membeli beras besok pagi. Jika pun dulu aku berharap menjadi budak bagi diriku sendiri, menjadi seorang borjuis yang tinggal menanti passive income mengetuk pintu rumah, mungkin dalam beberapa tahun ke depan, ketika aku telah berbaring pada zona nyaman, aku harus segera merevisi mimpi itu. Ah, pasti kamu tahu benar bahwa pragmatisme menggerogoti segala sesuatu yang kita punya, termasuk mimpi.

Kamu beda. Kamu selalu mengaku sebagai bohemian. Kamu bisa menentukan deadline tugas akhirmu sendiri. Kamu bisa bolos kuliah sesuka hati. Bahkan lebih jauh, kamu bisa mengatur mimpimu. Kamu dapat mengubah dan membuat mimpi baru tiap hari tanpa ada satu setan pun tahu. Jika Pram sempat menemuimu sebelum ia meninggal, aku yakin ia akan melabelimu sebagai seseorang yang bebas sejak dalam pikiran.

Dear Prima,
Di samping masalah di atas, aku dihadapkan pada kenyataan bahwa aku tak bisa menjaga ambisi dan menjadi konsisten secara bersamaan. Jika aku memilih untuk menjaga ambisi, keluar dari rutinitas dan memberi pekerjaan pada diriku sendiri, berarti aku bukan orang konsisten. Aku bakal mengkhianati negara yang telah membiayai kuliah dan memberi banyak hal padaku selama ini. Aku bakal mengkhianati air mata bahagia ayah dan ibuku ketika mereka mengetahui aku diterima di kampusku ini. Tapi jika aku memilih menjadi konsisten, menjadi pegawai hingga pensiun dan lalu mati, itu artinya aku harus membunuh ambisiku, menguburnya di tempat sepi sambil sesekali mendoakan agar ia tenang dan tidak menghantuiku.

Aku adalah Karna. Aku harus memilih untuk berada di pihak Kunthi yang melahirkanku atau Kurawa yang membesarkan dan merawatku. Aku tahu aku telah kalah bahkan sebelum perang dimulai.

Berbeda denganmu, tentu. Kamu adalah sosok ambisius sekaligus konsisten. Kamu selalu lapar akan ilmu baru. Kamu selalu berambisi untuk terus menjadi yang lebih baik dari orang lain. Posisi dan penghargaan yang kamu peroleh telah mengatakan hal tersebut. Selain itu, kamu adalah sosok konsisten. Walaupun terkadang ketika berjalan kamu terseret arus dan harus menyingkir, tak berapa lama kemudian kamu segera kembali ke jalurmu. Buktinya adalah Indeks Prestasimu. Memperoleh IP tinggi adalah kejeniusan, tapi kestabilannya dari semester ke semester adalah soal konsistensi.

Sebetulnya menjadi ambisius adalah hal mudah, tapi selalu konsisten dan menjaga ambisi tetap tumbuh liar adalah perkara yang berbeda. Tidak semua orang bisa seperti Arjuna yang kukuh tapa brata walaupun ia diganggu oleh bidadari-bidadari cantik. Tidak semua orang bisa seperti Gajah Mada yang berpantang bersenang-senang sebelum menyatukan nusantara.

Namun kamu bisa. Kamu adalah Drupadi. Kamu takkan pernah merasa puas sebelum berhasil meminum darah Dursasana. Kamu telah menekan tombol pemicu perang dan memaksa semesta membantu mengabulkan keinginanmu.

0 comments:

Post a Comment