Dec 22, 2012

The Rain: Some People Make a Mixtape, Others Just Get Wet


*judul adalah plesetan dari ucapan Bob Marley:  Some people feel the rain. Others just get wet.

 ***

Tanyalah arti hujan pada para petani. Mereka akan menjawab bahwa hujan adalah berkah. Berkat hujan, sawah ladang akan dengan cepat merasakan kesegaran tetes demi tetes air hujan. Tanaman bakal tumbuh subur, menghidupi tidak hanya petani yang menanam mereka, tetapi juga banyak manusia lain. 

Tanyalah arti hujan pada jutaan orang yang terjebak macet di jalan raya. Dengan segera, jawaban penuh caci maki akan kita peroleh. Gara-gara hujan, jalanan yang licin, juga kendaraan yang memenuhsesaki seisi kota, mereka terlambat sampai tujuan. Sangat terlambat. Saya pernah berada pada kondisi ini, dan memang kita harus mengutuk, mengutuk, dan mengutuk!

Tanyalah arti hujan pada para pujangga dan musisi. Kita akan mendapat syair-syair, petuah, juga lirik yang romantis. Terkadang liris dan penuh kesedihan. Namun indah. Seindah petrichor yang kita dapati sehabis hujan kelar.

Tanyalah arti hujan pada penikmat musik amatir kurang kerjaan. Maka, daftar lagu yang didengar kala hujan akan segera tersaji. Seperti postingan saya kali ini.

Dec 21, 2012

Kepada Kamu yang Telah Lewat

Aku tak percaya pertemuan kita merupakan kebetulan semata.

Bahwa kita tak sengaja berjumpa, lalu sempat melangkahkan kaki bersama, adalah sebuah rencana yang telah diprogram sedemikian rumit oleh semesta.

Bahwa kemudian kita berpisah jalan di persimpangan, merupakan takdir yang harus kita hadapi. Sendiri-sendiri.

Aku percaya cinta datang tepat waktu.

Dulu ia tiba begitu saja tanpa membiarkan aku dan kamu menanti lama. Ia datang dan mengantar kita ke tempat seharusnya kita berada. Kita menyublim, menjelma dalam kalis ketiadaan. 

Kita jadi satu.

Kita lupa waktu.

***

Suatu hari, perpisahan hadir membawa gerimis, menjemputmu dengan tergesa. Suatu hari, cinta tak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya membiarkan perpisahan lewat pada suatu jeda.

Ada waktu ketika cinta seperti orang mati. Cinta lupa bahwa ia memiliki tugas menjaga hati.

Cinta menghilang pada suatu pagi.

Setelahnya, aku tak ingin mengingat apa-apa. Aku ingin lupa rasa. Lupa cinta.

***

Cinta datang tepat waktu.

Tidak dengan perpisahan.

Nov 28, 2012

Smadha Purwokerto, Siapa Peduli?

tulisan ini dipersembahkan untuk kawan-kawan penggerak program Smadha Peduli. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang program tersebut, silakan menuju ke sini.

***

Hari Rabu pekan kemarin, tepatnya tanggal 22 Nopember 2012, saya bersama kedua kawan saya yaitu Prima Harsha dan Surio Nugroho berkunjung ke sekolah tempat kami menghabiskan 3 tahun masa SMA: SMA Negeri 2 Purwokerto (selanjutnya akan saya sebut dengan Smadha saja). Sejak kami lulus tahun 2008 lalu banyak sekali perubahan, terutama perubahan fisik gedung sekolah. Bahkan perubahan tersebut cenderung mencolok apabila mengingat konon bangunan-bangunan di Smadha adalah cagar budaya sehingga tidak boleh dipugar dengan mengubah bentuk bangunan pada mulanya. Entahlah. Yang pasti, Smadha jauh lebih bagus dan terkesan modern dengan tampilannya yang sekarang.

Memasuki lapangan, kemegahan Smadha kian terasa. Lapangan sepakbola yang dulu asal hadir sebagai tempat berolahraga kini lebih terlihat cantik. Di sekeliling lapangan telah tersedia running track sehingga lapangan sepakbola Smadha sekarang seperti gelanggang olahraga meskipun dalam konsep mini. Apalagi kini sedang dibangun monumen terima kasih guru yang diinisiasi oleh para alumni sekolah dengan tujuan sebagai wujud persembahan mereka terhadap dedikasi para guru. Luar biasa.

