Nov 18, 2011

Yang Penting Cerita, toh?

Barusan membuka blog seorang kawan ada postingan baru yang membuat saya tersenyum simpul. Seperti biasa, dia hanya posting di blog ketika ia tengah gundah. Semacam memberikan ruang khusus di dunia maya sebagai tempat membuang keluh kesah, melepas penat yang tak jua bosan hinggap. 

Padahal, ketika kubaca dari gelagatmu, yang seperti biasanya, hendak meminta bantuan, aku selalu menawarkan pertolongan. Akan tetapi, engkau enggan terbuka. Engkau selalu beralasan bahwa sifatmu yang introvert menjadikan dirimu tertutup dan memilih untuk memburu sunyi.

Mungkin dengan bercerita pada sepi, tanpa perlu curhat dengan kawan, engkau cukup merasa lega. Mungkin engkau pemuja Chairil Anwar dalam sela syairnya: nasib adalah kesunyian masing-masing. Engkau merasa tak perlu menceritakan pengalaman pribadimu, menyibakkan kenangan pahit yang telah coba kaututup dan kaukunci rapat di ruang pembuangan.

Lalu aku ingat obrolan-obrolan yang sebetulnya tak penting namun menjadi penting. Orang-orang bilang, jika perempuan bicara masalahnya, sebenarnya ia tak sedang minta nasehat. Ketahuilah bahwa ia sedang ingin didengar.

Ya, mungkin apa yang kaulakukan di sini adalah tingkahmu yang sedang ingin didengar.
Klasik.

Bahkan ketika engkau bercerita di dunia maya, dengan menulis di blog, yang notabene mempunyai audiens tak jelas, pun engkau merasa telah didengar. “Justru karena kita tak mengenal pembaca blog kita menjadi tak memiliki beban harus mengikuti nasehatnya”, begitu katamu. Yang penting cerita toh?

***
P.S: postingan kali ini awalnya saya publish di tumblr. Saya pindah ke blogger dengan sedikit perubahan.

0 comments:

Post a Comment