Aug 16, 2011

Kata

Aku heran. Kenapa cinta harus diungkapkan dengan kata-kata indah. Romantis, begitu orang bilang. Aku tak sepaham. Ada kalanya kata-kata hanya menjadi bunga. Indah tuk sesaat, namun dalam tempo beberapa saat ia akan layu, beranak sendu. Gombal, begitu aku bilang.

Kita semua, yang pernah mengalami cinta, pasti juga pernah merasakan sakitnya dibohongi oleh palsunya sebuah ucapan. Tak semua kata, apalagi kata cinta, benar-benar diucapkan dengan tulus. Sejarah berbicara, "permainan" cinta kerap kali dimulai oleh kata-kata yang berbalut dusta. Ingat?
Harus.

Memang sejak semula aku tak pernah setuju pada kata dalam cinta. Basi. Cinta yang bersembunyi di balik kata cuma punya borjuis brengsek, yang membodohi anak kemarin sore dengan hiasan bunga, atau cokelat, atau kado-kado serba mahal di pusat perbelanjaan. Kalau ada orang yang merasa sudah cukup senang ditembak gebetannya, dengan berjuta kata yang diambil dari kutipan-kutipan di internet, aku yakin ia cukup bodoh untuk mau ikutan reality show kacangan di televisi.

Oh, tentu saja aku tak bermaksud menihilkan peran kata. Kita, homo sapiens modern, tetap memerlukan kata dalam berkomunikasi. Masa prasejarah telah lewat, kawan. Kita tak mungkin bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa isyarat macam manusia purba. Aku hanya kurang setuju jika cinta yang merona harus disampaikan melalui kata. Oleh karena itu, aku lebih memilih mencinta dengan diam. Aku percaya cinta yang telah ditanam akan tetap subur walau didiamkan. Aku yakin cinta akan lebih mudah tumbuh dan berkembang dalam ruang yang cukup, tanpa perlu disesaki oleh kata.

Lalu, aku teringat nukilan dari entah siapa:

"....sesungguhnya kata mempersempit makna."

2 comments:

  1. asiiik..
    lama tak berkunjung ternyata banyak perubahan ini blog.
    saluut!!

    btw, agak bingung dengan judul blog ini "speak freely" dengan kata2 anda "....sesungguhnya kata mempersempit makna."
    agak bertolak belakang.

    ReplyDelete
  2. bicara itu gak mesti pake kata2 :P

    ReplyDelete