Itu saja?

Penampilan depan tersebut belum seberapa. Tempat pertama yang kami kunjungi, yakni ruangan BK, lebih mengejutkan lagi. Lokasi ruangan BK masih sama seperti waktu saya bersekolah dulu. Hanya saja, bangunan yang benar-benar baru tetap saja membikin orang yang lama tak berkunjung akan terkaget-kaget. Ruangan tempat para siswa berkeluh kesah yang dulu seperti gudang gelap yang tak terpakai kini menjadi sangat bagus. Lantai keramik, pendingin ruangan yang menghiasi, juga ruang tamu yang benar-benar nyaman membuat saya lebih merasa sedang berada di ruang tunggu eksekutif daripada di dalam sekolahan.

Nov 21, 2012

Semeru, Sebuah Catatan Perjalanan

Awalnya adalah Murdani. Manusia pliket dari planet Namec ini pada suatu hari yang membosankan di kantor tiba-tiba melontarkan ajakan mendaki gunung tertinggi di Jawa: gunung Semeru. Iya, diajak. Entah dengan Sholeh. Saya yakin ia tidak diajak, tetapi merengek ikut trip kali ini walaupun sudah jelas ada larangan membawa binatang peliharaan oleh TNBTS. Tapi tak apa. Saya bisa memasukkan Sholeh ke dalam trash bag atau entah apa nantinya. Yang penting berangkat saja dulu lah. Toh sudah lama sekali sejak kali terakhir saya tidur berdesak-desakan di dalam tenda.

Setelah anggukan kepala tadi, segera saya mulai melakukan persiapan-persiapan. Termasuk memesan tiket kereta sejak jauh-jauh hari dan mengumpulkan terlebih dulu peralatan yang akan dibawa. Karena beberapa peralatan outdoor saya tak pernah terpakai sejak SMA, jadilah itu barang-barang hilang entah ke mana. Selanjutnya, dengan sedikit usaha dan banyak utangnya, saya berhasil membeli separuh nyawa yang harus dibawa dalam perjalanan, seperti matras dan sleeping bag. Sungguh total yang saya lakukan karena terlalu semangat dengan rencana ini hingga tak terpikir bahwa akhirnya kedua barang tadi sama sekali tak terpakai di lapangan.

Nov 5, 2012

Tentang Perpisahan atau Terserah Kau Sebut Apa

Barangkali, cinta dan harapan tak pernah benar-benar mendewasakan manusia. Ada kalanya dua hal tersebut justru membikin kita terlihat bodoh dan kekanak-kanakan. Terutama ketika cinta dan harapan bertemu dalam titik nadir jurang perpisahan. Seperti aku. Seperti kamu. Seperti kita berdua beberapa tahun lalu. Bahkan hingga sekarang. Kita tak pernah belajar dewasa. Harapan yang mengecewakan kita hanya mampu membuat kita lebih baik dan lebih pintar berpura-pura.

Harapan yang terlalu memang tak selalu memberi kita bahagia. Bahkan seringkali hanya membuahkan lara.

Sudah berapa lama aku menulis kata rindu yang ditujukan padamu? Entahlah. Aku malas mengingat. Aku terlalu lelah untuk sekadar melihatmu memunggungiku. Sambil berharap pelan-pelan kamu akan sadar dan membalikkan badan walau hanya sekadar untuk tersenyum padaku. Tapi nyatanya hal itu belum juga terjadi. Bahkan aku pikir harapan yang aku pelihara ini lama-lama menggerogoti akal sehatku.

Oct 17, 2012

Setelah Saujana

Teruntuk kawan-kawan yang sangat antusias bergabung dalam saujana.

Saat mengunggah cerpen-cerpen di blog saujana, saya dipenuhi perasan gembira yang meluap-luap. Perasaan senang yang berbeda dari biasanya. Kesenangan yang dibuat sendiri tanpa harus menunggu pemberian dari orang lain, yang ditemani semangat kebersamaan dari kawan yang telah lama tidak saya jumpai. Kesenangan yang disertai setitik asa bahwa masih ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk membunuh jenuhnya rutinitas.
 
