Nov 18, 2011

Bali, the train diaries (part 2)

Sebelum membaca postingan berikut, diharapkan membaca ini terlebih dahulu.
***

Setelah bersepakat untuk berkumpul, kami masing-masing menempuh perjalanan yang berbeda. menuju Jogja. Andre yang memutuskan ikut ke Bali pada saat akhir, telah berada di Jogja dari awal. Pasangan beruk dari Jakarta --Nanda dan Reyanda-- berangkat Minggu pagi menggunakan kereta ekonomi AC, Gajah Wong. Saya, Gilang, dan Angga yang sama-sama dari Purwokerto, setelah perdebatan panjang yang menguras tenaga dan pikiran, akhirnya memilih kereta ekonomi, Logawa. Perdebatan yang betul-betul nyata, karena kami harus mengadakan rapat akbar untuk menentukan sarana transportasi yang merangkul dua pihak --saya yang borjuis dengan Gilang dan Angga yang Proletar-- secara adil. Di saat terakhir, kira-kira Jumat sore, akhirnya saya harus rela mengalah menggunakan Logawa yang notabene adalah kereta sejuta umat. Saat mengalah itu saya tahu bahwa saya tengah mengamalkan Dasa Dharma pramuka nomor tiga: Proletariat yang sopan dan ksatria.

Pada Minggu sore, seluruh peserta perjalanan telah berkumpul di Jogja meski belum saling bertemu. Sebentar.. Seluruh? Sepertinya ada yang kurang.. Oh iya, Robot! Di mana Robot berada? Hingga pukul sembilan malam belum ada tanda-tanda kehadiran Robot. Kabar terakhir yang kami dapat, beliau sibuk melawan monster yang menyerang Tokyo Tower.

Sebelumnya, perlu diketahui, tim Purwokerto tiba di Lempuyangan sekitar pukul sepuluh pagi. Begitu tiba, kami memilih untuk membunuh waktu dengan jalan-jalan mengelilingi Jogja. Ya, jalan-jalan dalam arti denotatif: jalan kaki sejauh-jauhnya. Dari Lempuyangan berputar-putar  (baca: nyasar) hingga akhirnya terdampar Maliboro. Kemudian dari Malioboro saya dan Gilang yang masih kuat berjalan melanjutkan ke UGM. Kalau tak mengerti seberapa jauh rute yang kami tempuh, coba buka peta Jogja. Setelah tahu, silakan bayangkan kalian berjalan sejauh itu bawah sengatan matahari yang siap mematangkan telur dadar dalam tempo beberapa menit saja. Saat itu di mana Angga yang katanya setia kawan? Cih, dia asyik berpacaran dengan seorang pria paruh baya berinisial R. Hina.

Di UGM, kami beristirahat di kantin untuk membeli es buah sebagai pelipur dahaga. Kalian tahu nggak? Kantin UGM payah banget euy! Di sana teh tidak boleh bayar pake dollar, payah kan? Apa dosen-dosen di Universitas yang katanya terbaik di Indonesia itu tak pernah bilang ke penjual kantin kalau satu dollar itu senilai dengan delapan ribu lebih rupiah? Masa waktu saya bayar pake selembar duit sepuluh dollar ditolak sama ibu-ibu penjualnya. "Di sini nggak menerima dollar Zimbabwe mas," katanya. Duh mengecewakan. Jadilah saya terpaksa ke ATM untuk mengambil rupiah yang nilai kursnya kecil itu.

Sembari menghabiskan es buah dan menunggu Angga selesai berpacaran, saya menghubungi dua orang abdi dalem saya yang setia: mang Panjoel dan bik Mima. Kira-kira 15 menit kemudian mereka tiba. Yah,  meskipun kita beda kasta, tapi lumayan lah ada teman ngobrol, pikir saya. Angga dan pacarnya, Mr. R, datang sekitar setengah jam setelah saya dan Gilang menginjakkan kaki di kantin. Oleh karena mang Panjoel dan bik Mima masih harus membersihkan selokan Mataram, mereka mohon diri. Sebelum berpamitan, bik Mima secara sukarela meminjamkan motornya untuk saya pakai menjemput duo Beruk yang akan tiba. Bagus bik, bulan depan gajimu akan saya naikkan seribu rupiah! Baik kan majikanmu ini?

Oke, untuk mempersingkat cerita, setelah berjalan kaki ribuan kilometer dan bertemu puluhan siluman jahat yang mengganggu, akhirnya pada senja yang romantis itu kami berhasil menemukan Nanda, Reyanda, dan Andre. Pertemuan yang mengharukan ini tak lepas dari peran Bang Zac, mahasiswa STAN yang merangkap jadi mafia di daerah Godean dan sekitarnya. Berkat link mafia-nya juga enam tiket Sri Tanjung yang lumayan langka dapat kami peroleh dengan mudah. Tiket ketujuh milik Andre, yang memutuskan ikut perjalanan kami secara mendadak pada Minggu pagi, saya cari melalui pasar gelap lempuyangan. Di manakah itu? Entahlah, saya juga ngarang.

Karena belum ada kabar dari Robot, kami memutuskan untuk nonton bareng pertandingan Manchester United vs Manchester City di salah satu tempat yang menjual junkfood di daerah Soedirman. Pertandingan itu sendiri dimenangkan oleh Man.. Ah, nggak jadi deh.. Kalian pasti tahu hasil akhirnya. Robot sendiri akhirnya tiba ketika malam telah larut. Oh iya, FYI, nama asli Robot adalah Wildan Vanny XXX. Namun seperti dalam kisah-kisah kamen rider, beliau juga memilih untuk menyembunyikan identitas aslinya. FYI aja sih sebenernya.

Malam itu, kami menginap di Jogjanya Sultan.
Yen di eling-eling.. Yen di eling-eling..
Manise ora iso ilang..
Mlaku-mlaku neng Ngayogjokarto..
Lali omah lali wektu mrono konco mrene konco..
Rame-rame mampir ngombe umbar ngguyu..
(Tony Q - Ngayogjokarto)

Post Scriptum:
Terima kasih dan salam hormat saya untuk mereka yang telah kami buat repot selama episode Jogja, terutama untuk:
  • Bang Panjul dan Mima yang merelakan waktu sibuknya untuk mendatangi, meminjamkan sepeda motor, dan memberikan tumpangan tidur pada saya. Saya berhutang banyak pada kalian :)
  • Bang Zac yang mengikhlaskan dirinya menjadi pemesan tiket, tukang ojek, serta guide yang sangat baik
  • Mr. R --sebut saja Robi--, Sulaiman Anggalarang, Dania Lukitasari, dan Nor Islafatun, serta semua kawan yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu.
Tuhan bersama kalian, kawan!

2 comments: