Jun 29, 2011

Kita

Plato yang termahsyur pernah berkisah tentang sebuah gua yang dihuni manusia-manusia tanpa hasrat. Mereka berpikir segala sesuatu yang mereka butuhkan sudah tersedia di gua tersebut sehingga mereka merasa tak perlu lagi mencari tempat yang lebih baik. Mereka tak pernah pergi karena takut kehilangan kenyamanan yang telah mereka dapatkan. Hingga suatu saat seseorang keluar dari gua dan….


Sayangku,
Aku pernah melewati waktu hanya berdua denganmu.  Aku dan kamu saja, tanpa orang lain. Aku suka menyebut kebersamaan ini dengan “kita”.  Satu kata sederhana, tetapi mempersatukan.
“ Terpujilah orang yang telah menemukan kata itu,” ucapku suatu hari.
Kamu hanya tersenyum.
Kamu, yang tak pernah tahu siapa itu Plato, pasti takkan sadar jika kita pernah berada dalam utopia yang sama seperti orang-orang dalam kisah Plato. Aku dan kamu berada di gua yang sederhana tapi menenangkan, dengan api unggun yang selalu menghangatkan, sekaligus menerangi kita.

***

Dulu kita sering membicarakan hal-hal yang ringan: sepatu baru yang kamu beli di pusat perbelanjaan, telepon genggam yang rusak karena kecerobohanmu, dan makan malam yang barusan kamu santap bersama ayah-ibumu. Sederhana, seperti sebuah gua, seperti konsep “kita” yang telah aku dan kamu sepakati. Namun, justru kesederhanaan itulah yang telah menemani hari-hari kita.

Aku dan kamu pernah menyesap secangkir kopi panas di malam yang dingin. Aku dan kamu pernah melewati pergantian tahun di bukit penuh bintang. Aku dan kamu pernah bercengkerama pada senja yang merona. Dulu.

Aku dan kamu.

Dulu.

Aku tahu konsep “kita” terlalu berat untukmu. Sejak awal kita berjumpa, kamu sudah memberitahukanku bahwa kita sangat berbeda dan tak mungkin bersatu. Jurang pemisah di antara kita terlalu jauh, katamu. Namun, aku tak pernah menggubris ucapanmu. Meskipun aku tak bisa bersamamu selamanya, setidaknya aku harus bisa menahanmu selama mungkin.
Sampai kemarin…

***

Memang benar bahwa segala sesuatu yang dipaksakan tak pernah bisa menjadi baik. Begitu pula dengan memaksa melebur aku dan kamu ke dalam “kita”.  Sekuat apapun aku menahanmu, lama kelamaan kamu pasti akan jenuh dan memilih untuk pergi. Kemarin kamu mengirimiku pesan singkat yang memecahkan kesunyian pagiku.
Maaf.
Mulai sekarang aku gak akan ganggu kamu lagi dengan berhenti menghubungimu. Bukan untuk melupakanmu, tapi melupakan “kita”.

Aku terdiam. Mungkin inilah saatnya kamu pergi, menghapus kata “kita” dan menggantinya dengan “aku” dan “kamu”. Konsep yang kita pertahakan selama ini harus dibuang karena kamu telah lelah. Kamu penat berada dalam gua yang kita huni dan memilih untuk keluar mencari mimpimu sendiri.

Tetapi, di sinilah aku. Di tempat yang sama seperti kemarin, bersama api unggun yang mulai padam. Aku tak ingin keluar mencari mimpi karena kamulah mimpiku yang sebenarnya. Lantas, untuk apa aku di sini ketika kamu telah memilih untuk pergi?
Entahlah, untuk “kita” mungkin.

0 comments:

Post a Comment