Saya teringat Santiago, si tua dalam novel Hemingway. Buatnya, hidup hanya  sebatas pekerjaannya sebagai nelayan, yaitu melaut. Mencari ikan untuk ia santap setiap hari. Tidak ada kesenangan dalam rutinitas yang ia lakoni. Apalagi sebagai seorang nelayan miskin yang telah melewati masa kejayaannya, ia lebih sering kekurangan tangkapan. Itu sama sekali bukan hidup yang ia inginkan. Meskipun tak pernah mengatakannya, jauh di dalam hati ia masih menyimpan mimpi-mimpi masa mudanya: bertualang. Ia merindukan padang rumput, singa-singa Afrika, juga pertarungan dengan musuh yang menghadang jalannya.

Oct 16, 2012

Ketabahan Bapak

“Kak, cepat pulang! Bapak sedang opname di rumah sakit.”

Setelah menerima pesan singkat dari adik perempuanku, aku segera bergegas meninggalkan kehidupan rumit di jalanan ibukota. Aku tahu jika adikku sudah berkata demikian, berarti sedang terjadi hal luar biasa. Usia bapak telah lanjut. Berkali-kali pula beliau masuk rumah sakit. Tetapi baru kali ini adik memintaku untuk pulang segera. Untuk itu, aku tak menunggu waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan. Siang itu juga aku langsung berangkat ke terminal Pulogadung.

Dengan tiket sisa yang kudapat susah-payah dari calo, aku berhasil menaiki bus malam terakhir yang membawaku ke desa kelahiranku di ujung selatan pulau Jawa. Anak dan istri kutinggal di rumah. Mereka kutitipi pesan untuk berdoa banyak-banyak agar seluruh keluarga kami selalu diberi keselamatan oleh Yang Maha Kuasa. Aku tak berkata apapun soal bapak. Aku hanya sempat mengirim pesan singkat pada anakku yang sedang kuliah agar jaga rumah dan ibunya baik-baik.

Sep 26, 2012

Tentang Nikah Muda

*untuk seorang kawan

Adakah yang lebih mencemaskan ketimbang menjaga sebuah komitmen agar tak hanya menggebu di ucapan awal, tapi juga tetap hidup saat kelak kita hendak menghembuskan nafas terakhir?

Mungkin tidak ada.

Komitmen, saya pikir, seperti kita menyalakan lilin di tengah hutan yang gelap. Suatu saat angin akan mengganggu, mencoba untuk mematikan satu-satunya sumber cahaya yang menjadi pegangan kita dalam berjalan. Lantas api mengecil, kita mulai kehabisan harapan dan akal sehat. Kemudian kita akan mencapai titik di mana kita akan berpikir untuk tak peduli dengan nyala lilin dan lebih memilih untuk diam di tempat dalam gelap. Sebagian orang tak pernah benar-benar berani mengambil resiko untuk tersesat dan tujuan awal perjalanan memasuki hutan menjadi terlupakan.

Komitmen adalah pelita kecil yang mudah padam. Dan kesadaran untuk menjaga komitmen seumur hidup sebelum kita memiliki cukup persiapan merupakan bentuk lain bunuh diri.

Sep 8, 2012

Gatotkaca

Mengingat Gatotkaca adalah meraba sebuah epos kesunyian. Dia adalah tokoh yang dipuja oleh banyak orang, tetapi tak sempat memiliki hidupnya sendiri. Dia terlanjur diplot sebagai bidak catur terdepan untuk merusak pertahanan lawan. Dia dijadikan tumbal. Hidupnya dikorbankan, bahkan sejak dia baru lahir ke dunia.

Saat kita coba kembali menengok fragmen-fragmen tentang Gatotkaca, akan nampak kisah heroisme yang begitu gagah berani, tanpa cacat. Semua orang mengagumi kekuatannya. Otot kawat tulang besi, begitu yang seringkali orang bilang. Tetapi saat kita lihat lebih dalam, akan terasa bahwa cerita Gatotkaca lebih merupakan kemurungan yang dipendam. Juga kekalahan yang direncanakan.

Ketika Gatotkaca lahir, tali pusarnya tidak dapat dipotong, bahkan oleh senjata tajam seperti apapun. Tak terbayangkan kesakitan yang dirasakan oleh Gatotkaca dan ibunya pada waktu itu. Tetapi akhirnya setelah tali pusarnya dapat dipotong oleh sarung senjata kunta milik Karna, Gatotkaca tak dibiarkan beristirahat lebih lama. Dia justru langsung dibawa ke kahyangan untuk membasmi raksasa yang mengacau. Dia bahkan tak pernah sempat merasakan air susu ibu karena sepulangnya dari kahyangan, dia telah menjelma menjadi seorang dewasa berbadan tegap, berdada bidang—yang justru akan menakuti ibu yang baru saja melahirkannya—berkat kawah Candradimuka yang melegenda.

