Dec 29, 2011

Karna

Pada suatu siang, Karna terlihat terdiam di tepian sungai. Sebelumnya, Kunti datang menemuinya dan berkata ia adalah anak sang dewi. Kunti memberitahukan kenyataan bahwa ia adalah kakak kandung Pandawa yang segera menjadi lawannya dalam peperangan. Kunti memelas agar ia bergabung dengan pihak Pandawa melawan Kurawa. Bagaimana bisa? Pikir Karna. Selama ini ia makan dan minum dari hasil bumi Hastinapura, tetapi pada saat negaranya akan berperang malah ia disuruh membelot dan melawan punggawa-punggawa kerajaannya sendiri. Bagaimana bisa? Ulangnya. Berkhianat dan lari dari tanggung jawab adalah tindakan pengecut yang sangat dibencinya. Tapi, haruskah ia saling bunuh dengan adik-adiknya?



Saya bisa bayangkan Karna menangis tertahan. Ia yang sombong lagi angkuh tentu malu jika seseorang mengetahui seorang Adipati yang sangat disegani di seantero bumi menangis tersedu. Apalagi ia adalah “putra” bathara Surya. Saya bayangkan ia berada dalam kebimbangan sekaligus merasa muak yang teramat sangat. Mengapa Kunti, yang mengaku sebagai ibu yang sangat mencintainya, baru datang ketika membutuhkan tenaga seorang Karna? Mengapa Kunti tak mengatakannya sejak dahulu sehingga ia tak perlu menanggung malu saat Drona menolaknya sebagai murid karena ia hanyalah putra seorang kusir kereta? Mengapa Kunti baru mengatakan hal tersebut ketika kemarahan dan kebenciannya pada Pandawa yang selalu mencelanya telah memuncak?

Saya bisa bayangkan Karna tersenyum getir. Mungkin saat itu ia teringat saat Kurawa menyiksa Pandawa dengan mempermalukan Drupadi –setelah Yudistira kalah taruhan dalam permainan dadu— di depan semua orang. Sifat ksatrianya menolak tindakan asusila Dursasana yang mencoba menelanjangi Drupadi. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Bukankah Yudistira sendiri yang berjudi mempertaruhkan Drupadi? Bukankah ia tak mungkin melanggar perjanjian Yudistira dengan Kurawa tersebut? Saya bayangkan Karna bimbang, antara menolak sekaligus mendukung perlakuan Kurawa terhadap Drupadi. Ia pernah, dan mungkin masih, menyukai Drupadi yang cantik jelita. Tetapi apa daya. Pada saat ia hendak mencoba meminang Drupadi dulu –dengan mengikuti sayembara memanah—, ia mendapat penolakan. Drupadi melarang Karna mengikuti sayembara karena ia tak mau menikah dengan anak kusir. Bukankah Kurawa secara tidak langsung telah membalas sakit hatinya? Bukankah pada saat itu Karna justru berteriak lantang bahwa Drupadi, wanita yang bersuami lima, pantas disebut pelacur? Akan tetapi, bukankah hati kecilnya berkata bahwa ia adalah seorang munafik, mempermalukan seseorang wanita yang sepatutnya dihormati?

Saya bisa bayangkan Karna sibuk mencerna kata-kata dewi Kunti. Ia menyesal terlibat terlalu jauh dengan konflik menjijikan antara Pandawa-Kurawa. Oleh karena itu, sebisa mungkin ia tidak ikut bertarung pada saat Baratayuda. Sesungguhnya, tuduhannya mengenai keberpihakan Bisma pada pandawa hanya alasan yang ia buat-buat agar ia bisa menolak jadi bawahan Sang Resi, sehingga ia dapat terhindar dari perang. Memang ia sempat bisa “bebas tugas” sejenak. Namun apa yang bisa dikatakannya ketika Duryudana memerintahkannya untuk mengangkat senjata ketika Bisma telah gugur? Bukankah ia berhutang terlalu banyak pada Duryudana yang selalu memanjakannya dengan kemewahan? Bukankah ketika Mahaguru Kripa melarangnya melakukan perang tanding melawan Arjuna, karena ia berbeda kasta dengan Pandawa, hanya Duryudana yang mau membelanya? Bukankah Duryudanalah yang mengangkat derajatnya sebagai raja dengan memberikan wilayah Awangga padanya?

Saya bayangkan Karna mengingat kisah Kumbakarna di Alengka sana. Ketika Kumbakarna menolak membela Rahwana, sang raja lalim tersebut marah dan menganggap Kumbakarna tak tahu balas budi. Ia meminta Kumbakarna mengembalikan semua makanan yang ia berikan. Tetapi rupanya Kumbakarna tak ingin berhutang apapun. Dengan kesaktiannya, Kumbakarna memuntahkan seluruh makanan yang diberikan Rahwana tanpa cacat sedikitpun. Semuanya kembali dengan utuh, segar, dan bersih seperti sebelum ia makan. Ah, saya yakin Karna iri pada kemampuan Kumbakarna. Saya yakin Karna ingin melakukan hal serupa, mengembalikan semua yang Duryudana berikan sehingga ia tak perlu berhutang budi. Saya yakin Karna pasrah karena ia sungguh tak bisa melakukan apa-apa kecuali menuruti permintaan Duryudana.

Kemudian saya bayangkan Karna muntab. Saya bayangkan ia marah pada semua orang. Pada Kunti yang melahirkan dan membuangnya, pada Drupadi yang menolaknya mentah-mentah, pada Pandawa yang selalu mengejeknya, juga pada Kurawa yang memperlakukannya sebagai senjata semata. Saya bayangkan Karna marah pada takdir dan ia mengamuk dalam peperangan. Ia berlari. Ia membunuhi semua musuhnya dengan liar. Malang, amarah dan keangkuhannya membuat kutuk-pastu Parasurama terkabul. Dalam kepanikan, ia lupa semua ajian dan mantra yang ia kuasai. Dalam kepanikan, roda kereta kudanya terbenam dalam lumpur. Dalam kepanikan, Arjuna yang segera membaca situasi langsung melepaskan panahnya, menembus leher Karna, kakak tertuanya. Karna yang hebat, yang selalu diagung-agungkan, akhirnya moksa menghadap Sang Hyang Tunggal.

Karna yang malang….

3 comments:

  1. Karna, yg berarti telinga, memang sudah ditakdirkan sebagai "pendengar" saja sejak lahir ke dunia. Dia cuma mendengar apa yg diperintahkan nasib, tanpa bisa membantah...

    Karna yang malang...

    ReplyDelete
  2. saya membayangkan bagaimana dia bimbang akan jati dirinya, dimana dia ditolak berguru oleh drona karena dia bukan berasal dari kasta ksatria namun di lain pihak dia malah dikutuk oleh gurunya, parasurama karena dia dianggap seorang ksatria.

    ReplyDelete
  3. Itu adalah gambaran kenapa orang bisa bersifat Kriminal, ini salah satunya...seharusnya kalau merasa dirinya diperlakukan tidak adil jangan mencoba membuktikan ke Dunia,yang ada Dendam..Harusnya Semedikata Bijak Kresna...Harusnya pasarah pada Tuhan.

    ReplyDelete