Jan 5, 2012

Front Pembela Tuhan

Mengenang Gus Dur (7 September 1940 –  30 Desember 2009) yang pernah ngendika, "Tuhan itu tak perlu dibela."

***

Suatu malam, Petruk dan adik-adiknya, Gareng dan Bagong, sedang kongkow-kongkow gaul di warkopnya lurah Semar. Malam itu purnama dan cuaca bersahabat. Terjadilah percakapan di antara mereka.

“Sekali-kali jadi anak gaul yo kang. Ndak turu-turu terus di rumah. Ngomong-ngomong enak banget nih kopinya. Campuran gula sama krimernya gayeng tenan,” ucap Bagong.

 “Lah iyo. Mosok kamu udah SMA ndak pernah bergaul. Gaul itu penting, biar kita tahu berita baru yang terjadi di negara tercinta ini. Wah apalagi sekarang sedang banyak isu hangat di republik Hastinapura. Kalau kamu cuma bisa ngulang yang diajarken di sekolah, kamu bakal jadi robot. Ndak guna,” ujar Petruk sambil ngemil roti bakar spesial keju andalan warkop.

“Eh itu kamu lagi baca koran sore tadi yo, reng? Itu headlinesnya tentang apa? “ tambahnya.

Petruk, sejak bermimpi jadi ratu, jadi penguasa kerajaan, tiba-tiba berubah jadi idealis. Jadi sok ngerti, sok paham tentang politik. Apalagi dia (katanya) kuliah di UnHas --Universitas Negeri Hastinapura-- jurusan FISIP. Beh, gayanya selangit.

Gareng, yang sejak tadi asyik baca koran, menjawab, ”ini loh kang. FPT, Front Pembela Tuhan, tadi siang merazia tempat hiburan di pinggir hutan di daerah Awangga sana. Warga-warga yang asyik dangdutan dipenthung, dihajar sampai babak belur. Terus yang lagi berenang ditarik terus diarak keliling kampung, kata mereka asusila. Lah padahal mereka kan ndak salah toh? Apa mereka mengganggu ketertiban negara ini, kan ndak. Cuma gara-gara standar moral mereka berbeda kok yo langsung main hakim gitu.”

“Aneh banget ya kang kok yang kaya gitu dibiarken sama istana?” tiba-tiba Bagong nyeletuk.

“Walah le, le. Basi. Itu kan berita lawas. Tampilan boleh baru, kejadian boleh ganti, tapi kan itu kulitnya. Dalemnya sama. Pokok permasalahannya ya itu-itu saja. Coba kamu runut akar masalahnya dari mana,” Petruk, yang dalam kisah pewayangan digambarkan memiliki mata juling, pertanda awas dan visioner, mencoba menjelaskan pada adik-adiknya.

“Memangnya ada apa toh kang?” Bagong yang lugu bertanya lagi. Dia memang polos. Walaupun sekarang sudah SMA, tapi kelakuannya masih kaya anak-anak. Sehabis pulang sekolah, terkadang ia mampir ke tempat dingdong. Sisa uang jajannya selalu habis di game centre.

“Gini.. Kamu tahu siapa pemimpin besar FPT? Burisrawa. Nah kan udah jelas dia itu sahabat patih Sengkuni, punggawa kerajaan, anak buah kepercayaan Prabu Duryudana, raja Hastina,” jawab Petruk.

“Loh, loh, loh.. Jadi kesimpulannya apa kang?” Bagong yang kurang jelas tetap bertanya.

“Ealah masih belum jelas juga? Itu kan artinya FPT cuma kepanjangan tangan pamarentah. Suruhan raja walaupun ndak langsung. Jadi, ya, FPT ini semacam tentara non resmi kerajaan buat mengintimidasi rakyat biar rakyat manut, tunduk sama penguasa. Paham?” ujar Petruk sambil mencomot sebiji pisang goreng.

“Hoo.. Jadi Tuhan yang mereka bawa itu hanya alasan, cuma tedeng aling-aling saja, begitu kang? Kukira selama ini mereka berusaha menegakkan dharma dengan cara radikal, ternyata malah nuthuk pihak-pihak yang nggak disukai baginda raja,” Bagong manggut-manggut. Pura-pura paham.

“Assalamualaikum..”
Di saat percakapan mereka sedang seru-serunya, tiba-tiba ada sapaan dari suara yang tak asing di telinga mereka. Rupanya Togog dan Sarawita.