Aug 23, 2012

Lebaran

Lebaran adalah kerinduan. Dan rumah adalah tempat berpulang segala rindu.

Pada sesuatu yang disebut pekerjaan, manusia seringkali terjebak dalam pusaran kesibukan. Tersesat dalam jam-jam padat, dalam hari-hari brengsek yang dipenuhsesaki oleh penat. Beberapa hilang arah. Tetapi banyak lainnya yang mulai sadar dari mana mereka berasal dan ke mana seharusnya arus hidup mereka bermuara: rumah. Tempat di mana keluarga menanti mereka kembali dengan gelak tawa. Dengan senyum yang tak dipenuhi dengan pura-pura.
Atas alasan itulah, setiap tahunnya, pada momen yang kita sebut lebaran, kita lihat kerumunan manusia. Puluhan. Ratusan. Ribuan. Puluh ribuan. Hingga ratus ribuan kerumunan. Mereka semua berduyun-duyun pulang, menyesaki jalanan yang kian terasa sempit oleh lalu-lalang kendaraan. Semua terlihat lelah dan jenuh. Puluhan jam harus dilalui dalam perjalanan. Namun tak ada satupun yang keberatan memenuhi seluruh tubuh mereka dengan keringat dan bau badan. Mereka paham, tiap bulir keringat yang jatuh adalah satu langkah mereka menuju rumah. Tiap bau badan yang mereka keluarkan adalah bau kerinduan yang makin menyengat. Semua orang nampak siap menghadapi segala riuh kemacetan demi memetik rindu yang telah lama mereka tanam.

“Di rumah inilah papa menjalani waktu kecil dulu, nak.”

Aug 11, 2012

Maaf

Untuk semua luka, selalu tersedia jalan untuk penyembuhan. Pada setiap kealpaan, selalu terbuka pintu untuk sebuah perbaikan.

Manusia pasti pernah berkubang dengan kesalahan, mencoba mentas, kemudian kembali kotor dalam kesalahan yang sama. 

Bahkan seekor keledai sekalipun mempunyai asa kedua untuk bangun sebelum terjatuh pada kesempatan berikutnya.

***

Pernahkah kau rasakan bagaimana sebuah kata dapat mengubah segalanya?

Maaf memang tidak menyembuhkan luka yang mulai usang. Tetapi ia menumbuhkan harapan untuk masa depan yang lebih terang.

Maaf bukanlah kunci atas pintu hati yang terlanjur rusak berantakan. Namun ia dapat membuka jendela kelegaan yang sempat tertahan.

Mengapa kau terus berlari di siang yang memberimu peluang untuk melihat indahnya dunia? Adakah kautemukan kenikmatan dari gelapnya persembunyianmu?

***

Hey, jangan palingkan mukamu, sayang.

Jul 29, 2012

Kepada Marli

*tentang orang tua dan gaji pertama

Izinkan saya mulai cerita yang akan saya tulis ini dari Slavoj Zizek. Seorang filsuf yang jalan pikirnya tak bisa ditebak oleh orang banyak. Suatu kali, wawancaranya dimuat di majalah Guardian. Saat, itu ia ditanya apakah utang terbesarnya pada orang tua yang telah melahirkannya dan merawatnya dari kecil. Jawabnya singkat:

“Tidak ada, saya harap. Tak semenit pun saya habiskan buat menangisi kematian mereka.”

Melihat perilaku dan pola pikir yang telah ia tunjukkan selama ini. Jawaban seperti itu tak begitu mengherankan. Mungkin, dari kacamata awam saya, Zizek merasa bahwa apa yang orang-orang tua berikan pada anak-anak mereka bukanlah suatu jasa yang harus dianggap sebagai sebuah utang untuk kemudian kita lunasi. Semua orang (dalam kasus ini biarlah saya melakukan generalisasi) pada akhirnya menikah, dan mempunyai anak, dan berkewajiban menjaga anak tersebut. Siklus yang kemudian akan berulang ketika si anak dewasa dan mendapat gilirannya menjadi orang tua.

Tapi apakah memang seperti itu hakikat keberadaan manusia di dunia ini? Lahir, menjalani masa kanak-kanak, menjadi dewasa, berkembang biak, lalu mati. Bila boleh dilakukan simplifikasi, manusia tak berbeda dengan semua makhluk hidup lain. Benarkah begitu?

