Oct 7, 2011

Warkop, Sedikit Cerita

Waktu Jalan. Aku tidak tahu nasib waktu. – Chairil Anwar
Ketika hendak memulai tulisan ini, saya tengah berada di pojokan sebuah kafe di Purwokerto. Di meja saya terhidang coklat hangat yang diberi bonus sebuah biskuit, kentang goreng yang tersisa sedikit, dan laptop yang mengalunkan lagu-lagu dari The Beatles. Saya di sini sendirian, walaupun tentu saja di kafe tersebut ada banyak orang yang datang.  Kemudian saya bayangkan beberapa ratus kilometer arah barat dari sini beberapa orang tengah bercakap-cakap di sebuah warung kopi di kompleks perumahan Pondok Jaya, Bintaro.

***

Warkop Udin, begitu biasa orang-orang menyebutnya. Saya yakin nama warkop tersebut tidak terilhami dari Udin sedunia karena pemiliknya memang benar-benar bernama Udin yang sudah pasti lahir jauh sebelum Udin sedunia heboh beberapa waktu lalu. Warkop inilah yang tiga tahun belakangan menjadi pelabuhan ketika tak ada kerjaan. Nongkrong, ngopi, dan bercengkerama menghabiskan waktu. Apalagi di tahun terakhir. Rasanya warkop telah menjadi  rumah kedua setelah kosan. Kuliah? Ah, lupakan.

Saya ingat, suatu malam di bulan ramadhan, saya berada di warkop bersama Kukuh, Eran, dan Coro. Good Day Carebian Nut, roti bakar keju, dan beberapa buah gorengan menemani saya kala itu. Saya pikir, malam terlalu singkat untuk sekadar tidur dan menanti sahur. Duduk beberapa jam di warkop bersama sahabat adalah persoalan yang berbeda. Buang-buang waktu? Mungkin. Tak bermanfaat? Nanti dulu. Warkop adalah tempat pelacuran intelektual yang paling banal. Kau takkan pulang dari warkop sebelum mendapat informasi baru. Pernah suatu ketika Andre datang dengan membawa plastik besar berisi novel asing dan buku cara-mengakali-pasar-saham-dengan-baik-dan-benar, atau seperti itulah, dan buku lainnya ke warkop. Mungkin dia, yang disebut-sebut penerus Poltak Hotradero, ingin menggelar acara ABAM: Anda Bertanya, Andre Menjawab di warkop yang tentu saja tak boleh berisik karena letaknya berada di kompleks perumahan. Well, kalian tahu bahwa idealisme adalah kekayaan terakhir yang dimiliki oleh golongan muda.

Kemudian saya bayangkan saya berada di warkop, bersama beberapa orang kawan, beberapa saat, entah seminggu, sebulan, atau beberapa bulan yang lalu. Saya lupa. Lebih tepatnya, saya malas untuk mengingat dan menghitung kapan kali terakhir saya tertawa dengan mereka. Menyedihkan jika mengetahui kita susah mengulang momen yang sebenarnya ingin diulang, bukan? Dan untuk itu saya memilih untuk mengeja kembali kenangan-kenangan dalam warkop tanpa perlu melacaknya secara akurat.

Ya, terkadang kenangan memang terbentuk oleh hal-hal kecil. Seperti Mufti yang mengenakan seragam kebesarannya, jersey Manchester United, demi menonton tim kesayangannya bertanding; duet Adit dan Randy yang siaga di warkop demi mendengarkan sang pemilik curhat; Abenk yang selalu datang paling akhir karena harus menelepon pacar, yang, katanya, sekarang telah putus, terlebih dahulu; atau Wawan dan Akib yang terkadang bergabung meramaikan suasana.

Saya hanya bisa membayangkan.

Saya, yang tengah berada di kafe, sendiri, tak mungkin bisa merasakan keramaian seperti di warkop. Mungkin saya ingat, tapi tentu saja tak bisa kembali merasakan hal yang telah terlewat. Bahkan mungkin ingatan yang saya punya perlahan tercecer dan menghilang. Karena seperti potongan sajak Chairil Anwar di awal, kita takkan pernah tahu apa yang akan dilakukan oleh waktu.

Saya, yang telah resmi lulus kuliah beberapa waktu lalu, tentu tak bisa meminta waktu berputar kembali ke saat-saat saya menjadi mahasiswa, nongkrong di warkop tiap malam dan tertawa bersama kawan-kawan seperjuangan. Namun saya masih bisa meminta dan berusaha agar ingatan tentang kawan-kawan penghuni warkop yang saya miliki tidak pudar. Sampai detik ini, saya masih mencoba mengumpulkan kembali serpihan-serpihan kenangan dan mencatatnya agar kelak ketika saya baca catatan ini saya tersenyum sembari berkata, “saya pernah bersama mereka.”

Sounds of laughter shades of earth
are ringing through my opened ears
inciting and inviting me 
The Beatles - Across the universe

0 comments:

Post a Comment