Nov 7, 2011

Ocehan di Suatu Malam Sederhana

Setelah mencomot beberapa potong pisang goreng buatan ibu yang masih hangat di rumah, saya bergegas menuju ke tempat kawan. Biasa, pengangguran yang tak produktif. Selagi menunggu pengumuman dari kampus, praktis hanya ada tiga hal yang saya lakukan: 1. main, 2. main, 3. main.

Oh oke, sepertinya saya ngelantur terlalu jauh.
Saat libur seperti ini, saya banyak bermain dengan kawan-kawan lama di dekat rumah. Sedikit bernostalgia dengan masa kecil. Saya ingat, dulu hidup saya begitu sederhana. Tak pernah saya memikirkan hal-hal berat macam ekonomi, statistika, atau sejarah. Masa kecil yang saya tahu terlalu mubazir untuk dihabiskan dengan bermain ponsel dan komputer, berselancar di dunia maya, atau debat kusir yang tiada guna.

Dulu, semasa siaran televisi belum semegah sekarang, malam-malam seperti ini saya banyak berbicara dengan keluarga. Televisi tua yang terpasang di ruang tengah hanya sesekali ditonton ketika semua telah kehabisan bahan pembicaraan.

Dulu, semasa Steve Jobs dan Mark Zuckerberg belum menemukan Apple dan Facebook, hari-hari saya terasa sangat menyenangkan. Persetan dengan kemudahan dan kepraktisan yang mereka bikin. Saya lebih senang bermain petak umpet dan berenang di kali bersama kawan-kawan. Mungkin terlihat munafik mengingat saya adalah pecandu social media, tetapi ah.. kau tahu, terkadang teknologi hanya memberikan kesenangan semu.

Kini, setelah saya beranjak dewasa, kawan-kawan saya pun serupa, kenangan itu tak lantas hilang. Kami masih menikmati waktu-waktu bercengkerama dengan segelas kopi hitam yang menyegarkan. Kami tahu, tawa karena mendengarkan pengalaman kawan yang barusan terpeleset, misalnya, jauh lebih keras ketimbang tawa karena membaca jokes yang dikicaukan seseorang. Kami masih menikmati malam-malam sederhana seperti  ini, memakai sarung sebagai pengusir dingin dan nyamuk yang menyerang. Kami masih ketiduran ketika ngobrol dan bangun dengan mimpi menguasai dunia. Dunia kecil yang kami punya. Dunia di mana tak pernah ada kejengkelan akibat pacar yang tak ada kabar dan kemarahan karena kehabisan chip poker.

Dan kau tahu, kawan, dulu cita-cita saya pun sederhana. Bisa bersantai jauh dari hingar-bingar kota yang memuakkan. Hingga kini, cita-cita tersebut tak pernah berubah. Bila hidup bisa dinikmati dengan sederhana, kenapa harus bersusah-susah mengejar keruwetan yang tak melulu membahagiakan? :)

4 comments:

  1. A: Capek juga main gobak sodor, tapi asik, seruu
    B: Mau dong gue, lo ada installernya nggak? berapa giga??
    A: *keselek hardisk*
    #anakJamanModern :)

    ReplyDelete
  2. Ahahaha keren tuh kalo ada percakapan kaya gitu beneran. Gegar budaya :D

    ReplyDelete
  3. i miss my childhood when i tought nothing :D

    ReplyDelete
  4. cilikane wong susah. sori yo. aku ket cilik wes dolan atari nitendo lan sega.

    soyo lahir jebret sugih kae pancen ra penak.
    ngomong ngene dikiro sombong.
    padahal pancen :D

    ReplyDelete