Jul 22, 2012

Am I Selo Enough?

Sebenarnya saya tak ingin berbagi kisah selo seperti beberapa orang kawan melakukannya. Menurut saya, kisah-kisah seperti itu cukup disimpan dan untuk ditertawakan diri sendiri. Lagipula, saya tak benar-benar mengetahui definisi selo dengan utuh. Akan tetapi, merujuk kepada definisi seorang pengamat bahasa, Ardyan M. Erlangga pernah sebutkan, selo adalah:
-->
/adj/ berada dalam situasi lapang; tidak terhimpit; bukan hipster; tak kuliah di sekolah tinggi
Maka dengan kehati-hatian yang amat sangat agar tulisan ini tidak merusak definisi di atas, saya mencoba melakukan kritik: bahwa mahasiswa Sekolah Tinggi pun—meskipun kuliahnya paketan dan harus lulus tepat waktu—bisa selo, meski tak mutlak.

Lalu apakah saya yang konon disebut-sebut calon birokrat punggawa keuangan ini hanya serius belajar dan menghitung pajak? Tidak juga. Semua orang, saya pikir, akan selo pada saatnya. Jadi, untuk mengakhiri polemik tidak berkesudahan apakah mahasiswa yang ke kampus harus memakai kemeja polos dan celana bahan bisa selo, biarlah saya mencoba memaparkan beberapa peristiwa penting keseloan saya versi on the spot.

Jul 21, 2012

Jika Kamu Harus Bersedih

Sore tadi, seorang kawan menanyakan apa yang biasa saya lakukan ketika saya sedang sedih. Saya jawab dengan agak malas: membaca. Padahal ketika sedang benar-benar bersedih, membaca adalah pilihan yang terakhir akan saya ambil. Saya lebih menyukai menghabiskan waktu-waktu  berduka dengan kesendirian, kemudian melacurkan otak yang mulai karat oleh luka di tengah keramaian.

Tetapi, adakah sebuah kota banal menyediakan sepotong ruang untuk kita bersedih?

Entah. Saya tak terbiasa menangis dengan keras. Jika yang dimaksud bersedih adalah diam dan menikmati sakit hati, mungkin semua kota merelakan ruang-ruang yang cukup lega. Nyatanya, saya masih memiliki banyak tempat bersedih. Saya suka menyalakan motor, membawanya ke manapun tempat yang biasanya tidak saya kunjungi dalam kondisi biasa. Mungkin berhenti di warung pinggir jalan, membeli rokok dan ngobrol dengan penjualnya. Mampir ke kedai kopi yang belum pernah saya kunjungi. Atau ke manapun tempat di mana saya tidak harus bertemu dengan orang yang saya kenal. Seringkali, orang yang kita kenal menjadi gulma dalam kesedihan. Dan saya lebih memilih untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan klise sok peduli pada kesedihan yang saya alami.

Terakhir, saya pergi ke stasiun kereta api pada dini hari untuk sekedar menikmati lalu-lalang orang yang hendak bepergian. Di sana saya melihat seorang perempuan—sepertinya masih di bawah 20 tahun—sedang terisak. Dengan tangan bergetar ia menekan ponselnya berulang kali. Mungkin ia sedang menghadapi masalah pelik, bertengkar dengan pacar, kena marah orang tua, kabur dari rumah, atau apapun itu. Saya sungkan untuk bertanya dan mengganggu waktu yang ia habiskan untuk bersedih. Lagipula, saya tak ingin sok tahu dan menjadi pahlawan dengan bertanya mengapa ia menangis. Toh, saya cuma ingin membuktikan bahwa kota masih menyediakan, meski hanya secuil, ruang untuk bersedih.

Jul 20, 2012

Jika kata
adalah senjata
para penyair yang gemar merapal bahasa
telah berjihad dengan sebaik-baiknya
sehormat-hormatnya

Jul 8, 2012

Platonis

Amour Platonique.
Aku tak pernah benar-benar percaya cinta platonis itu memang ada. Bahkan, ketika aku sendiri bimbang dan meragu apakah perasaan yang menelanjangiku tiap malam—setiap aku hendak berangkat tidur—ini bisa dikategorikan ke dalam jenis yang Plato sebutkan itu. Aku tetap tak percaya. Aku lebih memilih untuk bungkam dan menolak untuk patuh. Telah lama kuhapus definisi-definisi filsafat tai kucing yang mencoba mengatur apa yang harus dan tidak boleh dilakukan dari kamus hidupku. Mungkin, tepatnya, sejak aku bertemu dan mulai dekat dengan sosokmu.

