Sep 24, 2011

Perjalanan Ini, Akhirnya..

Hari ini benar-benar buruk. Mood yang harusnya bagus setelah menerima pengumuman kelulusan mendadak turun drastis. Kenapa? Entah. Saya tak begitu suka mencari jawaban atas pertanyaan semacam ini. Biarlah kekalutan ini dinikmati tanpa harus mempunyai alasan.

Sebentar. Sebelum melanjutkan tulisan ini, saya akan mengutip lirik lagu "Sahabat Kecil" milik Ipang:
Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa di beli

Oh benar. Semalam ada acara "perpisahan" angkatan Pajak 2008. Sayangnya, hujan turun dan membuat acara sedikit terganggu. Saya sendiri, juga banyak yang lainnya, tak merasa acara tersebut gagal. Namun, di sini saya tak akan membahas masalah tersebut. Mari kita lanjut..

Setelah acara selesai, saya ngobrol-ngobrol dengan Yudi dan beberapa kawan lain hingga sekitar pukul 3 pagi. Bisa dipastikan, saya bangun siang - sekitar pukul 10. Itu pun karena ponsel berbunyi. Saya ambil ponsel, ternyata Kukuh mengirim sms yang, kurang lebih, berisi seperti ini:
Git, kita gak jadi ke Bromo. Coro gak bisa dan gw sakit. Jadi, nanti siang gw balik ke Bandung. Sampai jumpa di tempat wisuda.

Setelah sms itu, beberapa kawan juga menghubungi akan pulang ke daerah masing-masing dalam waktu dekat. Di sinilah momen sentimentil itu terjadi: ternyata hari ini datang juga. Hari di mana semua pulang ke daerah masing-masing dan harus berpisah. Bukan karena saling bermasalah, tetapi karena waktu kebersamaan telah habis. Karena masa belajar di STAN telah dilalui. Cepat. Memang. Dan, yang lebih memukul adalah bahwa kita tak pernah memikirkan perpisahan dengan baik hingga tanpa terasa perpisahan tersebut telah datang menghampiri kita.

Sampai detik ini, saya masih belum mampu menghadirkan perasaan ikhlas terhadap momen perpisahan ini. Saya masih tak dapat membuang perasaan "memiliki" kebersamaan yang terlanjur hadir. Kebersamaan yang mulai lahir saat kali pertama saya bertemu denganmu, kawan.

Lalu ingatan segar tentang kejadian-kejadian selama tiga tahun mulai bermunculan. Saya pun tersadar.
Tak ada lagi waktu di mana kita saling meminjam catatan dan mencari kisi-kisi menjelang ujian, waktu tertidur di tengah kebosanan mendengar penjelasan dari dosen, waktu berbuka bersama dan bepergian ke luar kota, dan waktu nongkrong di warkop dan berbagi tawa. Seorang kawan memang menghibur saya dan meyakinkan bahwa kita dapat berkumpul lagi. Akan tetapi, tak ada yang bisa sama lagi. Mungkin saat berkumpul kelak adalah saat wisuda, bersama orang tua, yang tentunya tak bisa berlama-lama. Mungkin saat berkumpul kelak adalah saat kita semua telah bekerja, di mana kita semua telah berubah menjadi pragmatis. Takkan ada ulangan atas semua hal yang terjadi dalam tiga tahun terakhir.

Saya menerawang ke langit-langit kosan yang sebentar lagi akan saya tinggalkan, kemudian menghembuskan nafas dengan kuat. Nafas yang menyempit, jantung yang mempercepat gerakannya, kantung mata yang mulai berisi air, dan.. Ah.. Membayangkan hal-hal tersebut makin membuat saya sulit menerima kehilangan. Sebab, tiga tahun masa pendidikan di sini baru saja terlewati. Tiga tahun terbaik yang pernah saya miliki.

Beberapa saat kemudian, saya menyalakan sebatang rokok. Untuk menenangkan diri, saya hanya dapat mengambil nukilan Joko Pinurbo:
Jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan.

0 comments:

Post a Comment