Nov 29, 2011

Sebuah Percakapan Kecil yang Memuakkan

"Git, kegiatan apa yang kamu tengah tekuni saat ini?"

"Errr.. Entahlah. Aku sendiri tak tahu. Jika tak mau dibilang pengangguran, berarti saat ini aku adalah orang yang tengah menunggu kepastian. Kau sendiri?"

"Aku sibuk kuliah aja kok. Baguslah.. Orang sepertimu pasti segera mendapatkannnya. Oh iya, bulan depan datang ke tempatku ya."

"Loh memangnya ada apa?"

"Buku yang ku buat akan segera terbit. Kuharap kamu menghadiri peluncuran perdananya."

"Oh baiklah. Dengan senang hati.."

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Well, percakapan tersebut adalah hal memuakkan nomer seratus tiga puluh delapan koma lima selama tujuh tahun terakhir hidup saya.

(Makhluk bodoh mana yang tidak iri? Kawan saya terus produktif sementara saya hanya bisa menjadi manusia konsumtif yang terus menghabiskan Sumber Daya Alam. Oke, kau menang lagi, kawanku!)

Nov 18, 2011

Bali, the train diaries (part 2)

Sebelum membaca postingan berikut, diharapkan membaca ini terlebih dahulu.
***

Setelah bersepakat untuk berkumpul, kami masing-masing menempuh perjalanan yang berbeda. menuju Jogja. Andre yang memutuskan ikut ke Bali pada saat akhir, telah berada di Jogja dari awal. Pasangan beruk dari Jakarta --Nanda dan Reyanda-- berangkat Minggu pagi menggunakan kereta ekonomi AC, Gajah Wong. Saya, Gilang, dan Angga yang sama-sama dari Purwokerto, setelah perdebatan panjang yang menguras tenaga dan pikiran, akhirnya memilih kereta ekonomi, Logawa. Perdebatan yang betul-betul nyata, karena kami harus mengadakan rapat akbar untuk menentukan sarana transportasi yang merangkul dua pihak --saya yang borjuis dengan Gilang dan Angga yang Proletar-- secara adil. Di saat terakhir, kira-kira Jumat sore, akhirnya saya harus rela mengalah menggunakan Logawa yang notabene adalah kereta sejuta umat. Saat mengalah itu saya tahu bahwa saya tengah mengamalkan Dasa Dharma pramuka nomor tiga: Proletariat yang sopan dan ksatria.

Yang Penting Cerita, toh?

Barusan membuka blog seorang kawan ada postingan baru yang membuat saya tersenyum simpul. Seperti biasa, dia hanya posting di blog ketika ia tengah gundah. Semacam memberikan ruang khusus di dunia maya sebagai tempat membuang keluh kesah, melepas penat yang tak jua bosan hinggap. 

Padahal, ketika kubaca dari gelagatmu, yang seperti biasanya, hendak meminta bantuan, aku selalu menawarkan pertolongan. Akan tetapi, engkau enggan terbuka. Engkau selalu beralasan bahwa sifatmu yang introvert menjadikan dirimu tertutup dan memilih untuk memburu sunyi.

Nov 7, 2011

Ocehan di Suatu Malam Sederhana

Setelah mencomot beberapa potong pisang goreng buatan ibu yang masih hangat di rumah, saya bergegas menuju ke tempat kawan. Biasa, pengangguran yang tak produktif. Selagi menunggu pengumuman dari kampus, praktis hanya ada tiga hal yang saya lakukan: 1. main, 2. main, 3. main.

Oh oke, sepertinya saya ngelantur terlalu jauh.
Saat libur seperti ini, saya banyak bermain dengan kawan-kawan lama di dekat rumah. Sedikit bernostalgia dengan masa kecil. Saya ingat, dulu hidup saya begitu sederhana. Tak pernah saya memikirkan hal-hal berat macam ekonomi, statistika, atau sejarah. Masa kecil yang saya tahu terlalu mubazir untuk dihabiskan dengan bermain ponsel dan komputer, berselancar di dunia maya, atau debat kusir yang tiada guna.

Nov 4, 2011

Bali, the train diaries (part 1)

Many will call me an adventurer - and that I am, only one of a different sort: one of those who risks his skin to prove his platitudes.

Adalah Ernesto “Che” Guevara yang menulis surat pada orang tuanya, berpamitan untuk melakukan perjalanan yang ia tak tahu kapan berakhir. Ia bertualang di sepanjang Amerika Selatan bersama sahabatnya, Alberto Granado. Sebuah pengembaraan yang sangat “laki” kalau menurut salah satu iklan di televisi.

Beberapa hari lalu, saya, puluhan tahun sejak Che  mulai mengembara, melakukan petualangan yang tak kalah hebat bersama beberapa orang kawan --Reyanda, Nanda, Gilang, Angga, Robot, dan Andre-- : backpacking dengan rute Jawa-Bali. Oke, bagi banyak orang mungkin hal tersebut terdengar hiperbola dan menggelikan. Namun sungguh, naik kereta ekonomi selama belasan jam disambung dengan angkutan-angkutan murahan yang tak kalah melelahkan adalah sebuah hal mahaberat bagi saya, seorang borjuis kecil --menyitir pernyataan Munir mengenai mahasiswa-- salah satu Perguruan Tinggi Kedinasan terkenal di Indonesia.