Aku lupa mengapa aku pernah begitu menyukai senja yang kaotik, menganggap duduk berdua di ujung dermaga menyambut temaram jingga di ufuk barat sebagai hal paling romantis yang dapat kukenang hingga rambutku memutih dan syaraf-syaraf otak perlahan berhenti melakukan pekerjaannya. Aku lupa. Nyatanya, perkenalan dengan wanita sepertimu mengajarkan hal yang sama sekali lain: bahwa hidup dapat dimaknai dengan sebebas-bebasnya, tanpa harus percaya pada kutipan-kutipan dan kearifan bijak bestari yang bahkan telah diucapkan sebelum kakek dan nenek kita mengenal huruf dan kata.

Berkat kamu, aku mengenal cara hidup yang jauh lebih intim dari itu. Setelah ucapanmu, aku—daripada hanya sekedar menanti senja rubuh—lebih memilih untuk terjaga sepanjang malam denganmu, berdua saja, hingga dini hari tiba. Dengan kaleng-kaleng bir yang hampir kosong. Dengan abu rokok yang tak kalah banyak dibanding abu jenazah. Dalam kesadaran yang mulai lindap, kita sering bercakap-cakap. Atau hanya saling diam. Atau tertidur tanpa kita ingat siapa yang mendahului.

“Jika kita bisa menaiki perahu hingga ke tengah laut, kenapa kita hanya berdiam saja di dermaga?” ujarmu di satu kesempatan.

Aku tersenyum. Analogimu lucu.

“Ayolah. Kau takkan cukup puas jika hanya memperoleh satu kalau kau bisa mendapatkan dua, tiga, atau lebih. Ambil sedikit resiko. Horatius tak pernah takut kalah bertaruh dan mati muda. Ia justru menyebut mereka yang memiliki usia panjang adalah orang-orang sial.”

Aku pun tertawa terbahak begitu kencangnya demi mendengar ucapanmu tanpa tahu di kemudian hari pun aku menangis tak tertanggungkan karena hal yang sama. Rupanya, aku tak bisa memperkirakan akibat yang dihasilkan oleh keberanian yang bodoh, pertaruhan yang tolol.

Jun 8, 2012

Perempuan Juni

Hey,
Kau tahu? Bulan Juni adalah saat di mana sajak Sapardi dikutip dengan gemilang oleh orang-orang yang merindu, oleh orang-orang yang berusaha tabah dan bertahan dengan kesetiaannya. Aku harap kau tahu. Dan bahkan jika kau tak tahu sajak mana yang kumaksud, beri aku sedikit kesempatan untuk menukilkannya sedikit, untukmu.
tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

Sapardi Djoko Damono, dalam sajak tersebut, dengan lugas meninggikan derajat “sang hujan” yang selalu tabah dan memiliki kesabaran yang tak pernah habis. Untuk menanti. Untuk menjadi setia meskipun hembusan angin perlahan mengikis dirinya, mengantarkan kita pada musim kemarau yang gersang. Hingga udara mengering dan hujan perlahan menghilang. Hingga akhirnya kita melupakan genangan air sisa hujan yang konsisten meluapkan rasa rindu. 

May 27, 2012

Hari Ibu

*untuk hari ibu yang tak harus jatuh di bulan Desember


Saya tak pernah suka tiba-tiba diganggu oleh pesan singkat yang sebenarnya tak begitu penting. Apalagi telepon yang nada deringnya kerap memekakkan telinga dan membikin pusing otak yang sedang ingin mengerjakan tugasnya: berpikir.

Sialnya, ibu saya sering melakukan hal itu.

Ibu, saya panggil beliau dengan sebutan “mamah”, terlalu sering melayangkan pesan singkat. Bahkan untuk hal-hal yang begitu remeh. Tentang pentingnya sarapan. Tentang betapa saya tak boleh tidur malam atau menjaga diri di perantauan. Atau tentang Shalat dan pentingnya memilih bergaul dengan orang yang baik-baik agar saya tak terjerumus. Dan sampai sekarang sepertinya ibu masih menganggap saya anak kecil yang harus dipegangi tangannya ketika berjalan agar tak terjatuh.

