Jan 20, 2012

Kehilangan dan Penyesalan

Pada suatu malam di penghujung tahun 2011, beberapa pemuda nampak tengah bercakap-cakap di pinggiran ibukota. Rupanya mereka tengah mempersoalkan tentang sesuatu yang seharusnya mereka peroleh namun tak kunjung sampai ke tangan mereka. Tentang bagaimana caranya mereka bisa segera mendapatkan yang telah menjadi hak mereka. Tentang betapa egoisnya –jika tak mau dibilang lalim— pihak yang tak juga menyerahkan hak tersebut. Mereka terlihat berambisi memperoleh hal tersebut. Mungkin mereka lupa, setiap perolehan adalah satu kehilangan lain.

Benar. Kehidupan adalah soal memperoleh dan kehilangan.

Ketika Barathayuda berakhir, kayon ditancapkan, para penonton bersorak. Di sana terlihat Pandawa sebagai simbol kebenaran menang melawan kejahatan Kurawa. Pandawa merebut kembali Astina yang menjadi hak mereka dan kejahatan telah terbayarkan. Lunas tuntas. penonton pun bubar meninggalkan pagelaran. Namun ada satu yang luput dari perhatian: dalang tak menceritakan semuanya.

Ada fragmen di mana setelah perang usai, Yudistira nampak terdiam lemas. Ia tertunduk menyaksikan padang kurusetra banjir darah. Mayat-mayat bergelimpangan. Bau anyir menjalar di medan perang. Di sinilah antiklimaks terjadi. Setelah kembali ke kerajaan, Yudistira justru mengajak keempat Pandawa lainnya mendaki gunung Himalaya untuk mencapai nirwana. Tahta ia serahkan pada Parikesit, cucu Arjuna. Ia merasa apa yang ia peroleh tak sebanding dengan kehilangan yang diderita. Saudara-saudaranya, para Kurawa, harus menjadi tumbal. Untuk mencapai kejayaan yang tak seberapa, ternyata ia harus mengorbankan hal-hal lain yang jauh lebih berharga.

Setiap perolehan adalah satu kehilangan lain. Mungkin begitu. Di dalam ilmu ekonomi kita mengenal adanya opportunity cost. Bahwa untuk mendapatkan sesuatu hal yang diinginkan, kita harus rela mengorbankan hal yang tidak kita prioritaskan. Sebuah biaya peluang yang acap kali kita hadapi dan kita hitung sebelum bertindak. Tetapi kita juga tahu, tidak semua hal yang diperhitungkan dapat dihitung. Ada pengorbanan-pengorbanan nonmaterial yang tak pernah kita tahu telah terbuang hilang demi mendapatkan kepuasan. Bahkan, seringkali, kehilangan tersebut jauh lebih besar dari yang diperoleh kemudian.

Soal ini, Muhammad Ali Jinnah, pendiri Pakistan, tahu benar. Ia adalah contoh orang yang tenggelam dalam ambisinya memperoleh hak dan berakhir dalam lautan penyesalan. Pada mulanya ia memimpikan India yang berdaulat, yang terbebas dari imperialisme. Saat itu ia tidak sendiri. Ditemani Mohandas Karamchand Gandhi, Jinnah bahu-membahu mengusir Inggris dari tanah kelahiran mereka. Sebuah duet yang ideal. Gandhi dengan satyagraha-nya dan Jinnah dengan perjuangan hukum dan politiknya berhasil memerdekakan bumi India.

Sayang, pada tahun 1947 Muhammad Ali Jinnah memutuskan “berpisah” dengan Mahatma Gandhi. Ia merasa India sebagai negara yang disesaki orang-orang Hindu tidak mewakili keinginan umat muslim sepertinya. Bersama Liga Muslim yang ia bawahi, Jinnah memilih  mendirikan satu negara baru yang berlandaskan Islam: Pakistan. Sebelum berdirinya Pakistan, Gandhi sempat menemui Jinnah. Air mata meleleh di pipi keriput milik si tua Gandhi. Sembari berlutut ia memohon, “Jinnah sahabatku, kau boleh ambil jabatan presiden atau perdana menteri atau apapun yang kau mau, tapi tolong jangan berpisah dari kami.”

Permintaan ini ditolak Jinnah.

Pada saatnya, keputusan emosional ini disesali oleh Jinnah. Di suatu kesempatan, ia menumpahkan perasaannya pada majalah Time. ”Satu keputusan yang membuat aku merasa berdosa seumur hidup adalah aku telah berani-beraninya memerdekakan Pakistan, “ katanya penuh sesal.

Wajar Jinnah menyesal. Apa yang ia peroleh –negara Islam yang ia idamkan— tak sepadan dengan besarnya kehilangan yang ia rasakan. Ia telah kehilangan sahabatnya Gandhi. Lagi, Pakistan yang ia lahirkan ternyata juga tak luput dari perang –konflik antara Sunni dan Syiah yang berkepanjangan, misalnya— seperti di India dahulu. Mungkin Jinnah lupa sebuah peribahasa lawas: pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna.

Rasa-rasanya penyesalan seperti di atas pernah kita alami, meski tak sedalam Jinnah. Ketika SMP, memakai celana biru pendek, kita membayangkan betapa asyiknya mengenakan celana panjang abu-abu. Setelah menginjak SMA, segera kita merasa bosan dan ingin secepatnya bebas, menjadi mahasiswa. Tapi saat kelulusan tiba, lalu kita menjadi mahasiswa, kita malah merasa rindu dan kehilangan saat-saat terbaik, yakni saat sekolah. Kita sejenak terlena oleh keinginan-keinginan yang  justru ketika kita memperolehnya, kita sesali karena telah melepas dan kehilangan sesuatu lain yang terkadang terlalu berharga untuk dilepas.

Kelak, Yudistira memilih untuk tidak memperoleh dua hal agar tidak kehilangan dua hal berharga miliknya. Pertama ketika ia menolak masuk surga karena Bathara Indra menolak anjing yang dibawanya menaiki kereta kencana. Yang kedua adalah saat Yudistira memutuskan tinggal di neraka demi selalu bersama saudara-saudaranya. Yudistira belajar: apa yang diperoleh tak pernah mampu membayar rasa kehilangan.

2 comments:

  1. nih, gw komen, gyahahahaha
    ntar kalo udah kerja bakal kehilangan kebebasan :)

    ReplyDelete
  2. tataaa kamu ada di daftar tag akooh cek http://rtyaspermana.blogspot.com/2012/02/what-eleven.html just for having fun :) biar km ga ada alasan buat ga ngeblog ahahaa

    ReplyDelete