“Walaikumsalam…'"
“Eh kang Togog sama kang Sarawita. Monggo duduk sini. Habis dari mana toh malem-malem gini?” tanya Bagong.

“Maturnuwun, Gong. Biasa, habis belanja bulanan di supermarket sebelah. Tadi disuruh baginda Prabu Wibisana. Sekalian saja mampir mumpung sempat. Ini ada apa kok sajake rame tenan?” ucap Sarawita membuka pembicaraan.

“Gini loh kang..” Gareng mencoba menjelaskan. “Tadi ada razia FPT, trus rusuh. Heran yo, harusnya mereka yang dekat dengan Tuhan kan bawa damai, bukan lantas main pukul.”

“Duh jan kok masalah kayak gitu masih ada aja sih. Apa mereka pada nggak sekolah, nggak dapet pelajaran sejarah,” Togog menjawab prihatin.

“Kamu masih inget pertempuran antara tentara Adipati Karna sama pasukan kera Hanoman, Gong heh Bagong? Kamu di SMA diajari kan?” Lanjutnya.

Ternyata Bagong tidak tahu. Dia menjawab sambil cengengesan, “aduh lupa kang. Lali, hehehe.”

“Halah..” Togog kecewa. Tapi dia lantas bercerita, “Hanoman Putra Bayu pernah berantem, perang sama Adipati Karna. Gara-garanya Karna meminta Wahyu Makutharama yang berisi Hasta Brata pada Begawan Kesawasidhi.”

“Wahyu Makutharama itu wasiat yang pernah dikasih Prabu Rama buat Baratha sama Prabu Wibisana,” Sarawita menambahkan.

“Hooh. Dan ternyata pas Karna sampai padepokan, Begawan Kesawasidhi sedang bersemedi. Hanoman melarang Karna masuk karena sang Begawan tak boleh diganggu. Karna, yang diperintah Prabu Duryudana meminta Wahyu Makutharama, pantang pulang sebelum tugasnya tuntas. Dia nekat menerobos masuk. Hanoman juga sama ngototnya. Dia berprinsip harus melindungi, membela Begawan Kesawasidhi sampai mati. Akhirnya, terjadi pertarungan besar yang diakhiri kemenangan Hanoman. Bahkan panah kunta milik Karna juga berhasil direbut.”

“Mungkin pada saat itu Hanoman merasa menang besar. Ia pasti dapat imbalan, atau minimal pujian karena telah membela sang Begawan dan melindungi seisi padepokan. Ee.. Ee.. Ladalah kalian tahu yang terjadi? Begawan Kesawasidhi murka. Beliau marah sama Hanoman ternyata.”

Gareng dan Bagong bingung. “Kok bisa?” tanya mereka.

“Lah iya. Beliau, ketika selesai semedi mendapati padepokannya berantakan dan akhirnya mengetahui yang terjadi, menegur Hanoman. Kira-kira seperti ini yang dikatakan beliau,
Ngger, aku apresiasi niat baikmu membelaku. Tapi apa kamu ndak mandang siapa aku? Aku iki Begawan Kesawasidhi. Ilmuku jauh lebih dari cukup buat melindungi diri. Dan kalo kamu pikir kesaktianmu yang ndak seberapa bisa buat gagah-gagahan, kamu jelas salah. Aku ndak perlu dibela, paham?
Begawan Kesawasidhi itu kan sebenarnya Sri Kresna, titisan Sang Hyang Wisnu, yang sedang menyamar. Tentu saja Hanoman itu ndak perlu dan ndak bisa melindungi beliau. Malah seharusnya Hanoman yang minta perlindungan Begawan Kesawasidhi,” ujar Togog menutup ceritanya.

“Berarti FPT itu benar apa salah? Tadi Kang Petruk nyoba menganalisa dari kacamata politik. Nah kalo menurut kang Togog bagaimana?” Bagong terus nyerocos bertanya.

Lurah Semar, yang sedari tadi diam nonton bola, liga Enggres, tiba-tiba ngendika, “Kalian ini anak kemaren sore kok pada sok tahu banget. Ngobrolin politik lah, agama lah, sejarah lah. Mbok ya belajar aja yang bener, baru ngomong. Wes toh Gong. Kamu besok kan masih harus sekolah. Ini udah malem, mending kamu pulang terus tidur biar bangunnya ndak kesiangan...”

Liga Enggres bubar, obrolan mereka pun bubar.

0 comments:

Post a Comment