Mar 28, 2012

Galang: Semangkuk Mie Ayam Itu....


Namanya adalah Galang.  Dia bukan Galang Rambu Anarki, putra Iwan Fals yang diabadikan lewat sebuah lagu. Ia “hanya” seorang sahabat yang tak akan bisa benar-benar saya lupakan. Jika ingatan saya tak salah, nama lengkapnya adalah Galang Ibnu Iktibar Noor. Ia terlahir pada tanggal 25 April 1990 (semoga ini benar) sebagai seorang sulung dari 3 orang bersaudara. Rumahnya berada di desa sebelah tempat tinggal saya. Namun, bukan karena menjadi teman sepermainan Galang lah saya mengenal dia untuk kali pertama.

Saya bertemu muka dengan galang untuk kali pertama di sebuah lomba cerdas cermat Sekolah Dasar tingkat kecamatan. Kala itu, di final yang diikuti oleh lima orang peserta, saya bisa menjadi juara seandainya Galang tidak mengacau. Di final tersebut, satu pertanyaan hanya boleh dijawab satu kali oleh peserta yang menekan bel paling cepat. Sialnya, di saat-saat genting di sesi terakhir Galang membuat satu pertanyaan yang bernilai besar terbuang sia-sia karena ia salah menjawabnya. Saya yang mengetahui jawaban yang benar pun hanya bisa gigit jari karena terlambat menekan bel. Akhirnya, saya harus puas berada di peringkat ketiga. Satu tingkat di atas Galang.

Mar 8, 2012

Balasan dari Prima!

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Prima membalas surat maya yang saya kirimkan via FB. Dan, silakan menikmati :)

***

Puja Negara


Namanya Gita Wiryawan Puja Negara. Mungkin si pemberi berharap, ia akan menjadi orang yang menghormati negaranya. Syukurlah, nama itu tidak berkhianat. Genap sejak malam ini—setelah kedatangan sms yang memberitahukan kalau ia sudah mulai ngantor—ia sudah menjadi seorang pegawai negeri sipil, PNS.

Gita artinya ‘nyanyian’, memandang wajah Gita, sepertinya nyanyian yang dimaksud genrenya Folk. Wajah Gita ndeso, tapi tidak dengan otaknya. Dan perilakunya. Dia sangat urban.

Aku mengenal Gita ketika kelas 1 SMA. Kami tidak sekelas, namun aku sekelas dengan temannya satu daerah, Mame. Gita berasal dari Wangon. Dibanding dengan Kota Purwokerto, Wangon sangatlah ndesa. Terpencil. Tapi dari daerah itu, otak-otak brilian diproduksi. Selain Gita, teman-temanku asal Wangon lainnya juga jenius-jenius. Si Mame yang nama aslinya Slamet Sabar Riyadi, adalah juara kelas. Alim Ichwan Fauzi, selain tampan, sekarang sudah jadi pegawai negeri sipil juga di Pabean Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Dan Gita sekarang sudah resmi jadi pegawai Kantor Pajak. Dibanding mereka, aku tampak sangat sangat menyedihkan.

6 Maret

Jalanan yang lengang. Kios makan di pinggiran. Dan sepotong kue kecoklatan.

Mungkin kau masih ingat. Mungkin juga tidak. Tepat setahun, pada malam gerimis yang lalu, kita mengganti babak hubungan kita. perpisahan yang tak kusukai karena untuk itu kita harus saling berucap benci. Atau barangkali, sebab kata saling tidak pernah tepat digunakan untuk menggambarkan hal yang tak melibatkan aksi dan reaksi sekaligus, lebih tepat jika kubilang bahwa kau tengah mencoba untuk membenciku. Saat itu, kita tahu, kau mulai belajar untuk melupakanku. Aku tidak. Aku takkan mampu.

Hingga sekarang, ratusan malam sejak waktu itu. Atau malah ribuan ke depan.

Feb 19, 2012

Tembok

Berlin, 10 November 1989

Ada yang runtuh, tetapi ada pula yang tumbuh. Yang runtuh: sebuah tembok, yang tebal, yang memisahkan negeri sang F├╝hrer menjadi dua bagian, Jerman Barat dan Jerman Timur, selama perang berlangsung. Yang tumbuh: sebuah harapan. Sebuah asa untuk melihat langit luas sambil bergandengan tangan tanpa melihat pandangan politik seseorang.

