Nov 4, 2011

Bali, the train diaries (part 1)

Many will call me an adventurer - and that I am, only one of a different sort: one of those who risks his skin to prove his platitudes.

Adalah Ernesto “Che” Guevara yang menulis surat pada orang tuanya, berpamitan untuk melakukan perjalanan yang ia tak tahu kapan berakhir. Ia bertualang di sepanjang Amerika Selatan bersama sahabatnya, Alberto Granado. Sebuah pengembaraan yang sangat “laki” kalau menurut salah satu iklan di televisi.

Beberapa hari lalu, saya, puluhan tahun sejak Che  mulai mengembara, melakukan petualangan yang tak kalah hebat bersama beberapa orang kawan --Reyanda, Nanda, Gilang, Angga, Robot, dan Andre-- : backpacking dengan rute Jawa-Bali. Oke, bagi banyak orang mungkin hal tersebut terdengar hiperbola dan menggelikan. Namun sungguh, naik kereta ekonomi selama belasan jam disambung dengan angkutan-angkutan murahan yang tak kalah melelahkan adalah sebuah hal mahaberat bagi saya, seorang borjuis kecil --menyitir pernyataan Munir mengenai mahasiswa-- salah satu Perguruan Tinggi Kedinasan terkenal di Indonesia.

Sebenarnya, beberapa hari sebelum keberangkatan, saya sudah menawarkan cara berlibur yang tidak menyiksa diri kepada kawan-kawan saya, yaitu dengan menggunakan  business class milik Garuda Indonesia. Selain nyaman, kita tak perlu lagi direpotkan dengan masalah-masalah remeh macam ransum dan cara membawa koper yang super berat. Apalagi mengingat waktu tempuh yang bisa diperpendek jika kita menggunakan pesawat. Akan tetapi, tawaran tinggal tawaran. Reyanda, siluman kasur air Sudan yang kebetulan menjadi koordinator perjalanan menolak dengan tegas usulan saya. Ia mengaku masih bingung perihal langkah-langkah menggunakan kendaraan udara yang bernama pesawat itu. Aduh Rey, padahal sudah dibilang kalo naik pesawat itu nggak ribet, nggak perlu lepas sepatu seperti ketika masuk Masjid kok.

Karena usulan saya tadi, menggunakan pesawat, ditolak, akhirnya kita mencari alternatif transportasi darat yang paling mudah. Kali ini saya yang terbiasa mengajukan pendapat di rapat-rapat karang taruna di desa saya lagi-lagi mempunyai usul brilian: menggunakan kereta eksekutif yang nyaman dan ber-AC menuju ujung timur pulau jawa untuk kemudian disambung dengan angkutan ke Bali. Dan lagi-lagi, sudah bisa ditebak, usulan saya ditolak. Biaya kereta eksekutif mahal, dan lagipula Angga suka masuk angin kalau terkena AC begitu lama, kata mereka. Bah, bagaimana pula ini?

Setelah berdebat beberapa saat, demi persahabatan dan rasa kebersamaan saya yang kuat, saya mengalah. Dalam rapat terakhir diputuskan bahwa kita ke Bali menggunakan Sri Tanjung, kereta ekonomi yang penuh dengan pedagang asongan dan panas luar biasa, ke Banyuwangi dan disambung bus menuju Denpasar.

Saya yang biasa dimanjakan oleh kemewahan dan keglamoran sempat berpikir untuk mengundurkan diri karena merasa tak mampu melakukan perjalanan berat ini. Namun, entah kenapa, pada waktu itu saya mendengarkan suara menggelegar milik Soekarno menasehati saya:
“Hey kau cucu Adam.. Jangan mengeluh! Revolusi tak bisa dilakukan oleh kaum intelektual manja yang pragmatis. Ketahuilah, di awal kemerdekaan, ketika negara kita dengan terpaksa memindah pusat pemerintahan ke Yogyakarta, aku dan Bung Hatta menaiki kereta barang yang rusak dalam gelap demi menghindari razia tentara Belanda. Kau tahu, kadang diperlukan pengorbanan dalam mencapai sesuatu yang kita cita-citakan.”
Oh oke, baik jenderal!

Kemudian, karena domisili yang berbeda-beda --Rey dan Nanda dari Jakarta; saya, Gilang, dan Angga dari Purwokerto; Andre dari Solo; serta Robot dari Kyoto, Jepang--, kita sepakat untuk berkumpul di Lempuyangan, Jogja, Senin pagi, 24 Oktober 2011 pukul 07.00.
(bersambung)

***

Ketika Che Guevara menyelesaikan perjalanan legendaris yang dibukukan dalam “Motorcycle Diaries”, ia yang semula calon dokter berganti aliran menjadi Marxis yang revolusioner. Tak jauh berbeda, perjalanan “Train Diaries” kami ini telah mengubah kami menjadi hedonis-hemat yang tangguh. Well, ciayou, sampai jumpa di episode selanjutnya!!

0 comments:

Post a Comment