Dec 20, 2011

Buat Kamu yang Mencemaskan Perubahan

*perihal kekecewaan

Dear,
Sepertinya aku tak perlu menanyakan kabarmu. Jujur saja, aku selalu ragu dan sedikit tak percaya orang akan menjawab sebuah pertanyaan dengan apa adanya.  Kalaupun kau berkata sehat, tetapi aku tak yakin hatimu tidak sedang memerlukan sebuah perawatan. Dan menurutku itu bukanlah definisi sehat yang benar. Rasulullah, pemimpin terbaik kita, pernah bersabda bahwasanya dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang bilamana ia baik, maka seluruh tubuh juga baik dan bilamana ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak pula. Kau pasti tahu gumpalan apa itu kan? Ya, hati. Maka, seperti kata Opick, jagalah hatimu. Jangan kau biarkan ia kotor dan jangan pula kaupatahkan hatimu sendiri. Rawat dan peliharalah hatimu. Ia terlalu berharga untuk kaubiarkan berdebu hingga kemudian rusak.

Dear,
Tentu saja, patah hati adalah hak. Tak ada secuil kekuasaan diktator manapun yang bisa melarang seseorang untuk patah hati. Tidak Hitler, Lenin, bahkan juga Kim Jong Il dan direktur kampus sekalipun. Setiap orang berhak untuk patah hati dan kecewa. Apalagi, terkadang hidup tak mengizinkan kita memperoleh sesuatu yang kita inginkan.

Sejarah mencatat, seorang Tan Malaka pun pernah mengalami kekecewaan yang teramat sangat. Ketika itu, digambarkan setelah medio 17 Agustus 45, Tan Malaka mendengar orang-orang berbisik tentang kemerdekaan di sepanjang jalan. Penasaran, ia kemudian bertanya pada seseorang,

“Selamat siang, Tuan. Sepertinya saya ketinggalan berita. Tetapi bolehkah saya tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan republik kita ini?”

“Revolusi! Jepang menyerah pada sekutu. Lalu Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan. Kita bebas dari penjajahan bung!!”

Kau tahu betapa sedihnya Tan Malaka? Ia merupakan penggagas konsep republik dalam Naar de Republiek Indonesia. Buku-bukunya dipelajari oleh banyak pejuang, bahkan oleh proklamator yang dengan bangganya berdiri di depan puluhan ribu rakyat Indonesia. Namun ia hanya dapat menelan kekecewaan karena ia yang terpaksa menyamar setelah puluhan tahun menjalani pembuangan di negeri seberang tak dikenali seorang tukang becak pun, sehingga ia tak memperoleh undangan berkategori VVIP di Pegangsaan.

Sekarang, dengan sedikit cerita di atas, semoga kau mengerti kalau kekecewaan itu bukan sesuatu yang mewah. Bahwa kau kecewa tak mendapat boneka yang telah lama kauimpikan karena ia keburu dibeli orang, itu wajar.  Bahwa uang yang kautabung sekian lama untuk mendapat boneka seakan tak ada artinya, itu biasa. Sabarlah. Mungkin suatu saat, dengan uang yang terus kauperoleh, kau bisa membeli boneka yang lebih besar, lebih bagus, dan lebih cocok dengan hatimu.

Dear,
Apakah kau paham arti perubahan? Semoga iya. Semoga kau tahu bahwa tak ada yang benar-benar ajeg. Semoga kau tahu bahwa semua berubah dan kita tak perlu takut pada perubahan. Semoga kau tahu sehingga aku tak perlu lagi memberitahukan hal tersebut padamu. Semoga kau tahu sehingga aku tak perlu bilang bahwa salah satu akibat perubahan adalah: beberapa orang yang dahulu dekat, dekat sekali dalam hidup kita perlahan menjauh, bahkan menghilang. Sometimes, the people we know becomes the people we knew.


Soal ini Nicholas Sparks, novelis Amerika itu pernah berbicara (kukutip langsung dalam bahasa Inggris sambil berharap semoga kau bukan polisi grammar) begini,
“People come, people go—they’ll drift in and out your life, almost like character in a favorite book. When you finally close the cover, the characters have told their story and you start up again with another book, complete with new characters and adventures. Then you find yourself focusing on the new ones, not the ones from the past.”

Benar. Satu kisah selesai, satu buku rampung dibaca. Ambil pelajaran, tutup buku tersebut, dan segera kita bersiap mengambil buku berikutnya sambil harap-harap cemas pada ilmu apa yang  akan diberikannya. Yang terpenting, jangan cemas pada orang-orang yang berubah. Terimalah perubahan dengan hati yang lapang. Ikutilah arus perubahan tanpa perlu takut kita tenggelam dan ikut berubah. Orang bijak berkata, siapa yang tak bersiap untuk menerima perubahan akan digilas oleh perubahan itu sendiri.

Tentu kau ingat betapa Sukasrana yang berwajah jelek itu menyayangi kakaknya, Sumantri. Tapi kau juga tak boleh lupa bahwa Sukasrana adalah golongan orang bebal yang tak perlu ditiru. Ia tak paham kalau kakak yang ia kenal, yang selalu ada jika ia tersandung batu di halaman, yang selalu pasang badan ketika ia dikejar anjing tetangga, yang tak pernah absen menjahili—sekaligus melindunginya—telah berubah. Sumantri yang harus pindah ke kota dengan perasaan malu pada kejelekannya bukan lagi Sumantri yang mau ada ketika ia dihadang segerombolan preman di gang sempit. Seandainya Sukasrana sedikit mentolerir perubahan, tentu dahinya tak perlu bersentuhan dengan anak panah milik Sumantri. Seandainya ia merelakan kakak tercintanya berubah dan pergi, tentu ia masih bisa bermain kelereng di kebun belakang. Ah, sungguh merugi orang-orang yang tak memiliki keikhlasan, memang.

***

p.s:
Khadafi telah meninggal, ponsel-ponsel mulai tak laku jika tak diberi label canggih, rektor kontroversial UI itu kabarnya telah mengundurkan diri, serta banyak hal berubah di dunia ini. Untuk apa kau masih berdiam diri di ujung sana dan menunggu kehancuran? Cukuplah The Script dan Adele yang ngotot hidup di masa lalu.

2 comments:

  1. gita,, saya merasa anda akan jadi seorang yang besar nanti.. (percayalah,, aku bisa jd setengah dukun)

    ReplyDelete
  2. ini memang ciri khasmu yes, meracau dengan pelbagai macam alegorinya. keren pak!

    ReplyDelete