Feb 6, 2012

(lagi-lagi) Pramoedya

*sebuah surat imajiner untuk Pramoedya Ananta Toer


Sejujurnya, bung Pram, saya tak tahu pasti mengapa saya berani menulis sesuatu tentang anda. Saya bukan siapa-siapa, pasti. Pun dari sumber-sumber yang saya baca mengenai anda, sepertinya bung Pram bukanlah tipe orang yang mudah menghargai seseorang. Tambah lagi saya adalah tipe orang yang mudah sekali anda benci. Iya, bung Pram, saya orang Jawa, dan lagi mungkin di masa depan saya akan jadi PNS. Sudah cukup alasan untuk melarang saya menulis untuk anda, bukan? Iya, bung Pram, saya mengerti. Akan tetapi sekali ini saja mari kita hilangkan kebencian dan singkirkan dulu sejenak ego macam itu. Sekarang izinkanlah saya menulis –anggap saja surat— untuk anda karena sekarang, 6 Februari, adalah hari bersejarah bagi anda, Pramoedya Ananta Mastoer.

Jan 20, 2012

Kehilangan dan Penyesalan

Pada suatu malam di penghujung tahun 2011, beberapa pemuda nampak tengah bercakap-cakap di pinggiran ibukota. Rupanya mereka tengah mempersoalkan tentang sesuatu yang seharusnya mereka peroleh namun tak kunjung sampai ke tangan mereka. Tentang bagaimana caranya mereka bisa segera mendapatkan yang telah menjadi hak mereka. Tentang betapa egoisnya –jika tak mau dibilang lalim— pihak yang tak juga menyerahkan hak tersebut. Mereka terlihat berambisi memperoleh hal tersebut. Mungkin mereka lupa, setiap perolehan adalah satu kehilangan lain.

Benar. Kehidupan adalah soal memperoleh dan kehilangan.

Jan 17, 2012

(belum ada judul)

Dewi Malam
ketahuilah, kawanku
dewi malam bukanlah bulan
yang sinarnya
temaram muram

adalah bola mata seorang gadis
yang menatap
nanar lampu jalan
di perbatasan ibu kota

***
Kayon
dan bait-bait cerita
tentangmu, tentang kita
usai sebelum dalang
tutup kayon
pada subuh yang memerah

Jan 10, 2012

Surat Buat Prima Sulistya

Beberapa pekan kemarin, saya iseng menulis sebuah notes di Facebook untuk kawan saya, Prima Sulistya. Semacam berkirim surat. Kemudian, karena dia berjanji untuk membalas tulisan saya, akhirnya saya pindah notes tersebut ke sini sambil harap-harap cemas pada balasan apa yang akan dia tulis.

*** 

*perihal konsistensi dan menjaga ambisi

Dear Prima,
Sabtu kemarin, tepatnya tanggal 10 Desember 2011, aku melaksanakan ujian psikotes. Katanya sebagai syarat masuk CPNS. Aku sih sebetulnya tak peduli. Dan kalaupun aku menceritakannya padamu, pasti kamu hanya menyimak barang sejenak untuk kemudian mencela dan tertawa sinis. Aku tahu benar sifatmu yang satu itu. You hate being civil servant, don’t you?

Jan 5, 2012

Front Pembela Tuhan

Mengenang Gus Dur (7 September 1940 –  30 Desember 2009) yang pernah ngendika, "Tuhan itu tak perlu dibela."

***

Suatu malam, Petruk dan adik-adiknya, Gareng dan Bagong, sedang kongkow-kongkow gaul di warkopnya lurah Semar. Malam itu purnama dan cuaca bersahabat. Terjadilah percakapan di antara mereka.

“Sekali-kali jadi anak gaul yo kang. Ndak turu-turu terus di rumah. Ngomong-ngomong enak banget nih kopinya. Campuran gula sama krimernya gayeng tenan,” ucap Bagong.

 “Lah iyo. Mosok kamu udah SMA ndak pernah bergaul. Gaul itu penting, biar kita tahu berita baru yang terjadi di negara tercinta ini. Wah apalagi sekarang sedang banyak isu hangat di republik Hastinapura. Kalau kamu cuma bisa ngulang yang diajarken di sekolah, kamu bakal jadi robot. Ndak guna,” ujar Petruk sambil ngemil roti bakar spesial keju andalan warkop.